Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 43 (SATUTUS BARU)


__ADS_3

Semudah inikah Tuhan membolak-balikkan hati? Mengubah perasaan seseorang dalam sekejap mata. Setidaknya itulah yang Arafah rasakan saat ini


Ternyata hati terlalu sulit untuk ditebak apa maunya. Ia bagai kefanaan yang sedang mencari nyata dalam setitik hampa yang kosong


Melaui berbagai macam hambatan rasa untuk sampai pada titik ini. Titik dimana hati telah menemukan secercah harapan di hadapan lelaki ini


Baru kemarin ia mendeklarasikan tentang usaha move-on dari sosok Alvin tapi laki-laki itu kembali hadir dengan membawa kalimat yang masih susah dipahami olehnya


“Ajari aku Islam Fa”


Deretan kata yang membuat badan Arafah kaku membatu seketika. Dunianya seakan berhenti berputar saat ini juga


“Bantu aku mengenal agamamu lebih dalam lagi Fa” ujar Alvin memecah keheningan sesaat


Jika saja saat ini merupakan hari-hari seperti biasa, tentu saja kata “aku” dan “kamu” yang terlontar dari Alvin akan menjadi tanda tanya besar bagi Arafah


Namun sekarang bukanlah moment yang tepat untuk melakukan itu. Arafah masih diam di tempatnya seraya menatap dalam mata cokelat Alvin


Alvin membiarkan gadis di hadapannya untuk mencerna baik-baik kalimat yang baru saja dengan lantang ia katakan


Cukup lama Arafah termenung dalam diam, sampai kesadarannya mulai datang kembali. Membawa Arafah pada kenyataan yang masih terlihat membingungkan


”Kak Alvin jangan bercanda. Masalah hati gak cocok jadi sesuatu yang bisa Kak Alvin bercandain” cicit Arafah pelan “Hati terlalu sensitif untuk diperminkan. Takutnya entar malah jadi mati rasa”


Memilih untuk memikirkan jalan terburuk ketimbang berangan tentang surga yang seakan sedang dijanjikan dengan sangat menggiurkan oleh Alvin


Alvin tertawa renyah “Aku lagi gak bercanda Arafah” ia kembali memposisikan kotak cincin itu setelah sebelumnya menurunkan sedikit “Kamu mau jadi istri aku?”


Perkataan tegas Alvin membuat Arafah semaki tidak berkutik. Bisakah Arafah mengambil kesimpulan jika Alvin berniat untuk mengetahui tentang agamanya dan akan berakhir dengan Alvin yang mempunya kepercayaan yang sama dengan Arafah?


Melihat Arafah yang nampak ragu, Alvin kembali angkat suara “Kamu udah gak punya rasa sama aku?”

__ADS_1


Arafah menggeleng cepat, tapi setelahnya memukul pelan puncak kepalanya. Merutuki kebodohannya sendiri yang tanpa fikir panjang segera memberi jawaban


Alvin yang melihatnya menarik senyum manis “Berarti masih sayang dong?” godanya yang sukses menghadirkan rona kemerahan pada pipi Arafah


“Gak usah sok-sokan nanya deh kalau udah tau jawabannya” sahut Arafah ketus, berusaha menutupi luapan-luapan hatinya


Ia menyodorkan kotak putih ditangannya pada Arafah “Berarti mau terima cincin ini?”


Gadis itu nampak berfikir sebentar “Kalau aku terima? Nikahnya bukan sekarang kan?” tanya Arafah yang sedang berjaga-jaga


Pertanyaan polos dari Arafah membuat Alvin tak bisa menahan tawanya “Ya enggak sekarang juga lah Fa. Aku gak lama lagi yudisium terus wisuda, yang pasti akunya harus selesai S1 dulu” ujar Alvin lembut


Arafah mengangguk pelan sebelum kembali memberi Alvin pertanyaan “Tapi kalau aku bilang mau selesai S1 juga baru nikah. Kak Alvin gimana?”


Alvin yang ditanya seperti itu nampak berfikir sebentar “Aku sih gak papa. Asal jangan kalau udah S1 malah bilang tunggu selesai S2 dulu, terus udah S2 bilang lagi nunggu S3 selesai lagi. Keburu jadi perjaka tua aku” tutur Alvin


“Tapi aman sih. Orang ganteng mah mau setua apapun pasti tetap laku” katanya yang diakhiri kekehan pelan


“Iya dong, kaya ganteng aku. Gak bakal bisa luntur” balas Alvin tak mau kalah


Keduanya larut dalam waktu seraya tertawa meluapkan beban masing-masing. Seakan melupakan masalah kemari yang baru saja melanda


Membiarkan waktu dan takdir yang membereskan semuanya. Tertawa puas tanpa beban dan semudah itu membiarkan segala resah yang menganggu untuk segera hilang


Cukup lama mereka tertawa bersama, merindukan moment seperti ini. Alvin kembali menatap netra hijau Arafah


“Gimana Fa? Mau gak nikah sama aku?”


Arafah berdecak pelan “Bisa gak sih ajak nikahnya serius dikit? Jangan kaya lagi ngajak orang makan cireng pinggir jalan”


“Ya udah. Arafah Eliza Putri Handoko, kamu mau jadi istri dari lelaki bernama Alvino Bagaskara yang gantengnya gak ketulungan ini?”

__ADS_1


Seraya tertawa bahagia, Arafah mengangguk mantap “Aku mau” mengulas senyum menawan


“Kak Alvin juga gak perlu nunggu aku selesai S1, aku masih bisa kuliah kok walau udah nikah sama Kakak. Kan lumayan, ada yang biayain” kekeh Alvin


Alvin berteriak kesenangan dan hampir saja kelepasan untuk memeluk gadis di hadapannya namun segera menyadarkan dirinya kembali


Ia memutar pandangannya seakan sedang mencari-cari sesuatu “WOI. LO YANG LAGI MAKAN CILOK. SINI DULU”


Arafah mengikuti Arah pandangan Alvin. Perempuan dengan rambut yang terurai sedang menunjuk dirinya sendiri “SAYA KAK?”


“YOI”


Gadis itu berjalan pelan ke arah Alvin dan Arafah dalam kebingungan yang melanda. Saat tiba di hadapan keduanya, ia menatap bergantian kedua orang ini


“Ada yang bisa saya bantu Kak?” tanyanya pelan


Alvin mengangguk “Ada” ia menyerahkan kotak putih dari tangannya kemudian menunjuk Arafah menggunakan ekor matanya “Pakein ke calon istri gue. Belum muhrim soalnya”


Di tempatnya duduk. Arafah kesemsem, senyum-senyum sendiri mendengar Alvin. Membiarkan jari manisnya dipasangi cincin berhiaskan berlian kecil


Setelah wanita itu pergi, Alvin menghadap Arah yang tersenyum bahagia “Gimana? Suka sama cincinnya”


“Iya suka. Suka banget”


“Lebih suka mana? Cincinnya atau yang ngasih cincin ini” goda Alvin seraya tersenyum manis yang memperlihatkan lesung pipi cukup dalam


“Lebih suka yang ngasih dong” jawab Arafah mantap kemudian terkekeh


Keduanya tersenyum bahagia. Alvin masih betak dalam posisinya, menatap Arafah yang sudah menembus jauh masuk ke dalam hatinya


“Walau kamu bukan gadis pertama dalam hidup aku. Tapi aku bisa pastiin kalau kamu bakal jadi gadis terakhir dalam sejarah hati ini. Asal kamu gak pergi, aku bisa pastiin hal itu”

__ADS_1


__ADS_2