Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 53 (PERGI)


__ADS_3

“ALVINO BAGASKARA” Mama berteriak kesal, sangat kencang


Membuat Alvin dengan sedikit ringisan kecil akibat luka disudut bibir, akhirnya menoleh


“Alvin harus bicara sama Arafah Ma. Alvin gak bakal rela kalau masa depan Alvin hancur karena masa lalu” ucapnya memohon


Mama melewati jam besar yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, selang 20 menit setelah kesadaran anak sulungnya kembali


Menggenggam erat kedua tangannya “Luka kamu belum kering na. Entar kalau ke sana malah dapat luka baru lagi”


Alvin menggeleng tegas “Lebih baik luka kaya gini Ma, ketimbang harus mati hati lagi”


Terdengar Mama menghela nafas pendek “Tunggu di sini. Mama antar” putus Mama mutlak


Dengan cepat, Alvin menahan lembut pergelangan tangan Mama yang baru saja berbalik “Jangan Ma. Entar masalahnya tambah ruwet kalau Mama ketemu sama Om Hans dalam kondisi kaya gini. I know you Mom”


Mau tidak mau, Mama akhirnya mengalah. Memberi izin kepada Alvin untuk melangkah keluar dari rumah walau dengan setengah hati


“Bawa mobilnya jangan ngebut sayang”


Alvin berbalik sekilas, mengangguk.


Tersenyum hangat pada Mama yang masih menatapnya cemas, mencoba mengatakan dalam pandangan itu bahwa ia akan baik-baik saja


Di dalam mobil, ia memjamkan mata. Berusaha menghilangkan pikirannya yang sudah tidak-tidak. Seraya mengatur nafas, Alvin mulai melajukan mobilnya keluar dari rumah


Bergabung dengan padatnya jalanan Jakarta di malam hari. Mencoba tidak emosi karena beberapa kali disalip kencang oleh pengendara ugal-ugalan


Dan di sinilah ia sekarang. Berdiri bagai orang bodoh di depan pagar tertutup. Menelisik ke dalam, mendapati pintu rumah Arafah yang sudah tertutup rapat


Seraya memantapkan hati, Alvin menekan bel yang terdapat di samping pagar walau sudah sangat tak sabar ingin bertemu dengan Arafah lantas menjelaskan semuanya


Hanya sekali bel itu bergema, membuat kepala seseorang muncul dari balik pintu. Matanya menyipit, sedang menerka-nerka tentang siapa yang datang selarut ini


“SIAPA?”


Alvin menyenter wajahnya sendiri menggukan blitz handphone “Gue Ra. Alvin”


“BANGKE. KAGET GUE” umpat Tiara kesal

__ADS_1


Bagaimana tidak? Alvin yang tadinya berdiri di bawah gelap sang langit, tiba-tiba menyenter wajahnya sendiri


Tiara yang mengenakan jeans selutut dan kaos yang agak kebesaran, segera membuka kunci pagar. Masih dengan raut kesalnya akibat terkejut


“Bawa makanan gak? Kalau gak bawa, gak boleh masuk” Tiara menghadang dengan melebarkan kedua tangan


Alvin berdecak kesal “Gak sempat beli Ra. Gue kesininya buru-buru banget” ucapnya mecoba memberi pengertian


Tiara mendengus, sedikit cemberut “Ya udah. Mau apa ke sini?” tanya Tiara sedikit ogah-ogahan


“Ya mau ketemu sama Arafah lah. Ya kali mau bercocok tanam” Alvin menyahut ketus


Dengan lirikan mata, Tiara menyiratkan Alvin “Mau tunggu di dalam atau di sini?”


Sontak saja, Alvin membulatkan mata terkejut “Arafah gak ada di rumah?”


