
"Huftt” Arafah melepas sendal galangnya dan diletakkan dirak alas kaki yang terletak dibelakang pintu
Teramat lesuh, ia menjatuhkan badan disofa abu-abu yang tak terlalu empuk. Matanya lurus menatap langit-langit ruang tamu
Fikiran gadis yang telah menanggalkan jilbabnya itu, kembali pada beberapa saat yang lalu. Saat ia yang mengajak Alvin untuk shalat tanpa tahu terlebih dahulu agama dari si lelaki
Tentu saja ia merasa bersalah pada Alvin. Walaupun sepenjang menikmati makanan di restoran, Arafah terus saja mengucap kata maaf yang dibalas dengan ucapaan "gak papa" dari mulut Alvin
Bukan hanya itu yang sekarang menjadi beban fikiran Arafah. Entah mengapa, ia bisa memikirkan masalah yang terlalu jauh antara dia dan Alvin, seperti masa depan. Mungkin?
Hal tersebut mengalir begitu saja tapa bisa dicegah olehnya. Arafah bukan gadis polos yang tidak tahu bahwa Alvin menyimpan perasaan padanya, walau secuil. Didekati oleh lelaki berparas tampan tentu sudah biasa bagi Arafah. Namun kali ini terasa berbeda, sebab ia juga merasakan hal yang sama
“Gimana dinner sama kak Alvin? Lancar? Gak ada hambatan dan tantangan ninja warrior sama benteng takeshinya kan?” Tiara keluar dari kamar yang disusul oleh Gita
Teramat lesuh, ia mengangguk “Iya lancar”
Tiara tentu tak percaya begitu saja, ia mendelik memandangi Arafah”Lancar kok muka lo kaya gitu sih?”
“Napa muka gue? Cantik kah? Udah dari rahim gue cantiknya” pede Arafah dengan tawa hambar, berusaha meyakinkan si gadis berambut cokelat
“Bikin ulah apa lagi si Kak Alvin? Emang yah tuh cowok gak tau diri banget jadi batangan. Bisa-bisanya cewek bening bagai air galon kaya lo disakitin terus” Tiara berkobar dengan penuh semangat, meletakkan kedua tangannya dipinggang dengan wajah garang
Gita dan Arafah tertawa receh melihat tingkah Tiara. Gadis itu memang sangat mudah menebak perasaan orang, terlebih mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu bersama
Arafah mengubah posisinya menjadi duduk, menarik nafas pelan “Kak Alvin ternyata beda agama sama gue”
“HAH? Serius?” seperti kebiasaannya sejak SMA ketiga mendapat kabar wow, Tiara sudah pasti akan mengeluarkan toa tahu bulatnya
“Demi apa Ra” Gita melotot tak percaya pada Arafah, tentu agak tercengang mendengar kabar itu
__ADS_1
“Demi bokap gue yang gantengnya ngalahin Sakhrul Khan”
Gita melirik bergantian sahabatnya, mendapati wajah yang penuh dengan keheranan mendengar bahwa Alvin bukanlah seorang muslim. Agak lebay memang, tapi Arafah sendiri memakluminya
Mungkin selama ini yang ada dibenak mereka, Alvin adalah seorang lelaki berparas tampan dengan ilmu islam yang agak cetek sebab tidak pernah melihatnya melaksanakan shalat di kampus
“Gerah, gue mau ganti baju dulu” Arafah berjalan ke kamar dengan tangan yang menyeret jilbabnya dilantai
“Gitu ternyata bentuk Arafah kalau patah hati” Tiara melangkahkan kaki ke ruang tengah, yang disusul oleh Gita
“Iya, masih padat. Belum berubah bentuk isi jadi gas 3 kilo”
Kedua gadis itu tertawa receh, menikmati siaran yang ditampilkan di tv. Butuh waktu hampir 10 menit untuk Arafah keluar dari kamar dengan tampang yang lebih fresh
TOK TOK TOK
Ketukan dari luar pintu, mengalihkan perhatian ketiga gadis itu. Mereka saling memandangi dengan tatapan yang berbeda-beda
