Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 15 (Menyapamu)


__ADS_3

Setelah insiden di restoran tadi. Alvin menyuruh supir yang biasanya mengantar jemput Juna sekolah untuk menjemput dirinya di restoran


“Makasih Pak. Kalau mama datang, bilangin. Alvin make mobil Navara” pesan Alvin saat turun di depan garasi dan berganti mobil


“Siap den”


Alvin mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung di dalam garasi lantas masuk ke dalam mobil Navara putih


Saat tengah memanaskan mobilnya, Alvin berteriak dan memukul keras stir mobilnya. Pikirannya benar-benar kacau “ARGHH”


Ia menghela nafas kasar, memperbaiki perasaan. Terlebih mengingat jika dia akan melakukan perjalanan yang cukup panjang


Alvin akan pergi ke Bandung, ia merindukan wanita itu. Wanita yang selalu membuat hari demi hari ia jalani dengan penuh kerinduan


Dengan kecepatan sedang, ia meningalkan rumahnya sambil memikirkan keputusan yang akan ia buat


Dan Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam. Di sinilah Alvin berdiri sekarang, memegang sebuah buket bunga mawar berwarna putih


Dengan senyum lebar dan penuh percaya diri. Ia berjalan mendekat, berlutut di depan Alula Permata Indah Arisha


Senyum dan kepercayaan dirinya menghilang seketika, entah lenyap kemana. Yang ia rasakan sekarang hanyalah sesak mendalam tak terkira


Hening, tak ada suara. Helaan nafas lelah meluncur dari mulut Alvin. Ia menatap sendu Alula. Tidak, bukan fisik wanita itu yang ia tatap. Deretan bait nama dibatu berbentuk kotak itulah yang sedang ia pandangi


Setetes air mata jatuh membasahi pipi putih Alvin, namun dengan cepat ia menghapusnya. Seakan tak ingin Alula melihat kesedihannya


“Aku datang La” dengan senyum ceria yang ia paksakan, Alvin meletakkan sebuket bunga di atas gundukan berumput hijau yang sangat rapi


Alula Permata Indah Arisha


Lahir: 17 April 1999


Wafat: 15 Mei 2015


Begitulah tulisan di atas batu nisan yang Alvin letaki mawar putih. Alula, gadis ceria dan periang yang sudah menghadap kepada sang pencipta sejak hampir lima tahun silam


DAN KARENA KESALAHANNYA

__ADS_1


Tangisan pelan Alvin berubah menjadi isakan kencang. Ia tumpahkan kembali semua penyesalan dan kesalahannya dimasa lampau


Kepala Alvin rapat di atas rerumputan itu dan kepalanya menoleh menghadap nisan. Tangisannya tak kunjung berhenti, ia memandang penuh luka


“Apa kabar La? Aku rindu. Maaf yah baru sempet datang lagi, kemarin sibuk ngurusin anak baru” tangan Alvin bergerak mengelus nisan Alula


Beginilah Alvin yang tidak banyak orang ketahui. Yang mereka tahu, Alvin adalah cowok dengan mulut pedis level 100. Namun semua itu tidak berlaku untuk Alula dan


Arafah


“Aku mau cerita satu hal baru lagi buat kamu La. Aku ketemu cewek, namanya Arafah. Dia cantik kaya kamu, tapi dia gak banyak cincong kaya kamu” terang Alvin yang diakhiri dengan kekehan pelan, berusaha menghibur diri sendiri


Alvin mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas tanah kecoklatan. Tanpa melepas sedetikpun pandangannya dari nisan Alula


“Maaf kalau kamu kecewa sama aku. Tapi tenang aja La, posisi kamu gak bakal diganti kok. Kamu cuma punya teman baru di dalam hati aku” Alvin tertawa bodoh. Menertawakan kebrengsekannya


“Alula, maaf. Aku mulai suka sama Arafah. Rasa ini hampir sama kaya waktu aku pertama lihat kamu” lanjutnya


Senyum tipis yang tulus itu, Alvin lempar ke arah batu nisan “Tapi tenang aja La, aku masih belum seyakin itu kok sama Arafah”