“Ya gak ada lah. Kalau ada, ngapain juga nyuruh Kakak nunggu?” celetuknya kesal, mengikuti nada bicara Alvin


Kini Alvin tak banyak bicara, hanya duduk di dekker lantas menyelonjorkan kaki panjangnya “Tunggu di sini aja”


Mencoba mencuekkan Alvin, Tiara segera masuk dan kembali menutup pagar. Tapi ternyata gadis itu masih mempunyai hati


“Masuk aja deh Kak, entar diceritain tetangga kalau Kak Alvin nongki di sini” Tiara berpegang pada pagar, persisi seperti orang dibalik jeruji besi


Tiara mengangguk pasrah, ada benarnya juga sih “Ya udah. Yang tabah yah Kak”


Alvin dengan gerakan gesit segara menatap Tiara. Seperti merasakan hawa yang tidak enak dari ucapan gadis itu barusan


“For what?”


“Nyamuk di sini ganas-ganas. Apalagi kalo liat Kak Alvin yang anak baru, nyamuknya jadi menggila”


Alvin berdecak sinis “Lo yang gila”


Tiara tentu saja tidak terima, ia melempar tatapan maut “Ihh. Dikasih tau juga” kesalnya


“Saran gue sih, Kak Alvin lebih baik kenalan dulu sama nyamuknya, biar akrab gitu. Kali aja nyamuknya jadi kasihan”


“Udah deh Ra. Capek gue dengar kegilaan lo, masuk sana” usir Alvin tanpa perasaan

__ADS_1


“Kampreto” Tiara mengumpat pelan sebelum melangkah menjauhi Alvin yang nampak tak ingin diusik


TRINN TRINNN


Dering panggilan dari ponsel Tiara, membuat gadis itu segera mengangkatnya. Membuat perhatian Alvin kini tertuju pada Tiara


“Sorry yah gue baru bilang sekarang. Gue lagi bareng Papa, kayanya gue bakal pergi sebentar. Gak tau baliknya kapan. Sampein ke Gita yah?”


“Ehh, nih bocah en...”


Belum sempat Tiara memborbardir Arafah, panggilannya sudah terputus. Saat ia mencoba untuk menghubungi kembali, hanya suara perator yang terdengar


“Kak, pulang gih”


Sebelah alis Alvin naik. Apa gadis ini ingin membalasnya?


“Gak mau” ucapnya tegas


Tiara kembali mendekat “Tadi yang nelfon Arafah, dia bilang mau pergi sebentar. Gak tau baliknya kapan”


Mata Alvin meotot tidak percaya. Segera ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mencari kontak Arafah dengan gerakan cepat


“Nomornya udah gak aktif”


Alvin tak peduli, ia menekan ikon panggilan dan menempelkan benda persegi tersebut pada teling kanannya


“Dibilangin juga. Gak mau percaya banget” gerutu Tiara saat mendapati wajah Alvin yang nampak pias


Badannya jatuh meluruh, duduk di atas tanah. Membuat gerakan refleks Tiara segera membawanya mendekati Alvin


Menyentuh pundak lelaki itu yang terlihat lemah. Alvin mengusap kasar wajahnya “Arafah gak bilang mau pergi ke mana?” tanya Alvin penuh harap


Namun segera musnah tak berbentuk saat mendapati gelengan dari Tiara


“Kalian kenapa? Berantem? Bukannya tadi Kak Alvin udah makan siang sama Om Handoko?”


Tak ada jawaban dari Alvin, terlalu fokus menebak-nebak kemana Arafah pergi. Ia tak bisa seperti ini, semuanya tak boleh begini


Tiara yang tak sebanding kekuatannya dengan berat Alvin, mencoba membawa lelaki itu untuk duduk kembali di atas dekker

__ADS_1


Alvin masih tak bergeming, hanya memandangi tidak percaya pada handphonenya yang masih ia genggam erat. Mencoba melampiaskan semua rasanya pada benda persegi itu


Tiara akhirnya paham, bahwa ada sesuatu yang sedang menanti di depan tentang hubungan beda kepercayaan ini


__ADS_2