Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 29 (SUAP)


__ADS_3

Keheningan di sana membawa Alvin pada kesadaran bahwa ia benar-benar telah jatuh kepada Arafah. Gadis berumur 18 tahun yang sukses besar meruntuhkan tembok kokoh yang sudah sejak lama ia bangun


Berusaha kuat agar pertahanannya tak dapat digoyakan oleh siapapun itu. Namun gadis berhijab ini datang, tanpa melakukan apapun ia membuat Alvin kembali merasakan rasa menenangkan ini


Seulas senyum tipis terlihat dibibir Alvin yang sedang sibuk melihat-lihat postingan instagram Arafah. Cukup banyak foto wanita itu di sana, mulai dari yang mengenakan pakaian sekolah, pakaian santai, sampai dengan postingan-postingan tentang Arafah yang mempromosikan banyak barang


Gadisnya ini ternyata seorang selebgram dengan pengikut di instagram sebanyak 780.000 lebih orang, sementara yang ia ikuti tak sampai dari 1.000 akun


Fokus Alvin jatuh pada postingan Arafah yang sedang menggenggam erat tangan seseorang. Dari modelnya saja, ia langsung bisa menebak jika itu adalah tangan milik seorang lelaki


Love you so much Papa


Begitu keterangan dalam foto yang tengah menjadi fokus Alvin. Tangan Arafah terlihat sangat mungil dalam genggaman lelaki yang ia panggil Papa


“Eunghh” erangan Arafah membuat Alvin dengan gecatan mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut


Merasa bahwa mungkin Arafah merasa terganggu dan dapat kembali tertidur dengan usapannya. Namun Arafah dengan perlahan segera mengubah posisinya menjadi duduk tegap


“Udah gak ngantuk” lapornya dengan suara parau khas orang bangun tidur


Pandangan gadis itu jatuh pada tangan Alvin yang masih berada di tempatnya “Tangan Kak Alvin pasti pegel”


Gelengan yang diberi Alvin membuat Arafah mengerucutkan bibir kesal “Gak boleh bohong, entar keseringan”


“Gak pegel sama sekali Arafah”


Ucapan Alvin sangat berbanding terbalik dengan perilakunya. Ia menggunakan tangan kiri untuk menurunkan tangannya yang lain dari meja


Arafah berdecak kesal “Katanya gak pegel sama sekali”


Alvin tersenyum lebar “Emang gak pegel” memandang Arafah dengan lesung pipi yang sangat mempesona “Cuma mati rasa aja”

__ADS_1


Seketika itu juga Arafah merasa bersalah “Aku tidur berapa lama?”


“Gak lama, cuma sejam”


Arafah membulatkan mata tidak percaya atas apa yang dilakukan Alvin. Baru saja Arafah ingin mengeluarkan suara, Alvin segera berdiri


“Ayo makan siang bareng gue. Kata teman lo, usai dzuhur ada kelas lagi” Alvin melirik jam dipergelangan kirinya “Masih ada 30 menit, ayo cus”


Tanpa banyak protes, Arafah berjalan di samping Alvin. Mendapati berbagai macam jenis tatapan yang teman kelasnya tujukan tanpa suara, bahkan teramat hening. Hanya derap langkah keduanya yang terdengar


Semua orang yang berada di dalam kelas, telah diberikan tatapan tajam dan penuh ancaman ketika mereka mengeluarkan suara sedikit saja. Membuat mereka tak berani dan ada yang memilih untuk mencari tempat lain untuk berbincang


“Sini duduk” Alvin menarik sebuah kursi kantin terdekat dari kelas Arafah “Mau makan apa? Biar gue yang antri” tanyanya saat Arafah sudah duduk anteng


“Terserah Kakak aja”


Alvin menghela nafas kasar dan menatap dalam manik gadis di sampingnya “Terserah versi gue cuma ada dua, kerikil tumis atau balado batu. Mau yang mana?”


