
Senja pada hari minggu selalu menjadi kesukaan Arafah. Menatap hamparan langit yang diwarnai rona jingga, sungguh menawan
Namun minggu Arafah kali ini tidak hanya ditemani oleh Tiara dan Gita. Entah apa yang membawa Alvin datang ke rumahnya saat adzan maghrib baru saja berkumandang
“Shalat dulu Fa. Aku ada yang mau diomongin” pinta Alvin, wajahnya terlihat lelah
Arafah menyadari jika ada sesuatu yang sedang menanti di depan sana. Mencari waktu yang tepat untuk membawanya pada kata ragu
Ia maju selangkah, mendekati Alvin yang baru saja turun dari motor. Berusaha menguatkan hati “Nama Kakak selalu terselip di doaku, bahkan sebelum Kak Alvin minta itu” menatap dalam lautan mata Alvin “Jangan berubah” ucapnya sedikit egois
Kalian tidak tau bagaimana hari-hari Arafah selalu dihantui oleh bayang-bayang dimana Alvin akan ragu atas apa yang telah dipilihnya. Arafah takut jika semuanya akan menjadi kenyataan, ia tak mau kehilangan. Lagi
Alvin tak menanggapi permintaan gadis di hadapannya. Ia mengalihkan pandangannya pada Gita yang berdiri di samping Tiara
“Ta. Bawa Arafah masuk, kalian maghrib dulu”
Tanpa perlu diminta dua kali, Gita merangkul Arafah yang menatap tidak percaya pada Alvin. Hatinya semakin was-was akan apa yang sudah menanti
Ketakutan itu semakin menghantam bertubi-tubi pada kepercayaan Arafah. Ia ingin egois, Arafah harus egois. Ia tak akan mau melepaskan Alvin
Tidak mendapati balasan seperti beberapa hari yang lalu, membuatnya memutuskan untuk menjadi egois. Arafah harus menjadi pribadi yang berbeda
“Masuk Kak” Tiara berseru pelan
Menyadarkan Alvin yang tadinya terus menatap punggung Arafah menjauh. Ia membuang nafas kasar, duduk di dekker. Tak menghiraukan perkataan Tiara
“Duluan aja Ra. Kalau Arafah udah selesai shalat, minta dia buat keluar” ujar Alvin seraya menatap Tiara yang hanya mengangguk sebelum masuk meninggalkan Alvin
Dalam kesendirian, Alvin menjatuhkan wajahnya di atas paha. Terlalu lelah atas apa yang sedang ia tanggung. Pusing menghadapi hati yang tidak sinkron dengan keinginan
Ia bahkan sampai tak bisa mengimbangi antara merevisi skripsi dan memikirkan Arafah. Otaknya seakan hanya diisi tentang Arafah, segala tentangnya
Sampai Alvin tak bisa lagi memendamnya seorang diri, ia memutuskan untuk mengunjungi Arafah yang nampak memahami apa yang sedang dirasanya
Alvin mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada pagar, kaki panjangnya ia biarkan mengisi seluruh ruang dekker
Menunggu kedatangan Arafah seraya merangkai kata-kata yang dapat menjelaskan semua penatnya tanpa melukai perasaan gadis itu
__ADS_1
“Kakinya geserin, aku mau duduk” seru Arafah yang sudah berdiri di samping Alvin
Segera ia memberi bagian untuk Arafah tempati. Matanya tak pernah lepas memperhatikan segala gerak-gerik gadis berhijab ini
“Aku udah boleh ngomong?’” Alvin bertanya saat Arafah tak lagi angkat bicara
Ia hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan tanpa menatap sang pelempar tanya. Alvin menarik nafas panjang
Sempat merasa takut untuk bicara, takut melukai perasaan gadisnya. Entah hilang kemana semua kalimat-kalimat yang sudah dirangkainya sedemikian rupa
“Aku ragu Fa”
Satu kalimat yang berhasil menarik perhatian Arafah dari sendal yang ia kenakan. Tanpa aba-aba, genangan bening pada pelupuk matanya sudah terlihat
Semua prasangkanya terbayar sudah, ketakutan itu sudah menjadi kenyataan. Arafah menutup matanya menggunakan tangan kiri
