Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 51 (SEMUANYA HANCUR)


__ADS_3

“JANGAN SENTUH DIA ARAFAH. DIA YANG BUAT KAMU KEHILANGAN ALULA DAN BUNDA”


Seluruh pasang telinga yang mendengarnya, terpaku diam di tempat. Terkecuali Alvin yang hanya dapat menunduk dalam diam


Arafah segera berdiri, berusaha menciptakan jarak antara dirinya dan Alvin. Nafas Arafah mulai tak teratur, ada sesuatu yang terasa meghimpit dadanya dengan sangat kejam


Bayangan memori gelap yang sejak lama berusaha ia kubur sedalam mungkin, kembali menari-nari indah dalam benaknya


Tak kuasa menahan isakan kencangnya, Arafah jatuh meluruh di atas lantai. Terisak memilukan yang sangat menyayat hati


Melihat Arafah yang mulai menyadari semuanya, membuat Alvin dengan langkah panjang segera mendekati gadis tersebut


Namun seperti sebelumnya, ia kembali mendapat hantaman keras dari Papa yang rahangnya mengeras marah


Adit segera membawa Alvin menjauh, menjadi tameng dari lelaki yang saat ini tatapannya sangat kosong


Tak kuasa melihat putri satu-satunya terisak, Papa segera membawa Arafah ke dalam pelukannya “Ayo sayang, kita pulang” ucap Papa lembut


Dengan wajah yang berlinang air mata, Arafah mengangguk cepat. Dadanya sudah sangat sesak mengetahui semuanya


Wajah babak belurnya, tidak membuat niat Alvin untuk menghentikan langkah Arafah terhenti. Matanya memerah, berusaha menahan cairan bening yang sebentar lagi akan luruh


“A..Arafah, dengarin aku yah?”


Alvin sama sekali tidak peduli jika saat ini harga dirinya sudah tak bernilai di hadapan lelaki yang pernah ia temui pada saat berkunjung ke makam Alula


Walau sangat terkejut mengetahui fakta bahwa Arafah adalah anak bungsu Om Hans, ia harus dapat mengontrol dirinya. Alvin harus mempertahankan Arafah


Mata hijau milik Arafah tak lagi menatapnya hangat, hanya kosong yang terlihat di netra menyerupai Papa “Vino?”


Satu kata yang keluar dari mulut Arafah, menyambut runtuhnya pertahanan Alvin. Egonya sebagai laki-laki sudah tak dapat dipertahankan, ia menangis di hadapan AraArafah


Adit menyentuh pundak Alvin, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia punya. Semua yang terjadi saat ini tentu saja dipahami olehnya


“Kak Adit” Arafah berucap pelan tanpa emosi “Pulang. Obati lukanya”


Setelahnya, Arafah melangkah keluar. Segera masuk ke dalam mobil Papa, membiarkan lelaki itu terlebih dulu mengurus masalah administrasi

__ADS_1


Sesak itu kembali terasa, air mata sudah meluruh kencang membuat paras ayunya memerah. Sesak di dadanya membuat nafas Arafah keluar tak teratur


Semuanya terasa begitu pedih, tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Semuanya sudah hancur karena satu kesalahan di masa lalu


Kesalahan yang membuatnya mengerti akan arti kehilangan. Tapi, apa harus? Kesalahan itu membuat Arafah kembali menyambut sang pergi?


-------------------------------------


“SADAR ALVIN. KONTROL DIRI LO”


Bentakan itu sudah tak dipedulikan lagi oleh Alvin. Di dalam kamarnya, ia sudah benar-benar kacau. Walau matanya sudah tak lagi menangis namun di dalam sana masih memberontak tidak terima atas takdir kejam yang disajikan waktu padanya


Melempar barang-barang yang terdapat di sana hingga membuat ruangan tersebut sudah tidak jelas bentuknya. Kakinya yang berdarah karena menginjak pecahan cermin tidak sebanding atas apa yang hatinya rasa


Ia jatuh terduduk di atas karpet. Menutup matanya dengan sebelah telapak tangan lantas kembali terisak


“ALVIN?”


