
Suasana syahdu dan khidmat sangat terasa di tempat ini, membuat jamaat yang sedang beribadah sangat khusyu dengan penuh ketulusan
Satu persatu mulai keluar, meninggalkan gereja yang terbilang sangat besar. Begitu juga dengan Alvin, tapi langkahnya berhenti di samping seorang wanita yang masih duduk di tempatnya
Wanita itu melirik sinis “Awalnya gue percaya sama Kakak, kalau Arafah bakal selalu bahagia selama di sisi Kak Alvin tapi ternyata enggak” ia menatap datar pada Alvin “Arafah Kakak gue. Sekali lagi Kak Alvin jadi alasan dia menangis, Kakak bakal babak belur ditangan gue sendiri”
Alvin ikut duduk di sampiing wanita yang tak lain adalah Tiara “Lo gak ngerti Ra. Lo gak paham gimana rasanya jadi gue” matanya menatap sendu pada tanda salib besar di depan “Gue sayang banget sama Arafah tapi kemarin gue rasa kalau dalam hubungan yang kami jalani, hanya gue yang berjuang”
Mata Tiara menatap tak percaya pada Alvin “Berjuang sendiri?” sinisnya “Kakak gak tau gimana kuatnya Arafah yang selalu berusaha yakinin Papanya kalau Kak Alvin bilang mau ketemu sama Om Handoko”
“Dia sampai nangis kalau Om Handoko lagi-lagi nolak permintaan Arafah yang sedang perjuangin Kak Alvin agar selalu terlihat postif dalam pendengaran Papanya” lanjut Tiara yang mulai emosi
Ditempatnya duduk, badan Alvin menegang. Menatap netara cokelat Tiara yang sudah berdiri dengan wajah emosi
“Yakinin apa yang mau Kak Alvin yakini. Perjuangkan apa yang mau Kakak genggam dan apa yang mau dilepas, jangan jadi manusia yang serakah. Kakak gak selamanya bakal bisa genggam kedua-duanya”
Alvin tercengang, sangat paham dengan makna dari kalimat yang Tiara lontarkan. Apa ini saatnya ia benar-benar harus memilih antara agama dan Arafah?
Ia melewati Alvin,berjalan dengan santai. Saat sudah tiba di depan pintu, ia berbalik untuk memandang punggung tegak berbalut kemeja cokelat
“Pertahankan apa yang Kakak rasa patut untuk dipertahankan”
-------------------
Penyesalan. Kalimat itu tidak pernah terbesit dalam benaknya. Kisah kasih yang ia jalani adalah takdir terindah yang telah Tuhan gariskan untuknya
Ia tersenyum dalam sepi, menatap kosong pada hamparan rerumputan hijau yang terlihat asri. Halaman yang telah sangat bersih, setelah kemarin malam dijadikan sebagai tempat penyambutan tamu Gisel
Mama dan Juna sedang berada di Singapura, subuh tadi mereka berangkat. Mengurus masalah yang cukup besar disalah satu cabangnya
Berbeda dengannya, Gisel semalam terus saja menggenggam tangan Alvin yang terlihat kosong. Mengucapkan penyesalan mendalam karena telah membawa anaknya pada situasi yang selalu ia hindari
__ADS_1
Namun tentu saja ia tak bisa marah dengan malaikatnya itu, ia langsung membawa Gisel pada pelukan hangatnya dan mengucapkan
“Everything will be ok Mom”
Tatapannya jatuh pada pergelangan tangan yang setia mengenakan pemberian Arafah kemudian tersenyum getir
Handphone yang sejak semalam ia silent, kembali dibukanya. Menampilkan fotonya bersama Arafah yang kompak mengenakan setelan berwawna putih
Dalam sunyi yang tercipta, ia mengelus lembut foto Arafah. Setetes air mata jatuh membasahi pipi ketika mengingat semua yang sudah mereka jalani
Dadanya benar-benar terasa sangat sempit seakan dihimpit dengan sejuta kata yang terpendam untuk Arafah, gadisnya
