Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 50 (JANGAN SENTUH DIA)


__ADS_3

“FA. AKU TUNGGU DI PARKIRAN YAH”


Suara teriakan yang berasa dari luar kelas membuat semua penghuni di dalam mengalihkan perhatiannya pada sosok Arafah


Ia hanya bisa tersenyum, berusaha memberi pengertian pada dosen yang menatapnya seraya geleng-geleng kepala


Bu Devi mengakhiri kelas hari ini, membereskan barang-barangnya untuk masuk ke dalam map. Menatap sekilas pada Arafah “Awet juga kamu sama si Alvin”


“Udah mau nikah bu mereka. Tinggal tunggu Alvin mantap aja” ceplos seorang teman kelas Arafah


Febi, si admin akun gosip yang selalu berhasil mendapatkan kabar ter-update di sekitaran kampus


Ingin rasanya Arafah berdiri dan menjitak mulut ember Febi jika saja Bu Devi kembali melayangan tatapannya pada Arafah


“Loh? Seriusan?” tanya Bu Devi tidak yakin


Dengan mantap, Arafah akhirnya mengangguk “Iya Bu” sorak-sorak ciee terdengar menggoda memenuhi kelas


Bu Devi turut melempar senyum menggoda “Ibu jangan lupa diundang yah”


Arafah tersenyum kikuk “I..Insya Allah Bu”


Satu persatu mahasiswa, mulai meninggalkan kelas. Termasuk Arafah, ia berjalan santai ke arah parkiran. Mendapati Alvin yang sedang bercengkrama dengan Adit


“Halo Fa. Ciee yang udah mau bawa Alvin ketemu Papanya” Adit berseru menggoda


Arafah memandang mengejek pada Adit “Iya dong. Emangnya Ka Adit, yang sampai sekarang belum dikenalin ke siapa-siapa”


“Astaga Al, cewek lo kaya pengen gue tendang. Tuh mulut kalau ngomong kaya gak pake filter”


“Diem lo jomblo karatan” ujar Alvin santai, membuat Adit hanya dapat mengelus dada bersabar


Memasuki mobil dan duduk di balik kemudi, berbalik sejenak untuk melempar senyum teduh pada Arafah


“Gimana hari ini? Ada yang mau diceritain?”


Alvin bertanya lembut


Arafah maju, memperlihatkan kepalanya di antara Adit dan Alvin “Ada. Tadi aku digoda sekelas gara-gara Kak Al teriak. Bu Devi juga malah ikut-ikutan” adu Arafah


Adit melempar tatapan sok sinis “Heleh, sok-sokan ngadu. Padahal senang juga kan lo?”


“Ihh. Kak Adit kok ngerti banget sih” Arafah berseru ceria


Membuat kedua lelaki di samping, menggeleng tidak percaya atas sikap aneh Arafah

__ADS_1


Gadis unik dan ceria yang selalu menarik perhatian Alvin hanya dengan seulas senyum bahagia yang terbit dari bibirnya


“Kak” Arafah menoel lengan kiri Alvin, berusaha untuk menarik perhatian Alvin lagi


Lelaki itu menolah sesaat “Hmm”


“Kakak gak takut mau ketemu sama Papa?” tanya Arafah yang tengah memandangi Alvin dari samping


Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik. Tawa Alvin terdengar merdu masuk ke dalam telinga Arafah “Ngapain takut? Papa gak pernah ngemil ginjal orang kan?”


Arafah sontak melotot tidak terima “Ya enggaklah. Papa itu ngemil kalau bukan brownies keju yang kue keringlah” serunya sewot “Ya kali ginjal dicemilin”


Gemas dengan tingkah Arafah, tangan kiri Alvin yang tadinya ia gunakan untuk mengatur persenelan kini berpindah untuk menyapau pelan puncak kepala gadis itu


“Bercanda sayang”


Sontak saja wajah Arafah memerah, menepis pelan tangan Alvin “Kak Alvin, jangan terlalu frontal” ucapnya malu-malu “Kasian Kak Adit yang gak pernah uwu-uwu”


Adit yang sudah tak tahan, menjitak pelan kepala Arafah “Nih bocah kok tambah hari tambah ngeselin yah?”