Mama yang baru kembali ke rumah saat mendapati panggilan Adit, segera merengkuh tubuh Alvin yang bergetak ketakutan


Membuat Adit keluar, memberi waktu untuk Alvin menceritakan semuanya pada orang yang paling ia percaya


Mama semakin mengeratkan pelukannya pada Alvin yang semakin bergetar. Dapat ia rasa lengan bajunya yang sudah basah


Tak bisa melihat anaknya yang tak berdaya seperti saat ini. Mama ikut menangis, mengusap sayang puncak kepala Alvin


“Sabar sayang” dari sekian banyak kalimat penenang, hanya itu yang bisa keluar dari mulut Mama


Alvin melonggarkan dekapan Mama. Dengan berlinang air mata, ia menatap sendu Mama. Wajahnya yang lebam semakin membuat wanita itu tak kuasa menahan tangisnya


“Muka kamu kenapa?” tanya Mama seraya mengelus pelan sudut bibir Alvin


Alvin menggeleng pelan, sudah tak merasakan apa-apa lagi pada tubuhya yang terluka. Ia hanya takut, sangat takut


“Ma. Salah? Kalau Alvin gak bisa lepas Arafah? Alvin udah korbanin semuanya untuk dia, tapi kenapa semuanya hancur di saat-saat terindah dalam kisah Alvin?”


Tak bisa berkata-kata, Mama kembali menarik Alvin masuk ke dalam dekapan keibuannya. Membiarkan anaknya kembali rapuh seperti dulu

__ADS_1


Alvin yang selalu terlihat kuat di luar sana, menjadi kembali Alvin 4 tahun yang lalu. Jatuh pada titik yang tak pernah manusia manapun inginkan


“Alvin sayang sama Arafah” ucap Alvin serak


Mama mengangguk, mengelus pelan surai hitam Alvin masih dengan berlinang air mata


“Iya. Mama tau, semuanya tau”


Dada Alvin naik turun, terasa sangat sempit. Ia tak bisa membayangkan tentang setelahnya, tentang apa yang akan terjadi di saat ia sudah tak bisa melepaskan Arafah


Ia tau ini semua salahnya, tapi apakah ia benar-benar tak punya kesempatan untuk bahagia bersama peremuan selain Mama?


Tak pernah terlintas dalam benaknya jika Arafah merupakan adik Alula, gadis yang dulu sempat mengisi ruang kosong di dalam hatinya


Gadis yang telah pergi sangat jauh karena kesalahannya dimasa lalu


Alvin kembali runtuh. Sadar bahwa semuanya tak akan seindah dulu lagi, tak akan ada lagi Arafah yang selalu berdiri di sampingnya


--------------------------------------


“Adit” Mama memanggil pelan, membuat lelaki itu menoleh “Alvin kenapa bisa kaya gitu”


Adit menarik nafas panjang. Bingung harus memulai dari mana, tapi ia sedang tak ingin berbelit-belit diwaktu seperti ini


“Arafah, dia anak Om Hans Tan. Adiknya Alula”


Mendengarnya, membuat kaki Mama seakan sudah tak bisa menopang tubuhnya. Dengan sigap, Adit mendekat dan menuntun Mama untuk duduk di sofa


Segera ia memanggil asisten rumah tangga di rumah itu dan meminta segelas air putih. Berusaha menenangkan Mama yang nampak pucat di tempatnya


“Minum dulu Tan” kata Adit, menyodorkan segelas air


Mama meneguknya, lantas kembali menatap Adit “Yang pukulin Alvin, Hans juga?”


Dengan ragu, Adit akhirnya mengangguk. Membuat Mama membuang nafas kasar, tidak terima jika anaknya yang baru saja terlelap setelah diobati ternyata babak belur karena ulah lelaki tua itu


Ia paham jika Alvin pernah melakukan kesalahan di lampau. Tapi kenapa di saat seperti ini, saat Alvin sudah ingin membawa Arafah ke jenjang yang lebih serius

__ADS_1


Mama bahkan merelakan Alvin yang ingin menjadi muallaf demi Arafah karena tak ingin jika anaknya kembali jatuh ke titik terendah akibat dirinya


__ADS_2