Arafah nampak berfikir sebentar, menggaruk kulit kepalanya. Sebelum ia melotot dengan wajah tegang
“Gua lupa ngunci. Aduhh gini nih kalo orang patah hati, langsung jadi oon tanpa perantara”
Gita bergerak asal untuk membuat Tiara tidak nyaman sehingga berpindah tempat disertai wajah memberenggut “Tunggu di sini, jangan ada yang bukain pintu. Gua ambil jilbab dulu”
Tiara mengangguk patuh. Tipe gadis pemberani dan ceplas ceplos yang akan kicep dengan hantu dan maling
“Maling? Wait, emang ada maling yang kalo mau ngerampok ketok pintu dulu? Sopan banget tuh pasti orangnya, gua yakin 100 persen pasti waktu sekolah nilai sikap dia A+” gadis berambut coklat itu nampak berfikir
Gita yang baru saja keluar dari kamar dengan jilbab pasangnya, menyodorkan jilbab lain yang langsung diterima Arafah
__ADS_1
Dengan asal-asalan, Arafah mengenakannya dan berlenggang santai ke pintu utama. Gita dan Tiara tentu saja memekik tertahan melihat sikapnya
Ia menyingkap pelan gorden jendela dekat pintu untuk melihat siapa orang yang datang ke rumahnya saat jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam
Punggung lebar yang dibalut dengan jaket hitam itu, membelakangi Arafah. Nampak tidak asing dalam pandangannya. Dan benar saja, saat lelaki itu menoleh sekilas, Arafah bisa langsung menebak siapa lelaki itu
Lelaki yang paling Arafah cintai di dunia ini. Orang yang tak pernah menolak keinginan gadisnya selama ia masih mampu, punggung kokoh itu milik lelaki yang paling ia rindukan
Dengan senyum mengembang, Arafah membuka pintu dan berteriak girang “PAPA”
Baru saja lelaki itu membalikkan badan untuk melihat asal suara. Arafah segera membuang dirinya kebadan Handoko yang langsung dipeluk erat
“Papa kira kesayangan papa udah tidur” Handoko mengelus pelan puncak kepala anaknya
Ada sesuatu yang menyerang hatinya saat ia melihat bahwa Arafah telah benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim wanita untuk berhijab
Arafah mendongakkan kepala, tersenyum lebar dan memamerkan gigi putih yang rapih “Belum dong, Ara udah gede tau. Bukan anak SD lagi yang kalo tidur harus jam 9 tepat”
Handoko semakin mengeratkan pelukannya, ia meletakkan dagunya dipuncak kepala Arafah. Seakan jika ia melepas sejanak saja. Arafah akan hilang dari pandangannya, ia sangat menyayangi Arafah lebih dari apapun yang ada di dunia ini
“Masuk yuk Pa. Di luar dingin, nanti papa kemasukan angin. Hehe” Arafah melepaskan perlahan pelukan Handoko dan menggenggam tangan besar itu untuk masuk ke dalam rumah
“Papa gue yang tampannya ngalahin Sakhrul Khan datang” dengan wajah cerianya, gadis itu memamerkan Handoko dengan wajah songong
Gita dan Tiara kompak datang mendekati Handoko untuk menyalami Ayah dari temannya. Handoko tersenyum hangat, ia mengelus puncak kepala kedua gadis itu secara bergantian
“Selamat datang diwelocome om Handoko. Tentu saja om tidak mungkin datang kesini dengan membawa tangan kosong. Apakah om membawa sesuatu yang dapat kita kunyah bersama?” Tiara bak pelayan disebuah rumah makan, berbicara dengan teramat formal
Lelaki paruh baya itu mengangguk tanpa melepas senyumnya “Tiara ambil dimobil om. Jok belakang mobil khusus untuk nampung makanan buat kalian bertiga”
__ADS_1
“Gita, bisakah anda menemani saya untuk menjarah mobil om Handoko?”