Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 56 (LARI)


__ADS_3

Angin musim semi menyapu wajahnya, membelai lembut. Seakan menyampaikan selamat datang dengan sangat ramah


Bangunan yang sudah sangat lama tak dihuni, menjadi pandangan yang cukup menengkan. Kesannya yang mewah masih terlihat jelas, walau beberapa bagian sudah luntur warnanya


“Kita bisa cari apart yang dekat dari kampusmu Fa” Papa masih saja mengomel


Arafah tersenyum tipis, memandangi Papa yang masih sibuk menurunkan koper dari dalam taxi “Ara mau tinggal di sini Pa. Kelihatannya nyaman” langkahnya mendekat untuk membuka pintu


“Assalamualaikum” sapanya cukup lantang


Semua barang ditutup dengan kain putih, mencegah debu untuk saling berkumpul. Arafah membuka lebar-lebar jendela besar yang berada di samping kanan


Menampilkan taman kecil yang terlihat tak terawat. Sepertinya ia akan mempunyai banyak kesibukan di rumah ini


Pelan, ia mendekat saat sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah bingkai foto kecil yang sangat familiar. Senyumnya mengembang, melihat foto masa kecil bersama Alula yang sedikit berdebu


Bersandar pada lemari setinggi pinggang. Memandagi seluruh penjuru rumah yang menyisakan banyak memori kecil


Arafah tersenyum miris, ia benar-benar pengecut. Lari meninggalkan Indonesia karena terlalu lemah, takut egonya kembali menang jika ia terus melihat Alvin


Di sini, memang ada rumah Alvin. Namun sudah menjadi milik orang lain sejak keluarganya memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah insiden kematian Alula


“Ara mau tidur di kamar yang mana?” Papa menggeret dua koper besar masuk ke dalam rumah


Arafah mengambil satu dan membawanya menuju pada kamar yang paling besar di rumah ini. Kamar Bunda


Papa menelisik ke segala penjuru “Ara berani tinggal di sini sendirian?” tanya Papa memastikan


“Berani dong” jawabnya mantap


Mulai merapikan isi kamar yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Hanya menyingkirkan kain putih yang menutupi kasur dan beberapa lemari


“Ara di sini dulu yah. Papa mau aktifin cctv-nya dulu”


Arafah mengangguk, mengiringi langkah Papa yang mulai sibuk. Melihat punggung lelaki itu, mengingatkannya pada watak Papa yang sangat penyayang


Membawanya pada kejadian beberapa hari lalu


“*Jangan pergi Ra. Di sini aja, kamu mau tinggalin Papa dan sahabat-sahabat kamu?” Papa terus saja mencoba membujuk Arafah dari seberang telefon

__ADS_1


Arafah menghela nafas pelan “Ara butuh ruang Pa, Ara gak bisa kalau di sini. Papa ngerti kan*?”


Lelaki berusia senja itu mengatakan pada Arafah bahwa ia telah memaafkan Alvin. Tapi untuk menjadi bagian dari keluarganya, terasa sangat menyakitkan


Saat itu, Arafah memeluk Papa erat. Tak pernah menyalahkan lelaki tersebut. Ia paham, perasaan Papanya sebagai orangtua tunggal yang selalu berusaha menjanganya hingga kini


Arafah percaya, bahwa masalah Alvin dan Alula di masa lalu. Hanya alasan yang telah Allah beri padanya untuk meninggalkan hubungan seperti itu


Ia menghela nafas pasrah. Benar-benar memasrahkan dan merelakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Arafah hanya ingin merasakan ketenangan di sini


Duduk melantai dan mulai membongkar isi kopernya. Dikeluarkan satu kotak berukuran sedang, membukanya sesaat sebelum kembali menutup dengan serapat mungkin


Tak ingin membiarkan kotak berisikan semua barang-barang pemberian Alvin berhasil meruntuhkan pertahanan yang masih ia coba untuk bangun


“ARA. CCTVNYA UDAH AKTIF, PAPA MAU NGECEK SEMUA PINTU AMA JENDELA DULU. SIAPA TAU ADA YANG HARUS DIPERBAIKI”


suara Papa menggelegar kencang


Arafah terkekeh pelan mendapati Papa yang sibuk sendiri ”SIAP KOMANDAN. LAKSANAKAN”


