Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 13 (Kunjungan)


__ADS_3

“Belakangan ini saya kembali cepat merasa sedih untuk alasan yang sama Kak. Saya kadang menangis, apakah pantas saya menangis untuk melampiaskan emosi? Atau lebih baik saya tahan saja”


Dalam ruangan luas itu, duduk santai dua orang dengan berbeda gender. Alvin duduk disofa dan Haning, psikiaternya sejak beberapa tahun ini duduk berhadapan di kursi santai


Haning, psikiater berumur 35 tahun. Ia tersenyum lembut “Alvin. Jangan biarkan pikiran sedih selalu mengganggu jiwa kamu. Sesekali menangis boleh saja, tetapi bila terlalu sering akan menambah tekanan mental” tutur wanita dengan rambut sebahu itu


Alvin mengangguk singkat “Apa yang bisa saya lakuin kak kalau sakit itu datang lagi?” tanya Alvin lemah


“Pusatkan aktifitas dan pikiran kamu pada hal yang membuat diri kamu merasa lebih baik dan jangan pikirkan tentang kesedihan” sambung Haning menjawab pertanyaan Alvin


“Kalau ingatan tentang dia datang lagi? Saya harus gimana kak? Terlalu sakit untuk dipendam” setetes air mata meluncur dengan mulus dari mata Alvin


Dengan cepat ia menghapus kasar jejak air matanya, dan menghela nafas pelan. Berusaha menenangkan diri sendiri


Haning tersenyum tpis “Kamu sebaiknya menceritakan pada seseorang dan menyatakan semua yang kamu rasa, hal itu bisa bantu kamu untuk meringankan stres selain dari menangis”


Merasa sudah cukup dengan konseling pribadi hari ini, Alvin berdiri. Melempar senyum hangat pada wanita yang sudah 2 tahun membantu masalah kejiwaannya


“Makasih banyak kak. Saya pamit yah” pamit Alvin yang dibalas anggukan oleh Haning


Di luar sudah menunggu Adit yang menemaninya konseling kali ini. Ia menggantikan peran Gisel yang sedang berada di Singapura untuk membuka satu cabang baru dari butiknya


“Cari makan yuk. Lapar gue habis curcol panjang lebar sama kak Haning” tawar Alvin seraya meninggalkan Adit di belakang sana


Adit dengan gerakan gesit segera menyuasaikan langkahnya dengan Alvin“Tungguin napa woy, demen banget lo ninggalin gue. Awas entar kalo lo kangen, gak tanggung jawab gue” katanya seraya merangkul Alvin


Alvin berusaha melepaskan rangkulan Adit “Dihh. Gue masih normal yah, masih demen cewek gue”


“Ajak Arafah makan yuk Vin?” saran Adit yang dibalas tatapan tajam oleh Alvin


“Lo mau nikung temen lo sendiri Dit?” tuduhnya dengan wajah yang dibuat sekecewa mungkin

__ADS_1


Tanpa tahu malu, Adit tertawa dengan sangat keras “BWAHAHA. Ya enggaklah bangke, gua demen aja liat si Gita ama Tiara. Kan kalo lo ajak Arafah makan, pasti tuh makhluk dua orang pada nempel sama Arafah”


Penjelasan dari Adit membuat Alvin mengangguk-anggukan kepala “Ya udah. Cuss lah kita jemput Arafah sama dede-dede gemesh lo. Gak enak juga gue udah buat janji malah ngebatalin sendiri”


Kedua lelaki berparas tampan dengan ras yang berbeda itu. Melenggang keluar gedung dengan diiringi pandangan beberapa orang yang menatap kagum pahatan Tuhan


Sebelum menaiki mobil, Alvin menyempatkan diri untuk melihat bangunan dengan gedung setinggi lima tingkat itu


“YAYASAN JIWA SEHAT BUDITAMA”


Ia tersenyum tipis, mengingat hari demi hari yang ia lewati di tempat ini. Tempat yang membantunya memulihkan kesehatan jiwa selama beberapa tahun


Dengan senyuman miris, ia masuk ke dalam mobil sambil berfikir “sampai kapan gue bakal terjebak di tempat ini?”


