Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 27 (BUNGA)


__ADS_3

“*Gita awas aja kalau tas gue sampai rusak, itu tas limited edition loh yah”


“Ya elah. Tas 30 ribuan gini juga”


“Wahh, ngajak gelud nih anak. Itu harganya bukan 30 ribu yah, tapi 23.500 rupiah”


“Serah lo bangke*”


Alvin yang baru saja berdiri menyandar ditembok samping pintu, samar-samar mendengar perdebatan tidak berfaedah dari dalam sana


Tangan kanannya bergerak untuk mengirimkan pesan singkat melalui telefon genggam, sementara yang kiri menggenggam sesuatu dengan sangat erat


“Aku keluar sekarang”


Segera Alvin menarik nafas dalam dan mengambil ancang-ancang. Saat suara pintu yang dibuka kuncinya dari dalam, Alvin yang masih bersandar segera membawa tangan kirinya beserta sesuatu yang ia pegang agar sejajar dengan pintu


KREKK


Pintu rumah itu kini terbuka. Tak ada Arafah yang keluar sebab sebuket bunga yang berada ditengah-tengah


Gadis itu tak mengeluarkan suara, terkejut mendapati buket bunga mawar merah yang sangat indah. Alvin memunculkan dirinya, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa bukan Arafah yang berdiri tepat didepan buket bunga melainkan si cempreng Tiara


“Ya elah Ra. Sumpah, lo ngerusak suasana banget” kata Alvin memandang jengah Tiara


“Hellow Kak Alvin, mana gue tau kalau kakak mau kasih Rafah bunga” Tiara berseru sewot


“Makanya kalau mau buat planning yang romantis itu harus direncanakan dengan matang, jangan amburadul. Gini kan jadinya. Percuma sih ganteng tapi gak mateng”


Arafah dan Gita hanya menjadi pengamat di belakang. Membiarkan Alvin dan Tiara meluapkan kekesalan masing-masing


“Eh sorry yah Tiara. Gue mateng 100% dan gak diragukan lagi. Cuma rencana gue aja yang gak matang karena ada lo” sanggah Alvin cepat


Merasakan jika ada makna lain dari ‘gak matang’ yaitu banci. Kalimat yang biasa ia dengar ketika teman kelasnya mengerjai seorang mahasiswa yang agak melambai. Idihh, gak mau dia disamakan dengan orang seperti itu


Tiara menghembuskan nafas kesal kemudian mengibaskan rambut coklat panjangnya hingga mengenai wajah tampan Alvin dan melewatinya begitu saja “Adawwww, sakit emang nih cewek satu”


“Apa? Mau gelud? Ayo sini. Gini-gini gue masih bisa lapor ke Kak Seto” tantang Tiara yang membuat Arafah terkekeh geli


Alvin memandang Arafah jengah, kemudian mengalihkan fokusnya pada Arafah. Ia menggerakkan tangan dengan maksud agar Arafah mendekatinya

__ADS_1


Arafah nurut saja dengan seulas senyum yang sangat manis. Berdiri di samping Alvin yang jauh lebih tinggi darinya


Bunga mawar merah itu Alvin berikan pada Arafah dan langsung diterima dengan sangat bahagia “Buat lo. Suka aja gitu liat bunga mawar"


------------------------


“Halo Arafah dede gemeshnya Alvin”


Sapaan itu terdengar kala Arafah baru saja turun dari mobil Alvin. Alvin memarkirkan mobilnya di tempat yang secara tidak langsung sudah diklaim olehnya


Disamping mobil lelaki itu, sudah terparkir rapi mobil seseorang yang tersenyum sumringah seraya menyandar dimobilnya sendiri


“Hai Kak Adit” balas Arafah tak kalah ramah


Tiara, Gita dan Alvin juga sudah turun. Memandang Adit yang tampak menawan dengan setelan celana jeans hitam dan kemeja flanel berwarna biru laut dan sneakers putih yang menambah kadar ketampanannya


Adit memandang Tiara dan Gita “Halo dede-dede gemeshnya Adit, yang tambah hari tambah imut. Jadi pengen ngantongin deh” lelaki itu mengedipkan sebelah matanya


Kedua gadis itu kompak memutar bola mata malas. Tiara mengamati penampilan Adit dari bawah sampai atas, membuat Adit mengernyit heran


“Napa lo liat-liat. Gak usah dilihatin sampe segitunya, gue cuma gemes sama lo bukannya demen”


Baru saja Adit ingin membalas hinaan Tiara yang cukup melukai martabatnya sebagai salah satu cogan idaman wanita sejuta umat di kampus ini, suara Alvin lebih dulu terdengar


“Ayo Fa. Kalau kelamaan di sini bisa-bisa lo ikut gak waras juga nanti” kata Alvin yang meraih pergelangan tangan Arafah dan membawanya pergi


Tiara membeulatkan mata terkejut “EHH TEMEN GUE MAU DIBAWA KEMANA?”


