Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 57 (KATA HATI)


__ADS_3

Senyumannya terlihat sangat bahagia, memperhatikan baik-baik foto mereka yang ia sayangi. Ponsel di genggamannya menampilkan gambar dua orang yang tersenyum lebar, saling merangkul


Kontras dengan senyuman Arafah, air mata tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya. Tangisan haru dan juga kecemburuan


Seharusnya ia juga sudah mengenakan toga, berdiri di antara Tiara dan Gita yang lengkap mengenakan pakaian wisuda. Tertawa bahagia bersama dan mendengarkan hal-hal konyol dari Tiara, mengambil foto sebanyak mungkin dan mulai merancang masa depan bersama


Bukannya malah berada seorang diri di dalam kamar dengan laptop yang baru saja mati saat ketiganya menyelesaikan panggilan video selama hampir dua jam


Dalam tangisannya, Arafah sangat bangga. Tiara dan Gita telah berhasil menyelesaikan satu tahap dalam kehidupan mereka


Berbeda dengannya yang masih berjuang dalam dunia perkuliahan, berperang dengan tugas-tugas mahasiswa yang selalu menarik waktu banyak


Namun ia tak pernah merasa menyesal atas semua keputusan yang ia ambil untuk hidupnya. Mengulang masa perkuliahan dari semester awal sejak kepindahannya ke London juga termasuk


Saat iseng melihat kolom komentar pada postingan Tiara di instagram. Tatapannya jatuh pada sebuah username


@Alvino.Bagaskara: Congrats Ra


@Tiaraaaa: Thanks Kak


Ia tersenyum tipis. Menekan nama Alvin dan mulai melihat akun lelaki tersebut, masih sama. Tanpa postingan meski pengikutnya mencapai angka 30K


Dua tahun sudah berlalu, Arafah yang masih mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi. Tak memberi ruang kepada siapapun yang mencoba mengisi hatinya


Membiarkan tempat itu diisi oleh sisa-sisa kenangan tentangnya bersama Alvin.


“Bagaimana keadaan laki-laki itu sekarang? Apa ia baik-baik saja?” Batin Arafah


Tangannya sudah sedari tadi gatal untuk melihat insta story Alvin. Tapi ia tak ingin hanya karena satu story, membuat semua pertahannya hancur


Ia rasa Alvin telah hidup dengan baik. Diumurnya yang sekarang, tentu lelaki itu sudah kerja sekarang. Masuk ke dalam dunia yang baru


Tak ingin memikirkannya lebih lama, Arafah segera meletakkan ponsel dan laptopnya di samping bantal. Kemudian memilih untuk tidur sebentar, menyiapkan tenaga untuk begadang dan menyelesaikan tugas-tugas


------------------------------

__ADS_1


Tangan Arafah terus bergerak menuliskan rancangan bisnis yang merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan untuk semester ini


Sesekali ia mengetukkan pena ke meja, lantas mulai mendesain plan bussines di atas kertas yang cukup besar. Setelah dirasa sudah ada kejelasan dari apa yang ia tuju, Arafah menghempaskan badannya di atas karpet


Menghela nafas lega, tugas yang cukup menyita waktu. Tangannya bergerak asal untuk mencari handphone, waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari


Arafah mengambil jedai dari atas meja rias kemudian mencepol asal rambut panjangnya. Melihat wajahnya yang nampak sangat tidak segar, terlalu lama memandangi laptop dengan radiasi tinggi


Segera ia mengambil air wudhu dan berniat untuk melakukan shalat tahajjud. Sesuatu yang hampir setiap hari sudah menjadi bagian dari rutinitas


Dalam sujud terakhir pada tahajjudnya, Arafah berdoa cukup lama. Sebelum bangkit dengan wajah memerah dan penuh akan jejak air mata


*Assalamualakium warahmatullah


Assalamualaikum warahmatullah*


Tangannya tergerak ke atas, bermunajat kepada sang maha pencipta. Tanpa bisa ia cegah, lagi-lagi Arafah menangis


