
“KAKAK CANTIK” anak berumur 6 tahun itu, berteriak girang saat keluar dari tempat lesnya. Tangan kecil itu memegang kedua tali tasnya dan berlari-lari kecil untuk mendekat ke Arafah
Arafah dengan naluri kewanitaannya, berjongkok dan melebarkan kedua tangan untuk menggendong anak kecil itu “Wihh, Juna kok tambah berat sih?”
“Juna gak berat yah kak. Kata mama cuma tambah gembul dikit” jawabnya dengan bibir dimajukan
Si gadis berhijab tertawa pelan, ia sangat gemas dengan Juna. Hingga mendaratkan ciuman pada pipi chubby pada anak dalam gendongannya “Gemoy banget sih kamu”
“Ehemm. Sekedar info, kakanya lebih gemoy loh dari adiknya” Alvin yang sedari tadi menjadi pengamat, kini membuka suara dengan lagak batuk
“Terus?” Arafah melirik sekilas Alvin sebelum perhatiannya kembali terfokus pada anak gembul itu
Alvin tertawa receh “Hehe. Gak ada niatan gitu? Sapa tau mau nyium gue juga”
“Kak Alvin ngomong apaan sih? Udah ah ayo” tentu saja Arafah dibuat salah tingkah dengan ceplosan yang kembali keluar dari mulut si lelaki
Tanpa mempedulikan Alvin yang masih tergelak di belakang. Arafah yang masih setia menggendong Juna, membawa masuk anak itu untuk duduk di dalam mobil
Dengan wajah polosnya, Juna duduk dijok belakang. Melepas ransel imut dengan bentuk transformer dan meletakkannya di samping
“Kak Alvin ayo” Arafah mengayunkan tangannya dengan gestur agar Alvin mendekat
Masih mempertahankan senyum manisnya, ia memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana dan berjalan sangat santai
TAMPAN
Hal itu tidak bisa dipungkiri oleh Arafah yang masih perempuan normal. Namun dengan cepat, Arafah mengucap istighfar kemudian duduk di samping Alvin
“Belajar apa hari ini Jun?” Alvin melirik sekilas adiknya kemudian menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan tempat les Juna
“Banyak. Banyak banget, sampe otak Juna jadinya lapar” jawab Juna dengan sangat semangat yang tengah mengayun-ayunkan kakinya
Tawa receh milik Alvin kembali terdengar “Heleh. Bilang aja kalo perut gendut kamu yang lapar, gak usah bawa-bawa otak. Kasian dia kamu fitnah terus”
“Hehe tau aja kak Alvin. Cari makan yuk, Juna laper banget” muka polos Juna nyempil diantara Alvin serta Arafah
“Kakak cantik mau kan maken bareng Juna?” pandangannya ia alihkan ke Arafah yang juga sedang menatapnya
__ADS_1
Arafah tersenyum lembut. Tangannya bergerak untuk membawa Juna duduk dipangkuannya “Sama Juna aja? Terus kak Alvinnya ditaro di mana kalo kita lagi makan?” tanya Arafah yang mencoba meledek Alvin
Pupil cokelat Juna melirik Alvin yang menaikkan sebelah alisnya dengan wajah cengo “Simpen di parkiran aja kak. Buat jaga mobil” jawab Juna teramat santai
Pecah sudah tawa Arafah mendengar jawaban aneh Juna. Wajah putihnya memerah akibat tertawa “Di taro di parkiran? Juna gak kasian sama kak Alvin? Nanti kak Alvin makan apa kalo di parkiran?”
Jari telunjuk Juna, bergerak mengetuk-ngetuk dagu. Layaknya orang dewasa yang sedang berfikir
“Ya udah. Bawa masuk aja ke dalam restoran, kasian Juna sama kak Alvin kalo disimpen di parkiran” putus anak itu dengan wajah polosnya
Tawa Arafah dan Juna kembali memenuhi seisi mobil. Mereka berdua berhasil menggoda Alvin yang tersenyum lebar. Sesekali pandangannya jatuh ke Arafah. Tak bisa ia pungkiri, Alvin ingin terus melihat dan mendengar tawa dari gadis itu
“Lagian kalo kak Alvin dimobil, siapa yang bakal bayarin makanan Juna yang kalo makan gak ngira-ngira?” Alvin melirik jahil adik satu-satunya yang nampak kebingungan
Kepala Juna refleks menoleh, menatap polos Arafah “Kak Arafah punya uang?”