Mulailah ia menata bajunya di dalam lemari lantas merebahkan badannya di atas kasur yang sangat empuk


Belum sempat matanya terpejam, suara bariton Papa kembali menggema


“Cari makan yuk” Papa duduk di samping Arafah, menyapu pelan kepala Arafah yang masih berbalut hijab “Masih ingat gak? Dekat sini ada restoran Indonesia”


Papa menyadari, ada yang berbeda dari tatapan Arafah. Dia terlihat seperti orang yang sedang menanggung sakit dalam kesendirian


Ia segera berdiri, merapikan penampilannya dari cermin full body yang terdapat di dalam kamar “Cuss. Ara juga laper” berusaha mencoba untuk terlihat baik-baik saja


--------------------------------------


Setelah cukup lama, Alvin kembali di sini. Duduk di halte bus dengan pandangan menatap gereja yang lama tak disambinginya. Hati Alvin benar-benar kosong saat ini, tanpa gairah


Dalam sunyi yang menyapa, Alvin kembali mengingat Arafah. Halte bus, hari pertama ia mengantar jemput gadis itu. Masih terbayang raut malu-malu yang selalu berhasil memikat hati Alvin


Bagaimana kabarnya? Apa dia juga sedang memikirkan Alvin seperti ia yang selalu membawa nama Arafah ke manapun langkah membawanya?


“Kamu pelari yang hebat Fa” Alvin bersandar pada tiang penyangga

__ADS_1


Belum bisa membayangkan bagaimana hidupnya akan berlanjut setelah Arafah telah benar-benar meninggalkannya


Cinta telah membuat Alvin menjadikan Arafah sebagai porosnya untuk terus berputar. Sampai ia pergi, membuat Alvin bagai orang yang kehilangan arah untuk terus berjalan


“Aku rindu” matanya terpejam, sedang menahan sesuatu yang ingin keluar


Alvinpun tak ingin seperti ini. Lelaki yang selalu dibuat lemah tak berdaya karena perempuan dari keluarga yang sama


Namun hatinya benar-benar telah tergores atas takdir yang sedang berusaha ia jalani. Mencoba untuk berdiri dan menuju gereja


Tapi ia merasa sangat malu kepada Tuhannya karena pernah memiliki niat untuk berpaling dari-Nya. Kakinyapun seakan mendukung, sangat susah untuk digerakkan


Membuat seorang gadis dengan rambut panjang yang terurai, mendorong pelan bahu Alvin menggunakan jari telunjuknya “Kaku banget, kaya batu” ucapnya


Suara itu sudah tidak asing lagi terdengar. Mengenal siapa perempuan yang sedang berusaha keras untuk menggerakkannya


Alvin berbalik, melihat Tiara yang juga baru datang “Ngapain lo di sini?”


Dengan malas, Tiara menjatuhkan jari telunjuknya. Menelisik penampilan Alvin yang sudah cukup rapi dibanding hari-hari sebelumnya


Tiara memutar bola mata kesal “Ya ibadah pagi lah. Ngapain lagi?” kesalnya seraya berdiri di samping Alvin


“Kenapa? Mau ikut?” Tiara dapat menebak keresahan Alvin yang terlihat kaku


Alvin diam, menatap Tiara yang selalu nampak berbeda jika ingin beribadah. Terlihat lebih anggun dan berwibawa


Kesal, merasa dicueki oleh Alvin. Ia mengibaskan tangan “Ya udah kalau belum mau. Gue duluan Kak” kakinya mulai melangkah kecil


Alvin masih tak berkutik. Memperhatikan Tiara yang sedang menunggu jalanan senggang untuk bisa menyebrang


Namun respon selanjutnya cukup mengejutkan, Alvin berdiri di samping kanan


Tiara yang menatapnya bingung


“Iya”


Hanya satu kata, membawa langkah keduanya berjalan untuk menyebrang, masuk ke dalam gereja. Hati Alvin menghangat, merasa seperti kembali menemukan rumah untuk berpulang


Ia duduk. Melakukan ibadah pagi dengan khidmat, melepas semua keresahan yang menganggunya untuk sesaat

__ADS_1


__ADS_2