Kembali tangan Alvin menyapu nisan Alula, membayangkan bahwa yang sedang ia elus adalah surai kecoklatan milik gadis itu “Tapi kamu gak usah khawatir. Walau nantinya Arafah bakal ngisi hati aku. Space untuk kamu ga bakal ada yang singkirin, aku janji”


“Aku bakal sering datang ngunjungin rumah kamu, jangan bosan yah dengar curhatan sahabat kamu ini”


Alvin berdiri dengan senyum lega. Lega telah menceritakan keluh kesahnya pada gadis yang sempat menjadi sahabatnya selama hampir 4 tahun


“Aku pamit yah La. Kamu baik-baik di sana, doa aku gak pernah berhenti ngalir buat kamu” Alvin mengucapkan salam perpisahan dan berbalik badan, hendak keluar dari area pemakaman


Namun sosok yang tertangkap indera penglihatannya, membuat langkah panjang Alvin terhenti. Diam di tempat, netra coklatnya bertabrakan dengan sepasang mata kehijauan yang menatapnya penuh benci


“Om Hans” panggil Alvin pelan, terkejut. Tak menyangka akan bertemu lagi dengan lelaki paruh baya itu


“Jangan pernah kamu datangin makam Alula lagi. Sudah gak ada artinya kunjungan kamu. Seharusnya kamu datangin anak saya waktu itu, supaya kamu gak perlu repot-repot kunjungi orang yang sudah meninggal” nada itu terdengar sangat dingin


Lelaki berumur sekitar 40an yang memegang buket bunga mawar berwarna putih, memasuki area pemakaman dengan tatapan datarnya. Melewati Alvin dan duduk di samping makam anaknya


Baru saja Alvin berniat untuk ikut duduk di samping lelaki yang ia panggil Om Hans. Tatapan tajam ayah Alula menghentikan niatnya

__ADS_1


“Pergi kamu dari sini. Saya rasa Alula tidak ingin melihat papa dan sahabatnya adu otot di depan makamnya”


Alvin menghela nafas pelan “Om jaga kesehatan yah, saya pamit dulu”


--------


Dua insan manusia berbeda gender itu saling menatap dalam diam. Arafah yang mengenakan jilbab pasang, berdiri heran di depan rumah. Bingung mendapati lelaki yang tadi meninggalkannya di restoran, kini berdiri diam bagai orang ****


“Jalan yuk, cari angin” Alvin mencoba membuka obrolan


Sebelah alis Arafah naik, heran dengan sikap berubah-ubah Alvin. Tapi ia ingin memperpanjang masalah yang memang tidak bernilai oleh Alvin


“Kemana? Aku ajak Tiara sama Gita yah”


Dengan cepat, Alvin menggelengkan kepala. Pertanda tidak setuju “Gak usah, mereka rewel. Apalagi Tiara”


Tentu saja itu hanya Alasan yang diberi oleh Alvin. Ia hanya ingin menikmati waktu berdua dengan gadis itu kali ini


“Berdua aja?” Arafah bertanya gugup


“Iya. Kenapa? Gak mau yah berduaan aja sama gue” dengan santai Alvin duduk di kursi teras rumah Arafah


“Iya. Dilarang berduaan sama Papa kalo bukan mukhrim” jawab Arafah dengan begitu polosnya


Alvin tertawa receh, betapa jujurnya gadis yang tengah mengenakan piyama beruang ini


“Tenang aja, secepatnya gue mukhrimin”


Pipi Arafah bersemu merah mendengar ceplosan Alvin yang sangat frontal “Kak Alvin kalo bicara santai banget sih”


Tingg


Tanpa melepas senyum dibibirnya, Alvin mengecek notifikasi di hpnya. Pesan singkat dari mamanya


“Kamu udah di Jakarta? Jemput adik kamu yah di tempat les. Mang Anto lagi sakit, terus kaki mama lagi pegel banget. Tolong yah sayang”


“Ganti baju gih sana. Kayanya kita ga bakal berdua deh jalannya”

__ADS_1


__ADS_2