
“Ra, kaki lo sakit?” seorang lelaki dengan perawakan tinggi duduk di depan gadis berhijab dengan wajah serius, matanya lurus menatap sang lawan bicara
“Hahh? Enggak, Alhamdulillah kaki aku sehat walafiat kok” jawabnya dengan wajah penuh tanda tanya
Si lelaki berdiri dan mengalihkan padangannya pada kaki gadis cantik itu “Kaki lo bisa jalan”
“Iya, masih bisa. Tadi aja ke toilet masih pake kaki belum ngesot-ngesot manja apalagi selonjoran aduhai” jelas Arafah detail
Lelaki itu tersenyum hangat bin manis yang berhasil membuat kaum hawa di dalam ruangan itu memekik tertahan. Terkecuali Rafah yang justru memasang wajah cengo, bingung dengan tingkah makhluk di depannya
“Oke. Sore nanti gua jemput, kita jalan”
“HAHH??”
“Masih bisa jalan kan?”
Arafah tersenyum simpul dari tempatnya duduk “Bisa aja modusnya” menatap manik Alvin “Jalan kemana?”
“Temenin gue nyari kado. Mama hari ini ulang tahun” kata Alvin kemudian kembali duduk
Arafah menatap lelaki di depannya sewot “Kok Kak Alvin gak bilang dari kemarin-kemarin sih. Aku mana sempat nyari kadonya”
“Makanya sore nanti kita jalan, nyari kado”
Gadis itu masih juga memberenggut kesal “Ya udah”
Alvin berdiri dari duduknya dengan senyum geli “Jangan manyun-manyun gitu entar gue tambah sayang”
“Helehh”
---------------
“Yang ini kayanya cocok banget sama Mama” jemari Arafah menunjuk sebuah kalung dari balik etalase
“Saya ambil yang itu mbak” ucap Alvin langsung, membuat Arafah terkejut di tempat
Ia menepuk pelan pundak Alvin, menatap minta maaf pada karyawan yang setia mendampingi mereka “Jangan dulu yah mbak, masih mau lihat-lihat”
Karyawan itu mengangguk patuh dengan senyuman ramah yang memaklumi “Iya, silahkan dilihat-lihat dulu” kemudian ia berlalu pada pengunjung yang lain
__ADS_1
“Kak Alvin kok asal beli sih. Belanja itu harus penuh perhitungan, bukan asal bungkus aja” desis Arafah kesal
Alvin memandang Arafah yang terlihat sibuk memilih kalung untuk Gisel “Kalung itu udah cocok Fa sama Mama. Lo tau kan Mama orangnya kaya gimana? Gak suka yang sederhana-sederhana. Prinsip dia tuh, harus cetar dimanapun dan kapanpun selagi masih bernyawa”
Ia mengangguk mengiyakan “Iya juga yah”
Tangan Arafah bergerak ke atas “Mba” memanggil karyawan tersebut agar menghampirinya “Kalung yang ini saya ambil yah. Masalah bayar membayar bagiannya dia”
Dari tempatnya berdiri, Alvin tertawa pelan “Ini” katanya seraya menyerahkan sebuah credit card yang langsung diterima
Arafah tersenyum ceria saat menerima paper bag mini dari tangan karyawan “Ihh imut banget kantongnya, kaya aku”
Mendengar pujian yang dilontarkan Arafah untuk dirinya sendiri, membuat Alvin tertawa geli. Satu tahun memang waktu yang cukup untuk saling mengenal kepribadian antara satu sama lain. Begitupun dengan Alvin dan Arafah
Keduanya berjalan beriringan keluar dari tempat itu. Senyuman mereka seakan sangat sulit untuk dilunturkan
“Mau makan dulu atau langsung pulang?”
Pertanyaan Alvin ditanggapi Arafah dengan mata melotot geram “Enak aja main pulang-pulang. Aku belum dapat kado buat Mama”
Pandangan Alvin jatuh pada sesuatu yang berada ditangan Arafah “Terus itu ditangan lo apa?”
