Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 7 (Breaking News)


__ADS_3

"Dia cewek yang tadi digendong sama kak Alvin kan?”


“Iya deh kayanya. Pantas aja kak Alvin mau ngangkat cewek yang keringetan, la wong ceweknya bening kek gitu”


Bisik-bisik itu sudah menjadi sapaan di telinga Arafah sejak memasuki kantin 5 menit yang lalu. Bahkan beberapa pasang netra, memandangnya secara terang-terangan


Menunjukkan rasa penasaran yang sangat hebat bagi kau hawa, dan rasa kagum bagi kaum adam yang melihat pemandangan di depan mereka


Arafah dan kedua sahabatnya duduk enteng di salah satu bangku kantin tanpa terlalu mempedulikan ocehan-ocehan yang ia dengar


“Makannya pelan-pelan Ra, gak usah buru-buru kaya dikejar mantan” Arafah mengingatkan melihat cara makan Tiara seperti anak kucing yang tidak diberi makan satu minggu


Tiara menampilkan cengiran andalannya “Hehe, kalo diburu mantan gue mah ikhlas lahir batin. Dunia akhirat malah”


”Kok mantan lo pada mau yah pacaran sama spesies kaya lo?” heran Gita yang kembali mendatangkan pembahasan baru


Dengan agak kasar, hingga menghasilkan suara dentingan. Tiara melepaskan sendok dan garpunya di atas mangkok bakso yang belum habis sepenuhnya


“Lo ngeremehin gue? Ya jelaslah banyak yang mau pacaran ama gue. Gua kan orangnya penyayang”


“SINI WOI SIAPA YANG MAU GUA SAYANG-SAYANG” Tiara berteriak tanpa mengenal rasa malu dan sangat penuh percaya diri


Arafah dan Gita tanpa dikomandoi, kompak menyembunyikan wajah mereka dari pandangan-pandangan aneh yang dilemparkan oleh makhluk kantin


Tiara kembali mengunyah baksonya yang belum habis “Kalian pada kenapa dah? Jerawatan tuh muka nempel dimeja berminyak baru tau rasa”


“Sumpah Ra, lo kok bisa ga kenal malu banget” Gita mengangkat pelan-pelan kepalanya dari meja, meyakinkan diri bahwa pandangan-pandangan aneh sudah tak tertuju pada mereka


“Malu, siapa tuh malu? Gak pernah liat gua orangnya yang mana? Yang gua kenal tuh Kevin,Ardit,Bagas,Ucup sama Bontot. Mantan gua yang comel-comel kaya pantat panci”


“BWAHAHAHAHA” Tiara kembali melakukan aksi konyolnya, tertawa sangat keras seperti orang kesurupan

__ADS_1


“Kalo Arafah mantannya siapa-siapa aja?”


Entah datang darimana, Alvin menyerahkan satu kantong berwarna putih dengan logo apotik terkenal di hadapan Arafah


“Apa ini kak?” heran Arafah memandangi kantong tersebut


Alvin yang duduk di depan Arafah, menjadikan tangan kanannya untuk menopang dagu. Ia menatap lembut Arafah “Obat lo. Capek juga nyarinya nih obat. Gua lamar lo besok kalo gak minum obatnya"


SRETT


Gita menyambar kantong tersebut, menyembunyikannya di samping tempat ia duduk “Arafah susah banget kak kalo disuruh minum obat. Lamar aja dianya besok”


“Oke kalo gitu. Besok gua lamar lo, mau mahar apa?” Alvin semakin semangat menggoda Arafah


Sontak saja Arafah memebelalakkan kedua matanya, terkejut akan pernyataan Alvin dan Gita yang sangat terang-terangan. Tanpa sadar, sembrutan merah kembali terlihat dikedua pipinya


“Lo tambah cantik kalo malu-malu gitu Fa” ungkap Alvin yang semakin membuat Arafah menundukkan kepalanya, tak ingin menatap netra coklat lelaki di depannya


