
Rasa sesak itu kembali menyerang, menusuk relung hati terdalam dan mengoyaknya tanpa ampun juga jeda
Meluluh lantahkan perasaan yang sudah terfokus pada gadis lain
Ia terbangun dalam keadaan yang buruk, matanya memerah mengeluarkan tangis dalam fana
Alvin duduk bersandar, mengatur nafasnya yang sedang memburu
Dalam keheningan malam yang mencekam, ia bangkit. Mengambil sebuah foto yang sudah 18 bulan ia simpan apik di dalam nakas
Badan Alvin ia sandarkan pada balkon kamar, semilir angin menerpa paras tampan itu. Membuat rambutnya semakin berantakan
Perasaan berkecamuknya tak lagi bisa ia pendam. Alvin melemah, ia jatuh terduduk seraya memeluk sebuah foto yang menampilkan sosok gadis bersurai panjang yang sangat anggun
“Maafin aku Alula”
---------------------
Pekat menembus kesepian sang kelam. Mematahkan angan untuk bertahan dalam ego yang sudah hancur berkeping
Meninggalkan Arafah yang nampak seperti orang linglung, berjalan hilir mudik dengan tangan yang menggenggam erat handphone. Kuku tangannya ia gigit-gigit cemas
“Arafah, ayo tidur. Udah mau juling mata gue liatin lo” Tiara berdecak kesal dari atas kasur
Sontak saja Arafah langsung mengisi ruang kosong di antara Tiara dan Gita yang sudah mengorok pulas
Ia menatap Tiara dengan wajah memelas “Gue harus apa Ra? Cape banget jadi kaya orang gila dua hari ini”
Keheningan mengisi kosong untuk sementara. Membuat sang syahdu mengalun tanpa kata dalam tatapan lembut yang saling terjalin
“Lo pasti tau kan? Tadi pagi gue ketemu sama Kak Alvin” Arafah mengangguk cepat “Gue bilang sesuatu ke Kak Alvin dan gue juga mau nyampein itu ke lo, pertahanin apa yang menurut lo pantas untuk dipertahankan Fa” ucap Tiara yang terdengar sangat serius
Arafah diam tak berkutik
Perlahan badannya melorot jatuh berbaring “Rasa gue untuk Kak Alvin gak main-main Ra, bahkan sejak awal kata komitmen tercipta di antara kami” kata Arafah sungguh-sungguh
__ADS_1
Tiara tersenyum hangat pada Arafah yang masih setia memandangi langit-langit kamar
Ia menggenggam erat tangan sahabatnya “Pertahkan Fa. Tapi awas aja kalau tuh orang buat lo nangis lagi. Bakal gue patah tujuh belakangnya dia” ancamnya yang sedang terkekeh pelan
Arafah ikut tertawa mendengar Tiara yang memang terkadang suka berlebihan dalam berbicara. Otaknya sudah merancang rencana apik yang akan ia realisasikan besok
Ini bukan tentang siapa yang lelaki dan siapa yang gadis. Bukan hanya tentang siapa yang harus mengalah demi seseorang yang sebenarnya salah dan kalah, tapi ini tentang siapa yang ingin mempertahankan suatu hubungan fana dan abu-abu
Arafah adalah gadis itu. Ia yang sudah bertekad untuk melanjutkan kefanaan ini dengan segala mimpi yang dipendamnya dalam lubuk terdalam nan curam
“Tidur Ra. Lo besok harus doain gue. Gue yang salah, gue harus minta maaf sama Kak Alvin”
------------------------
Sang fajar menyingsing terik di atas sana, menggeser bulan yang sudah saatnya untuk beristirahat. Meninggalkan Arafah yang sengaja ke kampus pada pagi hari walau sedang tidak ada kelas
Cinta memang selucu ini. Membuat kaum yang merasakannya dapat bersikap lebih dari hari-hari biasa, seperti Arafah yang sedang duduk di taman. Menunggu kedatangan seseorang
Ia sudah tak bisa menahan semua hampa yang terasa saat tak bersama Alvin, ia sudah jatuh terlalu dalam dan Arafah tak akan membuat Alvin berjuang sendiri lagi
Walaupun harus merasakan sakit yang lebih dalam lagi atas fana yang belum jelas arahnya, Arafah akan menyanggupi semuanya. Ia yakin bisa menjalani semua itu jika dilewati bersama sosok Alvino Bagaskara
Alvin melewatinya begitu saja. Membuat Arafah bertanya dalam kesunyian hatinya. Apa Alvin sekecewa ini padanya? Apa Alvin telah lelah untuk selalu memperbaiki masalah yang sama? Apa mungkin Alvin tak ingin kembali lagi padanya?