Ia bukan laki-laki yang mudah meneteskan air mata tapi semuanya berbeda jika sudah menyangkut orang yang disayanginya
“Gue harus apa Fa? Gue udah benar-benar sayang” tanyanya seakan-akan sedang melakukan kontak dengan gadis itu
Perasaannya sangat dilema, dihadapkan pada pilihan yang tak bisa ia lepas salah satunya. Ini bukan lagi tentang Alula dan Arafah tapi tentang agama dan Arafah
Nama gadis itu sudah jarang terpatri dalam benaknya, semua yang selalu menjadi memori hitam bagi Alvin telah terganti dengan kasih yang senantiasa Arafah torehkan pada hatinya
“Den. Makanannya udah siap, ayo makan malam dulu. Entar Ibu marah kalau tau nak Alvin telat makan malamnya” suara itu memecah keheningan Alvin
Ia tersenyum lembut kemudian bangkit berdiri “Iya Bi. Temanin Alvin makan yah, lagi gak mood makan sendiri. Kaya jomblo karatan gak laku aja kesannya”
“Ya kali nak Alvin jomblo. Kan ada Arafah yang kalau kata Ibu sih, dia calon menantu idamannya”
Alvin mengulas senyum tipis. Gisel memang selalu memanggil Arafah dengan sebutan calon menantu
Namun apa benar jika ia sungguh ingin Arafah menjadi bagian keluarganya atau justru hanya karena Arafahlah gadis yang dapat membuat Alvin berlalu dari masa kelamnya?
Alvin makan dalam diam, di depannya juga duduk salah satu asisten rumah tangga yang sudah sangat lama mengabdi di rumahnya
__ADS_1
Usai makan ia segera beranjak ke kamar, langsung menghempaskan badannya dikasur yang dibalut seprei berwarna hitam dan abu-abu
Lurus menatap langit-langit kamar. Tangannya bergerak untuk menggapai handphone yang tadinya ia letakkan di atas nakas
Membuka aplikasi whatsapp dan melihat nama Arafah dipaling atas yang diberi pin. Ia melihat foto profil gadis itu yang sangat cantik. Berdiri dengan anggun dibibir pantai dan tersenyum manis, sangat menghangatkan hati Alvin
Ia melihat percakapan terakhirnya dengan Arafah tiga hari yang lalu. Keduanya memang lebih sering berbicara via telepon ketimbang hanya sekedar chat
“*Kak Alvin. Aku tadi liat gambar sate di ig, kayanya enak banget. Hehe”
“Skuyy berangkat. Siap-siap gih sana, gue mandi dulu. Biar tambah kece badai astralala”
“Aaaa. Kak Alvin tambah ganteng deh kalau peka maksimal gini”
“Emang pernah gue gak ganteng?”
“Ya enggak pernah lah, ya kali. Ya udah aku siap-siap sekarang yah. Dadah”
“Hmm*”
Astaga, hanya dengan membaca story chatnya bersama gadis itu saja sudah berhasil membuat lengkungan sempurna dibibirnya
Arafah benar-benar telah membuat Alvin menjadi sosok yang berbeda sejak mereka saling berkomitmen
Sejak pertama kali mereka menjalani hubungan dengan status komitmen, Alvin bukan sekedar hanya ingin sampai di situ
Ia ingin membawa Arafah kejenjang yang lebih serius dari sebuah frasa itu. Ia ingin memberi tahu Arafah bagaimana indahnya pernikahan yang akan ia beri
Namun mengapa sekarang fikirannya bercabang? Hatinya juga sungguh sangat dilema. Alvin bingung tentang apa yang harus ia pertahankan dan apa yang harus ia relakan untuk terlepas dari genggamannya. Selamanya
Memikirkan hal tersebut membuat kepala Alvin sangat sakit dan ia memutuskan untuk memejamkan mata dengan tangan yang menggenggam erat handphonenya
__ADS_1
Membiarkan mimpi secara perlahan merenggut kesadaran utuhnya, hingga ia benar-benar terlelap dan melupakan masalah itu walah hanya sebentar