Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 30 (MASALAH)


__ADS_3

Satu tahun delapan bulan. Lewat tiga semester setelah tingkah aneh Alvin di kantin, kejadian hari itu selalu membekas dalam ingatan Arafah


Tentu saja. Ada beberapa pihak tidak bertanggung jawab yang merekam kejadian saat itu dan menyebarkannya ke seluruh penjuru kampus. Bahkan entah bagaimana caranya, video Arafah dan Alvin tersebar sampai ke grup whatsapp para dosen


Arafah awalnya sangat lelah selalu diceramahi tentang ia yang harus mementingkan kuliah daripada pacaran oleh dosen-dosen yang mengajar di kelasnya. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin kalau kata tersebut tidak ada dalam hubungannya bersama Alvin


Satu tahun tersebut mereka lalui dengan kisah yang tentunya tak semulus wajah Arafah. Perdebatan dan masalah tentu tak bisa dihilangkan dari sebuah hubungan


Seperti yang saat ini terjadi. Kedua remaja yang tak lain adalah Alvin dan Arafah, duduk saling berhadapan disebuah cafe kecil sepulang dari kampus


“Gue gak mau bahas ini Arafah dan lo tau itu” tegas Alvin yang terdengar lembut namun penuh penekanan


Arafah yang mendengarnya tertawa hambar “Terus yang mau Kak Alvin bahas apa?” mata gadis itu menatap Alvin menantang “Masalah ini gak bakalan lepas dari kisah kita dan Kak Alvin tau itu”


Lelaki itu memejamkan matanya untuk sesaat, berusaha menambah kesabaran yang hampir habis “Gue ngajak ke sini buat makan Fa, bukan buat jadiin ini tempat yang kesekian kalinya kita untuk berdebat tentang masalah yang sama”


Untung saja di dalam cafe tidak terdapat banyak pengunjung. Hanya beberapa orang yang terlihat masa bodo dan sibuk dengan urusannya sendiri


Mata Arafah memandang sendu pada Alvin “Maaf Kak. Aku cuma takut”


Pandangan yang selalu berhasil membuat Alvin merasa bersalah. Ia tersenyum hangat, ada keyakinan besar yang tersirat di sana


“Iya, gue tau. Kita punya ketakutan yang sama Arafah. Tapi kalau kita sendiri aja gak yakin sama akhir dari semua ini, gimana bahagia itu bakalan datang saat tau bahwa orang yang sedang berperan, hanya selalu memikirkan tentang akhir yang sad ?” tutur Alvin serius


“Kita makan yah. Cacing-cacing gue udah pada demo di pertigaan lambung. Entar khawatirnya mereka bakal keterusan demo sampai di hati” kata Alvin kemudian tersenyum receh “Kasian cacingnya yang jomblo kalau sampe tau seberapa besar rasa gue buat lo”


Ini yang Arafah senangi dari Alvin. Walau laki-laki yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah manusia sempurna tanpa celah, tapi dia selalu bisa membalikkan suasana yang semula tegang menjadi hangat seperti semula

__ADS_1


Seorang waiter datang menghampiri kala Alvin memanggilnya dengan gerakan tangan. Berdiri di samping meja dan siap mencatat pesanan pelanggan


“Mau makan apa?” tanya Alvin tanpa melepas pandangannya dari Arafah lantas kembali berbicara “Nasi goreng yang pedis banget tapi karena Alvino Bagaskara sayang banget sama Arafah Eliza, jadi nasi gorengnya yang biasa aja. Es teh satu tapi esnya lima biji aja. Ada lagi?”