Mobil Alvin yang dikenderai oleh Adit melenggang meninggalkan tempat itu. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka saat dilihat senyum miris yaang terlihat diwajah tampan Alvin


Dia merogoh saku dari celana jeans selutut yang dikenakan. Mencari kontak seseorang dan mengetikkan pesan


___________


Satu pesan yang membuat rumah sederhana itu kembali heboh dengan celutukan-celutukan aneh dari tiga makhluk betina yang menghuninya


“Kak Alvin maunya apa sih? Larang anak orang baper, tapi kalo sikapnya kaya gini malah susah lah. Dasar manusia labil” Arafah mengomel, menatap kesal handphonenya


“Tinggal tolak aja susah banget neng” celetuk gadis di sampingnya yang tengah fokus membongkar dos oleh-oleh kiriman Papa Arafah


Gita mengangkat satu satu paperbag berukuran sedang “Ini buat gue yah” katanya seraya mengangkat paper bag itu


“Isinya apaan?” tanya Arafah tanpa melepas pandangannya dari pesan Alvin


Dengan tatapan kagum Gita menatap paper bag yang ia pegang “Nacific Fa”

__ADS_1


Arafah mengangguk melirik singkat barang yang dipegang Gita “Buat lo aja tapi jangan lupa doain Papa gue biar hatinya selalu tenang”


“YESS” tentu saja Gita berteriak girang. Memeluk erat paper bag itu, tak ingin melepasnya


“Napa lo? Girang banget” Tiara keluar dari kamar mandi dengan menggosok rambutnya menggunakan handuk


“Gue dikasih Nacific sama Rafah. Nih liat nih, satu paket coyy” dengan bangga Gita menunjukkan paper bag dengan brand terkenal itu


“SERIUS LO?” heboh Tiara dan berniat untuk ikut duduk di samping Gita


Namun sayang, baru saja bokong Tiara beberapa detik rapat dikarpet. Suara Arafah menghentikan aktifitas mereka


“Ganti baju gih. Kita diajak makan sama Kak Alvin”


Setelah mengatakan hal itu, Arafah beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Melihat tak ada orang yang ikut masuk ke dalam, ia mendengus kesal


Tersenyum jahil “Dalam hitungan ketiga lo pada belum ganti baju, oleh-oleh dari Papa gue kirim balik ke Kalimantan” ancam Arafah yang tentu tak sungguh-sungguh ia ucapkan


Arafah menghitung dalam hati, tersenyum jahil. Benar saja, belum sampai hitungan kedua. Gita dan Tiara masuk ke dalam kamar dan mencari-cari baju yang akan ia kenakan


“Fa, tanyain gih kak Alvin. Mau ngajak makan dimana? Biar gue bisa nentuin baju yang mau dipakai” Tiara mencolek pelan perut Arafah yang tengah memilih baju


Mengernyitkan dahi heran, Arafah menatap aneh sahabatnya “Emang ada hubungannya?”


Tiara menegakkan punggungnya, bersiap untuk menjelaskan “Ya ada lah Arafah sayang. Kalo dia ngajak makan di cafe ato restoran gua make baju yang keren-keren dong, tapi kalo dia ngajak makannya di warteg dekat kampus yah gue pake baju yang ini aja”


“Lo gila mau pake baju kaya gini?” celutuk Gita yang sudah mengganti baju santainya dengan gamis bermotif sederhana


Mendengar penuturan Gita, Tiara mengamati pakaian yang ia kenakan. Celana jeans selutut dan kaos oblong kebesaran, baju kebesarannya jika di rumah “Sorry-sorry nih ya, kalo orang pada dasarnnya udah cantik. Make apa aja mah tetap cantik”


“DIHH PD” kompak Gita dan Arafah

__ADS_1


“Udah ah, cepetan ganti baju Ra” pesan Arafah sebelum mengganti pakaiannya dan beranjak duduk di depan meja rias untuk memoles make up tipis


Setelahnya, Arafah nampak fokus mengenakan hijabnya “Bener kata Papa, gue lebih cantik kalo make jilbab” puji Arafah pada dirinya sendiri saat sudah selesai yang dibumbui senyum tipis


__ADS_2