
Suara tangisan yang menyesakkan dada menggema ke seluruh penjuru ruangan. Bersandar pada ranjang dengan memeluk sebuah bingkai foto hitam, itulah yang ia lakukan saat ini
Melampiaskan seluruh kerinduannya dalam tangisan, berharap akan membantu melonggarkan dadanya yang terasa sangat menyesakkan
“Sabar sayang, lupakan dia. Kamu juga harus bahagia, itu bukan salah kamu. Itu bukan salah kamu, perpisahan yang kamu rasa sama sekali bukan salah kamu. Itu namanya, dia bukan takdir kamu” wanita yang telah memasuki usia senja itu, mengelus sayang puncak kepala anaknya dan memeluk dengan sangat lembut
Tanpa bias ia cegah, nalurinya sebagai seorang ibu membuat air mata juga mengalir dari netra gelapnya
“Walau udah lama, aku belum bisa lupain dia. Aku harus apa?” tanyanya dengan suara serak, tersirat kerinduan yang sangat dalam dalam nada syahdu yang terucap pelan
“Lupakan dia pelan-pelan sayang, kamu pasti bisa. Mama tau anak mama yang satu ini kuat, dia pasti bisa” sang Mama menatap anaknya dengan penuh keyakinan yang sangat kuat
Tak sanggup lagi melihat anaknya yang telah terlalu lama berlarut dalam kepedihan dan kesedihan yang tak kunjung berakhir
Ternyata benar, waktu yang lama tak bisa menjamin bahwa kenangan bisa berpaling dan hilang dari memori anaknya
Bukannya memelan, tangisan itu justru terdengar semakin menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia semakin memeluk erat foto itu sebelum melonggarkannya dengan wajah memerah penuh air mata
Paras indahnya tertutupi dengan wajah yang memerah dan mata sangat bengkak. Ia memandang sendu Mama, menemukan kehangatan yang tidak terkira di dalam netra itu
“Bantu aku Mah”
----------------------------
Matahari di atas sana memancarkan sinarnya dengan sangat terik. Semua mahasiswa baru berkumpul dan berbaris dengan rapi di lapangan fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan wajah tak santai. Setelah diberi waktu istirahat shalat dan makan mereka kemabali dikumpulkan untuk mendengar agenda berikutnya
Seorang senior wanita dengan almamater hijau kebanggaannya berkicau di depan dengan nada tegas tak ingin mendengar bantahan “Sekarang kalian ke aula dan duduk sesuai dengan tim yang sudah dibagikan. Awas kalau saya dapat ada yang nyempil dikelomok lain, saya tendang kalian keluar aula”
__ADS_1
“Siap kak” serentak mahasiswa baru berseragam seperti yang sudah diajarkan sebelumnya
“Oke, sekarang ke aula” ucapnya terakhir kali sebelum berlalu dari tempatnya berdiri dan sekitar 150 maba berseragam segera berjalan dengan wajah kusam penuh keringat
dan terlihat kumel seperti anak tak terurus
Ada yang mengumpat, berkicau-kicau tak jelas, dan menyumpah serapahi seniornya yang membuat wajah glowing mereka harus buluk seketika karena dibuat berjemur dipanas matahari dalam waktu yang tak bias dikata cepat
Namun tentu semua itu dilakukan dengan suara teramat pelan, dan hanya mengeluarkan unek-unek hati, termasuk Gita dan Tiara yang saling merangkul berpelukan seraya berjalan ke aula persis orang gila
“Gue udah ga glowing kan Ta? Emang kampret ya tuh si senior sok galak, gue pites jidatnya kelepas tuh bedak 3 cm nya” umpat Tiara mengeluarkan suara hatinya dengan sangat membara
“Emang lo pernah glowing Ra?” Gita menatap aneh sang lawan bicara, masih dalam keadaan saling memeluk sambil berjalan yang membuat mereka jadi pusat perhatian
Mendengus nafas kesal, Tiara melepaskan diri dari Gita dan kembali mengumpat kecil. Entah mengapa gadis dengan rambut coklat panjang ini senang sekali mengumpat
“Gue glowing yah Gita, lo nya aja yang gak sadar kalo punya teman semulus, sebening dan selicin gue” Tiara menepuk-nepuk dadanya dengan wajah penuh kebanggaan
“Licin? Emang pernah lo liat lalat kepeleset di muka lo? Pernah liat nyamuk keseleo di dagu lo?
