
“Cantik bener lo Fa” pujian itu meluncur begitu saja dari mulut Adit yang duduk selonjoran di teras
Arafah tersenyum tipis “Makasih kak”
Sontak saja Alvin menatap tajam Adit yang hanya dibalas dengan cengengesan tidak jelas “Eh Gita sama Tiara juga cantik banget, kaya cewek” kata Adit menatap secara bergantian dua gadis yang dimaksud secara bergantian, mencoba mengalihkan pembicaraan
“Gak usah dikasih tau kak, udah tau dari lahir gue” Tiara dengan sombong mengibaskan rambut kecoklatannya yang ia urai dengan hiasan jepitan kecil di sudut kanan
Adit membalas denan mengangguk-angguk malas “Iya iya, tau kok yang cantik. Apalah daya gue yang ganteng”
“PD banget bang” sindir Gita yang sedang mengunci rumah
“Emang gue gak ganteng?” terdengar nada kecewa dari bibir Adit, ia mununggu jawaban dari seorang gadis berhijab pastel yang tengah memunggunginya
Gita berbalik, menatap lekat mata kebiruan Adit “Ganteng sih”
Dipuji seperti itu oleh Gita tentu saja membuat Adit bersorak senang “Kan. Apa gue bilang Al? Gak bakal ada yang bisa hindarin pesona seorang Ardhi....”
“Kalau dilihat dari lubang sedotan” sambung Gita tanpa dosa kemudian menarik tangan Tiara serta Arafah untuk masuk ke dalam mobil yang terparkir rapi di depan rumah
Menepuk pelan bahu Adit, sebelum melenggang masuk mengikuti Arafah dan sahabatnya. Alvin menyempatkan diri untuk berbalik “Sabar yah Dit. Positiv thingking aja, mungkin si Gita gak suka sama lo”
“Gue harus bereaksi kaya gimana nih? Seneng apa cemberut kyut?” Adit bergumam pada diri sendiri sebelum suara klakson mobil membuat ia melangkah meninggalkan rumah sederhana itu
Baru saja Adit menutup pagar rumah ketiga gadis itu, Alvin tanpa dosa memencet beberapa kali klakson mobil hingga membuat lelaki yang masih berada di luar mobil Alvin terlonjak kaget
“BANGKE LO” umpatnya dengan sangat keras, sebelum masuk dan duduk dibangku kemudi
“BWAHAHAH. ABSURD BANGET MUKA LO KAK WAKTU KAGET, KAYA ORANG HABIS LIAT MANTAN” Tiara terbahak dengan sangat keras, hingga membat perutnya sakit
Gita mengelus dada terkejut “Ya Allah ini anak kalo ketawa puas banget. Ingat umur Ra”
“Napa? Gua masih 17 tahun yah”
__ADS_1
“Lo? 17 tahun? Gak percaya gue” ceplos Adit yang sedang menyetir
Si gadis berjepit rambut, mendelik kesal “Apa? Mau bilang muka gue kelihatan lebih tua dari umur?”