“MAU GUE BAWA KE PELAMINAN”


Astaga, ingin rasanya Arafah menutup wajah sebab banyaknya pandangan aneh yang tertuju padanya. Selain karena suara Alvin dan Tiara yang sudah seperti toa akang-akang penjual tahu bulat, tangan Alvin masih betah menggenggam pergelangannya yang berbalut kain baju


Arafah menggerakkan tangannya yang digenggam Alvin “Lepasin Kak”


Alvin nurut saja, tak ingin membuat gadis ini merasa tak nyaman atas sikapnya. Mereka kemudian berjalan sejajar, saling beriringan


Bahkan langkah panjang Alvin ia coba sesuaikan dengan gadis di sampingnya yang berjalan sangat pelan


“Rafah” panggil Alvin pelan

__ADS_1


Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Alvin “Hemm”


“Arafah”


“Iya Kak” Arafah mengubah jawabannya ketika dirasa jika Alvin menginginkan jawaban lain


Alvin tersenyum lembut, sangat menawan “Arafah Eliza Putri Handoko”


“Iya Kak Alvino Bagaskara. Kenapa? Kakak mau bilang sesuatu kah?”


Ketika ditanya oleh Arafah, Alvin malah menggelengkan kepala tanpa melepas senyum menawannya. Mengikat Arafah pada lesung pipi yang membuat beberapa mahasiswi di sekitarnya memekik tertahan


“Kenapa lihat-lihat?” tanya Alvin kala menyadari bahwa Arafah sangat setia memandangnya dalam diam


Arafah menatap Alvin sewot “Kak Alvin aja boleh lihat aku masa aku gak boleh kalo lihat-lihat Kakak”


Alvin tertawa geli “Gue cuma nanya Fa. Sewot banget jawabnya” kemudian melihat Arafah yang manyun “Kaya cewek PMS aja”


“Emang”


Alvin memandang dalam Arafah “Lo beneran lagi PMS Fa?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh gadis itu


Mimik wajah Alvin seketika berubah, was-was mengetahui bahwa gadis ini sedang dalam masa paling bahaya


Arafah yang menyadari air wajah Alvin berubah pias, tertawa pelan “Tenang aja Kak, Aku gak sensitif-sentif amat kok kalo lagi PMS. Masih sewajarnya aja”


Langsung saja Alvin menghela nafas lega, bersyukur jika Arafah tak seperti pacar teman kelasnya yang jika sedang datang bulan langsung berubah menjadi singa betina yang sangat baperan


“Kakak pernah punya cewek yang kalau datang bulan moodnya jadi gak baik yah?”


Alvin menggeleng “Nggak pernah. Makanya rada panik aja tadi, ngirain lo bakal moodyan kalau PMS” jawabnya santai, sama sekali tak menyadari wajah Arafah yang langsung datar


“Aku kelas dulu. Gak usah diantar sampai depan kelas, aku bukan anak TK yang masih harus ditemenin sampai duduk dikursi” kata Arafah datar tanpa memandang Alvin “Sana gih masuk kelas” usirnya sebelum menaiki tangga dengan kaki yang dihentak-hentakkan


Meninggalkan Alvin yang cengo di belakang sana sambil memandang takjub pada Arafah yang sangat berubah-ubah


“Ya Tuhan. Perasan tadi dia bilang gak sensitifan amat kalau lagi PMS. Terus ini apa namanya?”


Alvin meninggalkan tempatnya saat Arafah sudah tak terlihat lagi, ia geleng-geleng kepala seraya tersenyum receh mengingat gadis manis itu

__ADS_1


“Untung sayang. Kalau gak, udah gue kiloin tuh anak”


__ADS_2