Berusaha menghalau air matanya yang sudah berlomba untuk keluar, tapi tetap saja tak berhasil. Ia berakhir dalam isakan yang memilukan
Isakan yang terdengar sangat menyayat hati, termasuk hati lelaki di sampingnya. Alvin kembali membuat gadisnya menangis
Dalam isakannya yang sangat terdengar jelas, Arafah berusaha menormalkan nafasnya
Ingin rasanya Alvin membawa Arafah ke dalam pelukan, tapi ia masih tau batas yang belum bisa dihilangkannya
“Gak akan Fa. Aku cuma ragu, bukan mau pergi” tutur Alvin berusaha menenangkan
Dengan mata yang masih berair, Arafah menatap mata Alvin. Berusaha mencari kebenaran di dalam sana, ia menghela nafas lega walau tidak sepenuhnya
“Kak Alvin ragu untuk apa?” Arafah bertanya serak
Alvin diam sejenak. Menatap jalanan yang nampak lenggang “Aku bukan ragu sama kamu. Ragu ini untuk jalan yang mau aku tempuh” jelas Alvin
“Sejak memutuskan untuk memiliki niat menjadi muallaf, ada sesuatu yang mengganjal di hati aku Fa” Alvin menatap dalam mata Arafah
Walau Arafah diam, dalam benaknya sudah merancang kemungkinan terburuk yang hampir setiap malam membayanginya
“Bukan karena aku ragu sama kamu, untuk jadi muallaf secepat itu kayanya gak bisa aku lakukan” tutur Alvin
__ADS_1
Arafah melotot tak terima “Tapi Kakak udah janji, Kak Alvin gak boleh ingkar”
Terserah jika kalian mengatakan bahwa Arafah egois. Bukankah tadi sudah ia katakan secara gamblang jika ia akan menjadi pribadi yang lain demi mempertahankan Alvin? Arafah akan membuktikan hal itu
Alvin berusaha menenangkan Arafah dengan tatapan teduhnya “Aku gak akan ingkar Fa. Aku cuma minta waktu lebih, kamu paham kan?”
“Gak semudah yang kamu bayangkan Fa”
Alvin mengalihkan pandangannya saat melihat air wajah Arafah yang tak kunjung melunak
“Untuk jadi muallaf aku harus memahami semuanya, aku harus pelajari segala tentang agamamu, supaya niat tulus itu datang dengan sendirinya”
Sadar akan maksud dari ucapan Alvin, Arafah mulai luluh. Ia menatap Alvin dari samping, memperhatikan raut lelah yang sangat kentara di sana
“Kamu bisa kan kasih aku waktu lebih lama?” tanya Alvin penuh harap “Aku janji gak bakal tinggalin kamu” tatapan keduanya bertemu
“Berapa lama?”
“Sampai niat tulus itu datang dengan sendirinya, tanpa dipaksa” Alvin menjawab mantap
Mau tak mau, Arafah akhirnya mengangguk. Memang hanya itu kan yang bisa ia lakukan?
Arafah tak mau Alvin pergi jika ia tak memberi hal sederhana yang dimintanya
Senyum bahagia terbit dari bibir Alvin namun tidak untuk Arafah. Tampang datarnya menandakan jika ia sedikit kecewa karena harus menunggu lebih lama
“Makasih Fa, maaf harus buat kamu menunggu sedikit lebih lama” tutur Alvin tulus
Arafah hanya mengangguk tanpa suara, menatap hamparan rumput tetangga yang tidak lebih menarik dari wajah tampan Alvin
Namun dia butuh sedikit pelampiasan untuk mengalihkan rasa kecewa yang sedang melandanya. Tapi bukankah Arafah harus sedikit bersyukur karena bayang-bayang berlebihan itu tak seburuk yang ada di benaknya
Alvin yang menyadari jika gadis di sampingnya sedang berusaha mengalihkan pandangan, tertawa kecil
“Liat aku Fa. Emang rumput itu lebih cakep dari aku?” candanya berusaha mengubah suasana mencekam ini
“Ya enggaklah. Ya kali Kakak kalah saing dari rumput tetangga”
__ADS_1
Dibawa sinar rembulan yang sayup-sayup. Keduanya menikmati keheningan untuk sesaat, memberi waktu pada diri sendiri atas apa yang terjadi