Merasa lelah atas pelariannya selama ini. Arafah kesepian, ia merasa sendiri. Bagai kehilangan arah untuk masa depan yang telah ia rancang apik


“Ya Allah. Beri aku jalan untuk bisa melepaskannya, beri aku alasan agar bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi”


Terlalu sesak membayangkan pelariannya yang sudah terlau jauh, ia ingin kembali. Tapi Arafah terlalu takut akan jatuh pada kisah yang sama


Ditariknya nafas panjang “Aku mau melepaskan semuanya Ya Allah, aku tidak bisa kalau harus terus seperti ini. Lari entah sampai kapan” adunya kepada sang pencipta


“Beri aku jalan Ya Allah” doanya diakhiri dengan mengusap wajah pelan, membiarkan mukenahnya agak lembam karena harus menyapu bekas air mata


Sebuah notifikasi terdengar nyaring dari ponsel Arafah, ia berdiri. Meraih benda persegi tersebut dan duduk di ujung kasur


Satu dirrect message masuk dari akun Tiara. Dibukanya dengan cepat, penasaran mengapa gadis itu mengiriminya pesan dini hari begini


Ahh ia lupa, Indonesia sudah pagi saat ini. Dahi Arafah mengernyit heran, merasa ada yang janggal dengan pesan Arafah yang cukup asing


@Tiaraaaa : Arafah maafin gue. Gue gak pernah bayangin kalau bakal kaya gini jadinya, maafin gue Fa

__ADS_1


@Arafah.Eliza : Lo kenapa? Jangan buat gue takut deh, skype yah. Sekarang”


Tanpa perlu menunggu balasan dari Tiara yang langsung membaca pesan Arafah. ia segera membuka laptop dan duduk di depannya


Tak lama, wajah Tiara nampak dalam layar “Muka lo kenapa? Habis nangis?” tanyanya panik


Tiara sesunggukan di sana, mengusap kasar bekas air mata pada pipinya “Lo habis nangis juga?”


“Oke. Pertanyaan gue udah terjawab” Arafah menyela cepat “Lo kenapa?”


Entah mengapa, Tiara benar-benar nampak kacau, kembali menangis. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan “Maafin gue Fa, maafin gue. Gue salah besar ke lo”


Arafah memberi waktu selama beberapa saat kepada gadis itu sebelum angkat bicara


“Jangan buat gue takut sendiri deh Ra. Di sini masih tengah malam. Kenapa? Sini cerita”


Tiara menggelengkan kepalanya “Lo sahabat gue. Gue sayang sama lo”


Tiba-tiba perasaan Arafah tak karuan, merasa ada keganjalan yang sedang terjadi. Arafah berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh itu dari benaknya


“Iya gue tahu. Tapi lo kenapa?” tanya Arafah berusaha tenang


“Dia datang Fa pagi ini ke rumah gue, bawa Mamanya. Gue gak tau dia mau ngapain datang tiba-tiba, kita gak sedekat itu. Sampai bilang ke Papa kalau mau lamar gue”


Arafah tertawa kencang, bahkan sampai memeluk perutnya sendiri. Jika saja Tiara ada sampingnya, sudah pasti akan menjadi tempat cubit Arafah


Merasa sangat lucu atas sikap Tiara yang seperti ini “Ciee. Ada yang entar lagi bakal jadi istri orang” mulai melancarkan aksi godanya


Tak memperhatikan wajah Tiara yang nampak pias di sana, sangat cemas “Araf...”


“Gue kira apaan. Tau-tau udah ada yang lamar, kirain apa? Bikin panik aja lo” ujarnya santai, memutus pembicaaan Tiara


Arafah memperbaiki posisi duduknya, tegap. Menatap lamat-lamat Tiara yang sangat aneh


“Siapa cowok gila yang mau lamar cewek bar-bar kaya lo?”

__ADS_1


Tiara diam, tak menanggapi ucapan Arafah. Membuat gadis itu berdecak kesal “Astaga Tiara, cepetan. Penasaran gue”


“Alvin Fa. Dia lamar gue pagi ini”


__ADS_2