
*Untukmu, Alvino Bagaskara
Pemilik tatapan teduh yang selalu memandangku hangat. Lelaki yang sempat mengizinkanku untuk menjadi sepotong kisah dari kasihnya dan lelaki yang sebentar lagi akan mengucapkan janji suci bersama Tiara, sahabatku
Awalnya aku bingung harus bagaimana saat mendengarnya, duniaku terasa seperti kehilangan porosnya untuk berputar
Kecewa dan takut menjadi rasa yang tak pernah rela melepaskanku. Aku terlalu takut kak, takut tak bisa menghadapi semuanya
Kisah ini terlalu sakit untuk kuterima, tak pernah kuduga bahwa akan begini akhirnya. Ternyata sakit sekali
Kak. Kak Alvin. Boleh aku cerita sedikit?
Saat mendengar berita lamaran Kakak untuk Tiara, ingin sekali aku mengatakan bahwa aku masih mencintaimu, ingin sekali aku berteriak di depanmu bahwa aku tak akan bisa mengikhlaskan semua yang terjadi
Hatiku membeku sejak hari itu. Tak ada lagi rasa yang bisa kupertahankan selain kecewa dan takut yang membayangi hari kelamku
Bahkan aku sempat berpikir Kak, bahwa semua yang terjadi padaku sangat tidak adil. Aku terlalu menderita saat itu
Tapi baru kupaham sekarang, bahwa ini jalan yang Allah beri atas semua gelisah yang selama ini kupikul seorang diri
Kak. Undanganmu sudah kuterima, warnanya monokrom. Sangat cantik, pasti keinginan Tiara. Dia sangat menyukai perpaduan warna tersebut
Maaf. Aku tidak bisa datang dihari bahagiamu. Hatiku tidak sekuat itu, aku takut akan hancur tak berbentuk jika mengunjungimu
__ADS_1
Aku takut akan merusak hari bahagiamu saat hatiku sudah diselimuti gelap, aku takut bila nanti akan semakin sulit melepasmu
Namun tak usah takut, seiring dengan Tiara yang sangat cantik melangkah ke altar pernikahan kalian hari ini. Seiring dengan senyumanmu yang masih sama hangatnya
Ditemani oleh tangisan yang masih tak bisa kutahan, aku mengikhlaskanmu
Walau kutahu kau pasti akan melakukannya, aku tetap ingin mengatakan ini sebagai sahabat Tiara. Jaga dia, dia perempuan baik dengan sifatnya yang unik, sayangi Tiara dengan semua kasih yang kamu punya
Terima kasih untuk kisah kasih senja yang pernah kurasakan
Hidup bahagia Kak
Tertanda, Arafah Eliza
mengikhlaskanmu*
Dengan pelan, ia melipat kertas putih yang sudah terisi oleh tinta hitam itu. Melipatnya menjadi bagian kecil
Arafah bangkit berdiri. Memasukkan suratnya ke dalam kotak kecil. Meletakkan di bagian atas gelang pemberian Alvin
Sama sekali tak pernah berniat mengirimkan surat tersebut kepada Alvin. Hanya ingin menjadikannya sebagai titik kecil dalam kisah yang pernah mereka jalani
Arafah tak kuat, ia jatuh meluruh. Menangis sesunggukan dengan kedua tangan yang memeluk lutut
__ADS_1
Sakit sekali, terasa dihantam beban yang langsung mengunus jantung. Dadanya terasa sangat sesak, sulit bernafas
Isakannya semakin kencang keluar. Berat sekali rasanya, terlalu sakit untuk mengingat semua yang telah terjadi
Arafah ikhlas. Arafah mengikhlaskan semua yang telah terjadi
Kisahnya dan Alvin telah benar-benar berakhir. Tak ada lagi tawa dan bahagia untuk kasih senja itu
Semuanya telah hancur tak berbentuk
Ia ingin menjadikan tangisannya hari ini sebagai luka terakhir yang akan dirasanya
Mata sembab itu menatap layar laptop yang menampilkan adegan Alvin mencium sayang kening sang pengantin wanita
Beralih pada undangan monokrom yang tergeletak di atas bantal, menampilkan nama pasangan yang sama sekali tak pernah terlintas di dalam benaknya
ALVINO BAGASKARA
AND
__ADS_1
ANGELINA TIARA MAHKOTA RAZAK