Gadis itu terkekeh geli, kemudian netra hijaunya mengamati setiap gerobak yang di dalam sana “Nasi goreng aja Kak, tapi yang pedis banget yah” ucap Arafah saat melihat di tempat nasi goreng tidak terlalu banyak yang antri


Setelahnya, Alvin melesat dengan cepat. Fokus Arafah tertuju pada lelaki itu yang katanya sedang berjuang


Astaga. Beginikah berjuang nasi goreng versi seorang Alvino Bagaskara? Lelaki itu mencoel satu demi satu pundak orang di depannya


Arafah dibuat tertawa sendiri sebab pemandangan yang ia saksikan. Jika yang dicoel adalah perempuan, maka ia akan langsung memberikan tempatnya dengan sangat sumringah. Tapi berbeda jika orang itu adalah laki-laki, mereka akan mundur dengan wajah yang masam


Alvin datang membawa sebuah nampan yang berisi dua piring nasi goreng, dua gelas teh hangat dan sebotol air mineral


Ia meletakkan satu piring di depan Arafah, membuatnya tersenyum lebar ketika melihat makanan di depannya yang terlihat sangat menggiurkan


“Gak usah senyum segala. Tuh makanan maunya dihabisin, bukannya malah dilihat sambil senyum-senyum” ucap Alvin “Mending senyumnya buat gue aja” lanjut Alvin menggoda

__ADS_1


Ucapan Alvin sudah tak dihiraukan olehnya. Arafah mulai memasukkan sesendok ke dalam mulut, menunggu sensasi meledak karena pedis yang akan dirasa oleh lidahnya. Namun ketika tidak mendapatkan apa yang ia tunggu, gadis berhijab itu memberunggut kesal


“Udah kenyang” tangannya bergerak untuk mendorong piring di depannya agak menjauh


Andai saja saat ini yang duduk di depan Alvin bukanlah Arafah. Sudah pasti ia akan memberikan tatapan sinisnya


“Makan Arafah. Kata Gita, tadi pagi lo cuma makan roti” kata Alvin seraya tangannya kembali mendekatkan piring Arafah


Gadis itu menggeleng “Gak mau. Nasi gorengnya gak pedis, hambar”


Alvin membuang nafasnya agak kasar “Perut lo itu lagi sakit. Terus mau makan pedis? Udah deh, gak usah tambah-tambah penyakit” ia melirik sekilas pada Arafah yang menunduk “Mending tambah sayang aja sama gue. Gue mau kok disayang-sayang. Hehe” lanjutnya dengan sangat receh


Tak ada tanggapan seperti biasa yang diperlihatkan olehnya. Ia masih setia dengan posisinya yaitu menunduk, menatap lantai


“Makan sendiri atau gue suap?”


Seulas senyum jahil terbit dibibir Arafah kala mendengar perkataan bernada ancaman dari Alvin. Ia menatap dengan berani manik lelaki itu


“Suap” jawabnya dengan yakin


Ia fikir respon yang akan diberi Alvin adalah menolak atau setidaknya terkejut. Rupanya Arafah salah besar


Tanpa perlu berfikir dua kali, Alvin menggeser piringnya dan membawa piring Arafah untuk mendekat. Membuat Arafah kelimpungan sendiri di tempatnya ketika Alvin mulai melakukan kegiatannya


Sesendok nasi sudah berada tepat di depan bibir Arafah “Aaaa” kata Alvin yang justru membuka mulutnya seperti ia yang akan makan


Arafah menutup kedua matanya menggunakan sebelah telapak tangan kala menyadari semua tatapan tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak, Alvin justru meliuk-liukkan sendok itu seperti sedang menyuapi anak kecil


“Aaaa. Pesawatnya udah mau datang Fa, buka mulut”


“Cepetan Arafah, entar pesawatnya keburu kecelakaan. Ini pilotnya udah pegel banget sumpah”

__ADS_1


Ya Tuhan. Hilangkan Arafah segera dari tempat ini sekarang juga. Bagaimana bisa Alvin bertingkah seajaib ini? Sekarang Arafah percaya bahwa


WAJAH TAMPAN TAK MENJAMIN KEWARASAN SESEORANG


__ADS_2