“Dit. Lo mau gelud sama gue?” tanya Alvin datar “Lapangan di depan kayanya kosong deh”


“Ayo. Arafah yang jadi wasit yah” mata hijau Arafah terarah untuk menatap Alvin. Tau bahwa ucapan Alvin tidaklah sungguh-sungguh


Papa adalah sosok yang sangat sulit ditebak. Kemarin ia mengatakan jika Om Farhan saja dulu yang bertemu dengan Alvin. Tapi hari ini, kepulangannya dari Jepang yang langsung ke Jakarta membuat Arafah harus membatalkan janji dengan Om Farhan sendiri


Punggung sosok itu tidak kelihatan saat ketiganya baru saja memasuki ruangan yang sudah dipesan oleh Papa


Namun handphone dan dompet berwarna hitam yang tergeletak di atas meja, membuat Arafah yakin bahwa Papa sudah lebih dulu tiba di tempat ini


“Pa Handoko mungkin sedang ke toilet” lapor karyawan laki-laki dengan name tag Denis


Arafah hanya menganggu-anggukan kepalanya sebelum duduk di meja bundar yang berisi 4 kursi tersebut


Ia menoleh ke arah pelayan yang tak kunjung pergi “Pesannya kalau Papa udah kembali ya?” tutur Arafah yang langsung membuat pelayan tersebut berlalu keluar


Adit yang sejak kemarin memaksa untuk ikut pada acara hari ini, tidak henti-hentinya menggoda Alvin yang sudah tampak ingin menendangnya keluar


“Ciahh yang bibirnya pucat mau ketemu sama calon mertua” ledek Adit tanpa henti


Arafah mengeluarkan liptint kesayangannya dari dalam tas yang ia pakai, menyodorkan pada Alvin yang duduk di sampingnya


Alvin menatap penuh tanya pada Arafah “Buat apaan?”


“Pakai dikit, biar gak terlalu pucat”

__ADS_1


Adit terbahak di tempatnya duduk “Sini Al, gue pakein. Biar lo cetar aduhai membahana astralala”


Dengan gerakan lembut, ia mengambil liptint dari tangan Arafah. Membuat kedua bola mata Adit hampir saja keluar dari tempatnya


Namun gerakan berikutnya dari Alvin, membuat Adit dapat menghela nafas lega


“Gak usah Fa. Entar juga normal sendiri” ucap Alvin seraya memasukkan liptint itu ke dalam tas Arafah


“Gue kira, lo udah mau melenceng”


“Heyy. Manusia bernyawa dengan nama Kak Adit, pakai liptint untuk laki-laki bukan satu kesalahan yah. Sekedar info” protes Arafah tidak terima


“Iya Fa, tau. Tapi lucu aja pasti kalau Alvin yang pakai”


Alvin menatap sinis Adit “Ya baguslah, lucu. Kalau di lo, malah jadi jijik” seru Alvin tanpa perasaan


Arafah juga Alvin tertawa puas melihat wajah masam Adit. Entah mengapa, hari ini begitu sial baginya. Selalu menjadi bahan bully sepasang manusia ini


Cukup tenang untuk sesaat, menunggu kedatangan Papa


BRUKKK


Suara hantaman yang begitu keras terdengar nyaring di dalam ruangan tersebut. Papa yang baru saja kembali, tiba-tiba melayangkan bogeman mentah untuk Alvin


“PAPAAA” Arafah berteriak kencang, takut


Mendapati Alvin yang sudah jatuh tersungkur dari atas kursi, Arafah ingin mendekati Alvin tapi tangan Papa sudah lebih dulu menahan pergelangannya


“Jangan dekati dia” ucap Papa tegas, menyembunyikan Arafah di dalam dekapan hangatnya


Mata Papa beralih pada Adit yang sudah berada di samping kepala Alvin. Merasa linglung atas apa yang baru saja terjadi


“Alvin. Bawa orang itu keluar dari sini, tidak sudi saya melihat wajahnya” Adit dibuat melongo di tempatnya. Merasa semakin janggal dengan situasi saat ini


Bibir Alvin yang sedikit robek, berusaha ia tahan pedihnya. Dengan sesekali merintih pedih, ia mencoba berlutut dan mendekati Papa yang menatap tajam padanya


“Saya Alvino. Laki-laki yang sudah jatuh terlalu dalam pada anak Om Hans, Arafah”


Wajah Papa semakin pucat, kepalanya pusing. Nafas yang keluar dari hidung mancungnya sudah tidak beraturan


Menyadari ada yang salah, Arafah segera memberontak. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Papa. Segera ia mendekati Alvin. Air matanya luruh begitu saja saat berhadapan dengan Alvin


“Mana yang sakit?” Arafah bertanya sesunggukan, mencoba meraih rahang Alvin yang sangat lebam


“JANGAN SENTUH DIA ARAFAH. DIA YANG BUAT KAMU KEHILANGAN ALULA DAN BUNDA”

__ADS_1


__ADS_2