PROKK PROKK


“Gua ajarin lo sampe lo pro. Tapi dengan satu syarat” tawar Alvin yang terdengar menggiurkan ditelinga Tiara


“Apa syaratnya?” tanya Tiara penasaran


Alvin senyum-senyum tidak jelas “Lo harus buat Arafah suka sama gua”


“HAH?” teriak Arafah spontan


Alvin, Tiara dan Gita serta beberapa pasang mata kembali untuk keseian kalinya mengalihkan pandangan ke meja yang terletak di dekat penjual bakso


Cepat, Arafah mengucap banyak-banyak istighfar dalam hati karena kelepasan “Kak Alvin jangan terlalu frontal gitu dong” ia memperingati dengan suara cukup pelan

__ADS_1


Mendapat peringatan dari Arafah, Alvin menganggukkan kepala seperti anak kucing yang nurut kepada majikannya “Siap anak pa Handoko”


“Cihh, gak jantan banget kak Alvin. Kalo suka sama Arafah berusaha sendiri lah, gak boleh pake perantara. Situ pikir saya calo hubungan?” Tiara memasang tampang kesal dan menyeruput es tehnya sampai tandas


“Gue cuma bercanda kali”


Dan saat kalimat itu terucap, seorang gadis kembali menundukkan kepala. Memperbaiki hati dan mengucap istighfar


Sebanyak-banyaknya saat ia merasa kecewa ketika mendengar kalimat itu terlontar


“Gua balik yah. Masih ada yang harus gua urus” Alvin berdiri, berniat meninggalkan tempat itu, namun merasa tak mendapat tanggapan dari Arafah yang masih setia menunduk membuatnya kembali duduk


“Arafah” panggil Alvin dengan sangat pelan dan lembut


“Iya” Arafah menjawab panggilan tersebut tanpa mengubah posisinya


“Obatnya jangan lupa diminum yah?”


“Iya kak, makasih”


-------------


“Zafa, ini harus lo jadiin pelajaran buat kedepannya. Jangan gegabah,jangan suka ambil keputusan tanpa memikirkan dampaknya. Kalo lo mau hukum seseorang, tanya dulu. Dia kondisinya sehat gak? Badannya kuat kah kalo dihukum kaya gini?. Please kejadian kaya gini jangan sampai terulang lagi, kalo dewan kepemimpinan sampai tau bisa mati kita semua” Alvin berseru kesal di dalam ruang kesekretariatan mereka


Gadis yang sedang ia omeli, menunduk takut. Tak berani menatap mata lelaki di hadapannya “Maaf, gue gak tau kalo dia kondisinya lemah. Habis, dia kelihatannya baik-baik aja kaya orang gak punya penyakit”


Alvin menggeprak pelan meja yang membatasi antara dia dan Zafa “Dont judge a book by its cover Zafa. Lo taukan istilah itu? Gua kira tadi lo udah tanya tentang kondisi Arafah dan teman-temannya sebelum lo hukum. Ternyata enggak, lo terlalu gegabah ambil keputusan. Untung aja Arafah udah baikan” wajah tampan Alvin terlihat cemas mengingat kondisi Arafah


“Ohh, jadi namanya Arafah. Cewek berjilbab yang udah sukses buat Alvino Bagaskara mau nyentuh perempuan lagi?” Zafa menatap Alvin, mengeluarkan kata hatinya yang sedari tadi ia tahan


“Ehh bahasa lo kaya ngajak gelud. Kalimat lo barusan kedengaran kaya selama ini gue homo” gertak Alvin keras

__ADS_1


Mereka bebas mengeluarkan unek-uneknya satu sama lain sebab dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Alvin memang seorang pemimpin yang bijak, ia tidak ingin memarahi atau menegur orang yang ia rasa melakukan kesalahan di depan umum


Melihat mata Zafa yang mulai berkaca-kaca, Alvin bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati pintu. Tak peduli dengan si cengeng, Arzafa


__ADS_2