“Enggak. Lo keliatan kaya masih umur lima minggu empat hari” tutur Adit yang menyempatkan diri untuk melirik wajah Tiara, bertambah kesal atas perkataanya
“Emang kakak, yang kelihatan kaya om-om pedo umur 50an”
Sementara Tiara dan Adit yang terus saja berdebat serta Gita yang asyik menyimak perdebatan. Alvin memutar badan dan kepala ke arah kiri. Melihat seorang gadis berhijab dengan pipi kemerahan
Sadar bahwa sedang diperhatikan, Arafah menghentikan tawanya “Kenapa kak?” tanyanya agak canggung
“Lo cantik” kata Alvin tanpa melepas pandangannya
Pujian dari Alvin terasa berbeda dengan pujian-pujian yang selama ini tertangkap inderanya. Tanpa bisa Arafah kontrol, detakan tak normal itu kembali menyerang
---------
Setelah mengulang pesanan kelima orang di meja itu, si pelayan perempuan yang terciduk beberapa kali memandang kagum Adit dan Alvin segera pergi
Setelah perdebatan panjang yang cukup lama di dalam mobil, memilih antara restoran Jepang atau restoran Korea. Mereka berakhir di restoran Italia. Jalan tengah yang dipilih Arafah dan tentu disetujui Alvin
“Padahal gue lagi mau makan tteokbokki” kata Tiara yang dibalas anggukan setuju oleh Gita
“Gak usah sok merasa dirugikan lo, gue juga pengen banget makan sushi. Tapi gara-gara lo malah makan daging sapi lagi” celetuk Adit yang duduk di samping Alvin
Alvin dan Arafah hanya tersenyum serta tertawa menaggapi perdebatan yang kembali terjadi. Hingga tak sadar Alvin menyenggol dompet kulitnya sampai terjatuh
Melihat benda itu tergeletak dilantai. Refleks membuat Arafah menunduk untuk mengambil dompet lelaki yang duduk di depannya
Tanpa sengaja dompet itu terbuka. Pandangan Arafah menangkap foto seorang perempuan dengan rambut terurai didalamnya, namun belum sempat ia melihat jelas foto itu. Dengan kasar, Alvin menarik dompetnya dari tangan Arafah
“Siapa dia kak?”
__ADS_1
Entah apa yang mendorong Arafah untuk bertanya dengan nada sedemikian datar. Bisa jadi karena wajah lembut Alvin berubah menjadi seperti saat ia pertama kali melihat paras itu. Datar dan tegas
“Bukan urusan lo. Kita belum sedekat itu sampai lo harus tahu segalanya tentang gue” pandangan Alvin semakin menjurus tajam tepat dimanik mata Arafah
DEG
Arafah tersenyum miris “Gara-gara cewek itu, kakak larang aku baper sama kak Alvin?”
Suasana mencekam seketika, untung saja Alvin memesan ruangan private untuk rencana makan siang hari ini. Ketiga orang yang masih duduk dikursi masing-masing tak ada yang berani melerai dan angkat suara
Hening, Alvin tak menjawab pertanyaan Arafah. Namun pandangannya tak kunjung melunak, ada rasa tidak suka dalam hati Alvin ketika Arafah melihat dia
“Jadi betul gara-gara dia. Kalau kak Alvin suka sama cewek lain, kalau kak Alvin larang aku baper sama kak Alvin. Seharusnya kakak sadar, kenapa aku bisa baper sama kak Alvin? Aku gak sekokoh yang kak Alvin pikirin. Aku gak sekuat itu untuk menjaga hati” pandangan Arafah lurus menatap Alvin
Inilah akhirnya, ia merobohkan ego dan membuka kartu asnya sendiri. Menyatakan bahwa ia telah jatuh dalam jebakan hati Alvin
Tatapan tajam itu akhirnya meredup, ia menghela nafas pelan. Sangat terkejut mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Arafah
Alvin bingung, ia harus apa sekarang. Senangkah atau sebaliknya? Keraguan masih mendominasi perasaannya saat ini
“Antar Arafah pulang kalo lo udah makan Dit”
Setelah mengucapkan itu, tanpa menoleh sedikitpun. Alvin berlalu keluar dari ruangan private itu. Meninggalkan Arafah yang memendam kecewa besar
Tentu saja Arafah sadar bahwa Alvin tak salah. Ini hanya karena dirinya yang memiliki keingintahuan terlalu besar
Namun ia merupakan tipikal orang yang sangat tak bisa menahan rasa penasaran. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Arafah menyesali perkataannya
Terlalu gegabah ingin tahu masalah personal Alvin yang baru ia kenal tak lebih dari satu minggu. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Arafah
Tentang Alvin yang pasti akan ilfeel dengan sikap kurang baik dan Arafah
“Arafah ******”
__ADS_1