
Hari ini sang fajar menyingsing terang, memberikan semangat pagi yang terucap oleh cahayanya. Tapi sepertinya semangat itu sedang tak dirasakan oleh seorang Alvino
Membuat Adit yang memang sering menginap di rumahnya,memandang Alvin heran “Tuh maka kenapa kusut banget deh? Gatel tangan gue pingin setrikain”
Alvin yang tengah selonjoran di atas karpet memberikan tatapan sinisnya “Ga usah nanya-nanya. Kaum jomblo kaya lo gak bakalan paham”
“Ya Allah, untung teman gue lo. Kalo gak udah gue ketekin tuh mulut” ujar Adit, menyadari bahwa pandangan Alvin terus saja mengarah pada handphone yang tergeletak di samping “Nungguin pesan Arafah?”
“Lo pikir gue anak SMA yang gengsi-gengsian chat ceweknya dulu. Helloww ini Alvino Bagaskara yah, calon suaminya Arafah Eliza. Ya kali gue” Alvin berujar teramat ngegas membuat tangan Adit tak tahan untuk menendang kaki temannya itu
“Terus kenapa? Lo debat lagi sama Ara?”
Telunjuk Alvin mengarah pada Adit “Ehh makhluk setengah manusia, jangan pernah lo pangkas-pangkas nama cewek gue. Lo gak mau kan, rambut lo ikutan gue pangkas”
Digertak oleh Alvin justru membuat Adit menampilkan cengiran andalannya “Hehe. Soalnya imut banget kalau dipanggil Ara. Jadi pengeng ngantongin”
Kembali Alvin memberi tatapan sinisnya “Diem lo jomblo”
“Astaghfirullah itu mulut pengen banget gue cobekin”
Alvin berdiri, mengambil jaket dan kunci mobilnya “Mau ikut gak? Gue mau cari bubur ayam” tanya Alvin mengalihkan pandangannya pada Adit
Bukannya mengangguk atau menggeleng, lelaki itu justru menatap Alvin aneh “Tumben banget. Biasanya juga Arafah yang selalu lo bawa-bawa kalo makan di luar”
“Arafah larang gue hubungin dia sampai sore. Katanya ada urusan sama Tiara dengan Gita” penjelasan Alvin membuat Adit manggut-manggut
“Gue ikut deh”
“Cepetan”
Adit yang tengah mengambil sweater, menghentikan kegiatannya. Nampak seperti baru mengingat sesuatu
Ia menatap horor Alvin “Al. Lo belum mandi, sikat gigi aja belum. Itu belek masih gelayut-gelayut manja noh. Mandi dulu sana”
“Mandi itu hanya untuk orang-orang yang kurang percaya diri dan sekarang gue pede-pede aja soalnya Arafah gak liat. Kalo cuma lo mah gak urus”
Adit mengusap dadanya sabar “Serah lo deh. Kuyy, anak gue udah minta makan”
__ADS_1
“Udah berapa bulan anaknya mba?”
“Baru masuk 3 minggu kak”
“Ibunya siapa mas?”
“Nggak tau kak. Masih saya cari”
-------------------------------
Walau dengan penampilan sederhana yang terlihat, kedua orang yang baru saja masuk ke sebuah tenda bubur ayam dipinggir jalan tetap berhasil mengalihkan fokus para kaum hawa
“Mas, buburnya dua”
Setelah menyebutkan pesanannya, Alvin dan Adit mengambil tempat duduk di dekat pintu masuk. Membuat akses pada mereka yang bisa langsung melihat ke arah luar
Adit memainkan game tahu bulat dengan wajah serius dari handphone, sementara Alvin membiarkan dompet dan handphonenya di atas meja dan memandang lurus ke luar
Tangan kanannya menopang dagu, wajahnya nampak tidak semangat. Ia terlihat seperti orang bodoh yang mengamati jalanan
Arafah bersama Gita dan juga tentunya si cempreng Tiara, terlihat membawa kotak yang cukup besar dimasing-masing tangan mereka
Ia ingin berteriak namun bisingnya jalanan tentu akan meredam suara Alvin. Dengan gerakan gesit ia keluar dari tenda agar pandangannya tidak terbatas
“Mau kemana Al?” heran Adit yang sama sekali tak ditanggapi
Di seberang jalan, Arafah bersama kedua sahabatnya memasuki kawasan yang tak Alvin tak ketahui. Papan namanya nampak sangat berkarat
Rasa penasarran yang besar membuat Alvin segera masuk, mengambil handphonenya dan mengeluarkan uang pecahan 50.000 dari dalam. Memberikannya pada mas-mas bubur ayam yang masih meracik
“Buburnya bungkus aja yah mas. Sebentar saya balik buat ambil”
Adit yang sedari tadi menatap heran semakin dibuat terkejut kala Alvin tanpa merasa berdosa, menyeretnya keluar dari sana
“Eh bangke, mau kemana?”