Alvin kembali tertawa puas, tak mempedulikan pandangan orang di dalam mall ini yang menatapnya kagum
“Gak usah. Nanti gue bilangin ke Mama kalau kalung ini dari anaknya sama calon menantu”
Awalnya Arafah tersipu malu-malu. Wajar, anak gadis yang hatinya masih polos tapi ternodai oleh rasa bernama kasih dari seorang Alvino. Namun tak lama kemudian ia menormalkan mimik wajahnya
Perasaan gadis itu sedang baik-baiknya. Ia menyerahkan paper bag yang langsung diterima “Kakak makan duluan aja, nanti aku nyusul kalau udah dapat kado” nampak berfikir sebentar “Kalau mau pulang duluan juga gak papa. Nanti aku pulangnya naik grab”
Senyum penuh keyakinan dari Arafah dibalas dengan tatapan sendu “Ayo cari kadonya bareng gue” tersenyum lembut “Gak bakal rela gue lepas lo sendirian di sini. Entar ada yang ngantongin tiba-tiba”
Tidak. Arafah tidak sedang ingin dibujuk. Ia benar-benar tak apa jika Alvin ingin makan atau pulang duluan. Tapi Arafah mungkin lupa, Alvin ya akan terus jadi Alvin. Lelaki bertanggung jawab yang tak pernah meninggalkan Arafah di suatu tempat dengan alasan apapun
“Ayo. Mau nyari kado kan? Keburu kita nikah kalau lo lihatin terus guenya”
Arafah menanggapinya dengan seulas senyum tipis. Mereka berjalan berdampingan, tentunya dengan Alvin yang berusaha menyesuaikan langkahnya untuk Arafah
Dalam mall yang sangat besar ini, Arafah melihat sangat banyak barang yang menarik untuk dijadikan hadiah. Tanpa perlu masuk ke dalam storenya, ia mengamati dari luar dengan terus berjalan. Membuat Alvin gemas sendiri
__ADS_1
Tangan Alvin bergerak untuk membawa tangan Arafah pada baju bagian sampingnya. Ia sudah tak terkejut seperti waktu pertama, ibu jari dan jari telunjuknya berpegangan erat pada baju yang dikenakan Alvin. Seakan tak ingin jika Arafah tercecer karena tak memperhatikan jalan
Tapi walau sudah sering diperlakukan se-uwu itu, hati Arafah masih saja berdesir hangat dengan senyuman yang mengembang sempurna
“Aaa dapat” girang Arafah kemudian memandang Alvin yang tersenyum lega setelah hampir mengelilingi sebagian mall “Ayo masuk”
Mereka masuk ke store jam tangan. Pandangan Arafah fokus mencari barang mana yang akan ia jadikan hadiah untuk Gisel
Sementara Arafah yang sibuk memilih-milih, Alvin memilih untuk duduk. Kakinya sedikit pegal. Ia memutar kursinya ke arah luar store, mendapati sesuatu yang cukup menarik perhatiannya
“Fa, gue keluar entar yah. Mau beli sesuatu” gadis itu mengangguk patuh “Jangan keluar dari sini. Entar lonya susah dicari” tambah Alvin yang membuat Arafah tersenyum paksa
“Iya Kak Alvin anak Mama Gisel”
Alvin menyapu pelan puncak kepala Arafah kemudian berlalu keluar. Membiarkan Arafah tetap fokus pada kegiatannya
“Mas tolong ambilin yang ini sama yang itu” pinta Arafah menunjuk dua jam yang terletak cukup berjauhan
Dihadapannya sudah terletak dua jam yang sangat bagus dengan brand yang berbeda. Pandangannya kembali mengamati sekitar, mencoba membandingkan
Sampai ia akhirnya memutuskan “Saya ambil dua-duanya mas”
Karyawan yang sering mencuri-curi pandang ketika Alvin telah pergi kemudian menyerahkan dua paper bag pada Arafah setelah gadis itu memberikan credit cardnya
Arafah keluar, memilih menunggu Alvin di depan store. Kemudian lelaki itu datang dari arah depan dengan membawa paper bag baru yang kecil
“Mau makan dulu?” tanya Alvin lembut
Gelengan Arafah membuat mereka akhirnya memutuskan untuk segera mengambil motor dan berlalu untuk pulang
Memang jika jalan hanya berdua, Alvin memutuskan membawa motor sebab Arafah yang seringkali merasa tidak nyaman jika hanya berdua dengannya di ruangan yang tertutup seperti mobil
Motor Alvin segera menuju rumah Arafah yang memakan waktu tak sampai 20 menit dan saat sampai di rumah, Arafah yang kesusahan membuka helm dibantu oleh Alvin. Membuat Alvin sangat gemas ingin mencubit hidung Arafah, tapi tentu saja mati-matian ia tahan
Keduanya tak ada yang bergerak dari tempat saat helm Arafah sudah terlepas. Saling memandangi dalam diam seperti ingin mengatakan sesuatu
“Aku punya hadiah buat Kakak”
“Gue punya sesuatu buat Lo”
__ADS_1