Tak tahan melihat sikap menggemaskan Juna, gadis yang mengenakan pasmina putih itu mencubit pelan pipi tembem anak dipangkuannya “Punya dong”
“Kak Arafah bisa traktirin Juna dulu hari ini gak? Nanti mama bakal ganti kok. Mama orangnya baik. Gak pelit kaya kak Alvin”
Arafah mengangguk tanpa melepas tangannya dari pipi Juna “Iya sayang. Kak Arafah bakal traktir Juna makan yang enak-enak”
“Wleee”
Alvin hanya tersenyum tipis melihat keakraban yang tercipta diantara Arafah dan Juna adiknya. Walau ini masih pertemuan kedua antara Arafah dan adiknya, Juna terlihat sangat nyaman pada gadis berhijab itu
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara adzan dari handphone Arafah, menghentikan aktifitasnya yang masih mengelus pipi Juna. Ia mengeluarkan benda persegi itu dari tas kecilnya
“Kak, cari mesjid yuk. Kita shalat isya dulu” ajak Arafah yang kembali memasukkan handphonenya di dalam tas. Dan aktifitasnya terus diperhatikan oleh Juna dengan kebingungan
“Di depan ada mesjid. Kita berhenti di sana aja yah” kata Alvin tanpa melepas pandangannya dari jalanan
Arafah mengangguk singkat. Celotehan Juna kembali berlanjut yang membahas tentang teman sekolahnya
Sampai mobil Alvin terparkir dengan rapi di halaman mesjid yang cukup besar. Arafah melepas seatbelt kemudian mendudukkan Juna dijok belakang
__ADS_1
Baru saja ia ingin membuka pintu mobil, gerakannya terhenti karena menyadari bahwa Alvin sedari tadi hanya memandanginya dalam diam
“Kak Alvin gak shalat?” tanya Arafah seraya memandang heran Alvin yang tak kunjung turun dari mobil. Bahkan mesin mobilnya saja belum ia matikan
Alvin melempar senyum lembut pada Arafah, namun ada sesuatu yang tersirat dalam pandangannya
“Gue Katolik Fa”
DEG
Satu kalimat singkat yang membuat badan Arafah menegang. Jantungnya berdetak dengan ritme yang sangat tidak normal
Tanpa menghilangkan senyumnya, Alvin mengelus pelan puncak kepala Arafah “Gue sama Juna tunggu di sini. Masuk gih shalat” pinta Alvin yang memandang secara bergantian ia dan mesjid
“I..Iya” Arafah mengangguk pelan dan turun dari mobil dengan perasaan yang mulai kacau
Di tempat wudhu khusus wanita, ia memperbaiki perasaan. Ia akan bersujud kepada sang pencipta, tidak seharusnya ia shalat dalam keadaan memikirkan ciptaannya
Arafah membuang nafas kasar saat dirasa perasaanya mulai membaik. Ia melangkah masuk ke dalam mesjid, mengambil mukenah yang disiapkan oleh mesjid
Allahu Akbar
Saat kalimat suci itu terdengar ditelinga Arafah, hilang sudah pikirannya tentang dunia. Ia hanya menghayati setiap bacaan imam dan khusyu dalam ibadahnya
Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Arafah keluar dari mesjid dan menuju mobil Alvin
Pintunya terkunci. Itu fakta yang Arafah tau saat ini. Pandangan Arafah keliling untuk mencari sosok yang ia cari
Kemudian netra kehijauan milik Arafah menangkap dua sosok yang baru saja masuk ke dalam pagar mesjid
“Sorry Fa. Juna tiba-tiba minta ditemenin berdoa tadi” terang Alvin saat ia semakin dekat dengan arafah
“Dimana?”
“Situ” Mata Alvin menunjuk sebuah gereja yang agak besar. Tempat ibadah yang terletak secara berhadapan dengan mesjid tempat Arafah shalat
Dan satu yang Arafah kembali sadari. Mereka hampir sama dengan kedua bangunan itu, terlihat dekat namun tak akan pernah bisa menjadi satu
__ADS_1
Arafah dan Alvin, mereka terlalu berbeda. Perbedaan yang terlalu mencekam, perbedaan yang hanya bisa diatasi jika salah seorang ingin mengalah. Namun siapa?