Tiara Nampak berfikir sebentar “Ya enggak gitu juga kali bambang”
“Eh tapi ngomong-ngomong enak banget ya sih Rafah gak perlu panas-panasan. Pasti lagi adem-ademan tuh anak di rumah ” lanjut Tiara seraya membahas temannya yang sedang tak berada bersama mereka
“Woi kadal jalan, Arafah sakit lo kata enak. Lo mau sakit juga? sini gue cariin cowok terus gua suruh tinggalin lo pas lo udah klepek-klepek sama dia. Nahh seru pasti tuh” kata Gita yang mengeluarkan pendapat anehnya
“Setuju gua, seru pasti tuh. Diusahain secepatnya yah Ta”
__ADS_1
Yah, Arafah memang sedang izin kali ini. Kondisinya memang sudah melemah sejak mereka bertiga masih duduk di bangku SMA
Tiga tahun menjalani lika-liku putih abu-abu membuatt mereka pada akhirnya memutuskan mengejar jurusan dan universitas yang sama. Universitas Permata Indah dan jurusan Ekonomi dan Bisnis menjadi pilihan yang kini sedang dilakoni bersama
Tiga orang gadis dengan watak, pembawaan dan keyakinan berbeda yang dibalut oleh mimpi besar yang mereka satukan agar dapat terealisasikan kedepannya
Gita dan Tiara terus saling bercakap dengan pembahasan-pembahasan aneh dimana salah satu pembahasan mereka yaitu ingin bolos hari ini untuk menemani Arafah yang sedang dalam kondisi tak cukup sehat
Niat itu tentu tak dapat menjadi kenyataan karena sudah membayangkan apa yang akan mereka dapatkan saat ketahuan nantinya
Kini mereka sudah masuk ke dalam aula fakultas Ekonomi dan Bisnis yang cukup megah untuk ukuran gedung pertemuan kampus. Desain interior yang megah dengan kursi yang dideret rapi, jangan lupakan beberapa pendingin ruangan yang Gita dan Tiara yakini tak akan mempan untuk banyaknya makhluk hidup dalam ruagan itu
“Eh kak Alvin mana yah Ta? Kok dari tadi gue gak pernah liat jidat mulus tanpa koreng kak Alvin” Tiara yang pada dasarnya memang pengagum para cogan, memutar pandangan mencari keberadaan sosok Alvin yang telah dimasukkan dalam daftar cogan idaman seorang Tiara
Gita mengedikkan bahu acuh “Pergi boker kali” jawabnya asal nyeplak
Tiara menatap polos Gita yang sedang mengedarkan pandangan mencari timnya “Emang cogan boker juga yah Ta?”
Menghela nafas panjang, Gita berusaha sabar menghadapi manusia tipe otak minimalis di sampingnya ini
“MENURUT LO RAZAK?” teriak gita dengan mata melotot tajam
“Yah kalo menurut gue sih Bambang, pasti bisa lah. Kan kak Alvin juga manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa” enteng Tiara menjawab tanpa menghiraukan pandangan aneh yang tertuju pada mereka
Gita menaikkan sebelash alisnya, heran
“Emang hubungannya apa?”
__ADS_1
“Gak ada hubungannya sih. Kaya lo sama Langit yang telfonan tiap malam tapi sampe sekarang gak punya hubungan. WAHAHAHAHAHAHA”
“EHH KALIAN 2 BIJI YANG DEKAT PINTU. NGAPAIN MASIH BERDIRI? MAU JADI SATPAM GRATIS KALIAN?”