Alvin menyentak tangan Adit “Ikut aja. Tadi masa depan gue sama temanya masuk ke sana” jelas Alvin yang seketika membuat Adit mengumpat kasar
__ADS_1
Kedua lelaki berparas tampan itu menyebrangi jalanan. Sesekali Adit berteriak heboh saat ada mobil yang melaju cukup kencang, membuat Alvin rasanya ingin menggelindingkan saja temannya itu hingga sampai ke seberang
“Ini tempat apaan Al?” tanya Adit memandangi gedung tua di depannya “Kaya gedung gak keurus gini”
Memang benar, saat keduanya masuk di lahan yang cukup luas itu terdapat gedung yang nampak seperti sudah lama tak digunakan
Langkah Alvin semakin mendekat, berusaha mencari keberadaan Arafah. Sampai samar-samar ia melihat sebuah papan nama yang sudah berkarat
PANTI ASUHAN KASIH SUCI
Adit dan Alvin kompak mengangguk, seperti memahami apa tujuan ketiga wanita tersebut datang ke sana
Samar-samar terdengar ditelinga suara tawa anak kecil yang sangat bahagia dan kegirangan. Alvin yang diikuti oleh Adit mendekat ke asal suara, mengintip dari pintu yang tidak tertutup
Senyuman Alvin mengembang sempurna, menampilkan lesung pipi yang sungguh sangat manis. Begitupun juga dengan Adit, ia tersenyum tak menyangka bahwa Tiara dan Gita yang selama ini terlihat sangat masa bodo dengan sekitar namun sekarang nampak sangat jauh berbeda
“Tambah sayang gue sama Arafah” gumam Alvin pelan, tak ingin jika orang di dalam menyadari keberadaan mereka berdua
Adit hanya memberikan tanggapan dengan mengangguk tanpa suara. Keduanya masih sibuk mengamati aktifitas dari luar
Arafah memangku dua orang anak kecil perempuan yang tengah berceloteh riang seraya memegang mainan yang Alvin yakini merupakan isi dari box di depannya. Terlihat dari beberapa bocah yang sedang memilih-milih mainan apa yang akan diambilnya
Begitu juga dengan Tiara dan Gita, mereka sibuk mendengarkan cerita para anak kecil yang berumur sekitar 7-12 tahun yang ia bentuk lingkaran. Sesekali Tiara membantu membuka bungkusan cemilan ketika mereka kesusahan
Astaga. Sungguh pemandangan pagi yang sangat menenangkan bagi Alvin. Dalam hati ia bersyukur, Tuhan telah mengizinkannya untuk mencintai makhluk itu dengan sepenuh hati. Arafah Eliza
Alvin sendiri bahkan tak bisa memungkiri jika Arafah kini telah menguasai rasanya, bahkan lebih besar dari rasanya pada Alula. Ia tersenyum, senyum yang sangat sulit ia artikan. Tersirat bahagia, kecewa dan juga pedih dalam lengkungan indah itu
“Masuk yuk. Gemes banget gue pengen cubitin bocah yang dipangku sama Arafah” ajak Adit tanpa mengalihkan perhatiannya “Ya Allah, pipinya kaya pengeng gue gigit sampe nangis”
“Kok gue nggak yah?”
Merasa tak paham dengan ucapan Alvin barusan, ia menaikkan sebelah alis “Hah, maksudnya?”
“Gue gak mau cubit bocah yang dipangku. Malah maunya sama yang mangku aja. Gemes banget, jadi pengen cepet nikahin”
Dan seketika itu, ingin rasanya Adit melepas swallow yang ia pakai kemudian menyuapkannya kemulut Alvin. Terlebih, melihat tampang temannya yang itu yang kesemsem malu-malu kucing. Kucing garong
__ADS_1