Bayangan-bayangan gelap yang tercipta dalam benak, membuat Arafah tanpa fikir panjang segera berjalan menyusul Alvin
Berusaha menyesuaikan langkah kecilnya dengan kaki panjang Alvin
Untuk pertama kalinya, ia berjalan tak beriringan di samping lelaki itu. Arafah hanya bisa mengikuti jejak Alvin dari belakang. Membuat sesuatu seakan menyengat batin pedihnya
“Aku minta maaf”
Kalimat itu terdengar penuh penyesalan dan sendu yang mendalam dari si gadis. Menahan pilu yang membiru saat Alvin tak memberi respon yang diharapkan oleh angan
Tak ada kata yang dikeluarkan oleh Alvin. Ia terus berjalan dan hanya berbalik sebentar untuk menatap Arafah dengan alis yang naik sebelah
__ADS_1
“Aku minta maaf Kak Alvin” Arafah berlari kecil agar dapat jalan berdampingan “Aku tau aku salah. Maafin aku yang selalu ragu sama apa yang sedang kita jalani” tuturnya pelan, tak ingin ada orang lain mengetahui masalahnya saat ini
Alvin menghentikan langkahnya, ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jeans yang dikenakan
Tatapannya sangat datar mengarah pada Arafah “Udah?”
“Hah?” tanya Arafah, tak paham akan satu kata yang baru saja diucapkan oleh Alvin
“Udah bacotnya? Gue pagi-pagi ke kampus buat belajar Fa, bukan dengarin semua banyolan lo” ucap Alvin tak ingin diusik
Deggg
Arafah diam membatu di tempatnya. Ada sesuatu yang seakan memaksa untuk menyakiti hatinya lebih dalam, sesak itu kembali sangat terasa
Tak ada lagi tatapan teduh yang senantiasa Alvin curahkan padanya. Tak ada lagi kata-kata penenang dan meyakinkan saat Arafah tengah kembali pada gusarnya. Ia melihat Alvin yang berbeda hari ini, sangat berbeda
Ada sesuatu yang sedang berlomba keluar kelopak mata indah miliknya. Ia tak ingin Alvin melihat kelemahannya saat ini
Arafah segera membalikkan badan, menunduk
Bersamaan dengan setetes cairan bening yang jatuh sangat mulus
“Hey yoo couple uwunya Permata Indah. Apakah kalian sudah baikan?” Adit datang dari arah berlawanan dan segera membawa Alvin masuk ke ketiaknya
“Ketek lo bau nagong anjir”
“Enak aja lo ngomg kaya gak ada dosa. Ketek kaya gue limited edition yah, masih bau bayi habis dibedakin” sergah Adit tak terima
Pandangan Adit tertuju pada Arafah yang belum beranjak. Ia tersenyum sumringah “Halo dedek gemeshnya Alvin, lo udah baikan sama nih bocah dajal?”
“Ayo ke kelas”
Bukan. Tentu saja bukan Arafah yang berucap demikian. Gadis itu masih menunduk seraya mengusap kasar jejak air matanya
Tanpa mempedulikan Arafah. Alvin menyeret Adit untuk membawanya menjauh dari sana
__ADS_1
Meninggalkan Arafah dalam kesakitan yang masih sanggup dipertahankan atas nama komitmen yang tak menjanjikan
“Hemm. Sepertinya saya mencium aroma-aroma bahwa kata ‘komitmen’ anda sekalian kembali terusik”