Arafah menggelengkan kepala dengan senyum bahagia “Udah, gitu aja”


“Wokeh. Mba, pesanan yang saya sebutin tadi masing-masing dua porsi yah” Alvin beralih pada pelayan tersebut yang terlihat cengo di tempat


“Halo mba. Mba masih bisa dengar saya kan?” tangannya bergerak di depan wajah pelayan itu


“I..iya Mas. Saya ulangin yah pesanannya. Nasi goreng yang pedis banget tapi karena Alvino Bagaskara sayang banget sama Arafah Eliza, jadi nasi gorengnya yang biasa aja. Es teh juga tapi esnya lima biji aja. Semuanya dua porsi yah”


Alvin mengangguk mantap sementara Arafah hanya dapat mengagumi setiap hal mengejutkan yang selalu Alvin perlihatkan


“Lihatinnya kok gitu amat. Awas, entar tambah sayang loh” tanya Alvin seraya tersenyum hangat


Mata Arafah sontak membulat, menatap Alvin dengan serius “Kakak kenal gak sama Pak Gilang?” tanyanya yang dibalas anggukan cepat oleh Alvin “Kan tadi dia ngajar di kelas ku. Astaga sumpah, Pak Gilang ganteng banget habis nikah. Aura-aura sugar daddynya keluar tau kak”


Mendengarnya, Alvin sontak memutar bola mata malas. Ia tak lagi mau memandangi Arafah. Netranya ia fokuskan pada handphone yang menampilkan wajah keduanya sebagai wallpaper home


Gadis itu berpura-pura kesal “Kak Alvin kok cuekin aku sih?”


Alvin melirik Arafah sekilas “Yah lonya juga kaya ngajak gelud siang-siang. Gue tanya kelasnya, ceritain temen kek, pelajaran kek, apa kek terserah. Yang penting jangan cowok, pening pala gue dengar lo bahas cowok”


Dalam diamnya Arafah tersenyum puas. Berhasil melihat satu lagi sifat Alvin yang menurutnya cukup unik, pencemburu


Satu tahun lebih saling mengenal, cukup bagi mereka untuk saling mengetahui kepribadian masing-masing. Yang sama-sama memiliki celah tapi tetap berusaha untuk saling menutupi dan melindungi

__ADS_1


“Aku bercanda Kak” ucap Arafah geli “Sejak kapan selera aku jadi Papa-papa muda”


Alvin kembali pada posisinya semula, namun dengan wajah yang lebih tengil “Emang selera lo kaya gimana?”


Arafah nampak berfikir dengan memainkan jemarinya di atas meja “Kaya Sehun, Chanyeol sama Kainya Tiara kali”


Nafas Alvin melongos, kecewa mendapati jawaban yang sangat jauh dari ekspektasi “Penonton kecewa”


Saat Arafah tertawa geli, pesanan mereka datang. Ditata dengan serapi mungkin di atas meja, kemudian pelayan yang berbedapun segera berlalu setelah mengucapkan selamat menikmati


Wajah Alvin masih menyiratkan kekecewaan yang sama, membuat Arafah menggelengkan kepala melihat orang ini. Lelaki yang bisa terlihat dewasa dan kekanakan diwaktu yang sama


Seperti kebiasaan Alvin, ia akan memastikan Arafah makan terlebih dahulu baru ia juga akan ikut makan. Tapi kali ini Arafah tak kunjung juga menyendokkan nasi, ia hanya memandangi Alvin yang dibalas dengan menaikkan sebelah alis tebalnya


“Kenapa gak dimakan? Mau makan yang lain kah?” tanya Alvin heran


Baru saja ia ingin memanggil seorang pelayan, gerakannya sudah lebih dulu terhenti ketika mendengar pertanyaan Arafah


“Kak Alvin tadi nanya kan, gimana selera aku?”


“Iya”


Arafah tersenyum tulus “Aku suka yang lokal kok. Kan ada motto, cintailah produk dalam negeri. Jadi aku udah mutusin buat suka sama cowok di depan aku ini”


Alvin diam, terperangah. Ia menunjuk dirinya sendiri “Gue maksud lo?” tanya Alvin terdengar polos


Sontak saja Arafah memutar bola mata malas “Bukan, mas-mas yang jaga pintu masuk di sana maksud aku”

__ADS_1


Kesal Arafah kemudian mulai memakan sajian di hadapannya. Alvin tak bersuara. Namun dalam diam, seulas senyum malu-malu nampak dari bibirnya


__ADS_2