
Arafah yang masih setia mengenakan mukena, mengantar Alvin sampai di teras. Mewakili Tiara dan Gita yang sudah sangat malas bergerak
Kondisi seperti ini adalah hal yang paling ingin ia hindari, setelah mengetahui fakta tadi malam. Arafah tak ingin jika imannya yang belum terlalu kokoh dapat digoyahkan dengan perasaannya terhadap Alvin
Dalam hati, gadis itu selalu berdoa. Semoga rasa yang sedang ia perankan terhadap Alvin, hanyalah angan semu yang sebentar lagi akan hampa
“Makasih Fa, teh sama cheese cakenya enak. Gak sia-sia gue keringetan di warung depan”
Arafah mendongak, wajar saja. Tingginya dengan Alvin cukup berbeda, ia hanya sebatas dada lelaki itu saja “Sama-sama Kak” ujarnya seraya tersenyum tulus
“Gue pamit yah” langkah Alvin perlahan mulai menjauh dari Arafah
Namun belum juga sampai di pagar. Alvin berbalik, menatap dalam netra hijau milik si gadis bermukena. Ada desiran hangat yang mengisi hatinya, wanita itu kembali membuat Alvin memendam rasa yang sudah lama ia lupakan
“Kenapa kak? Ada yang ketinggalan? Biar aku ambilin”
Gelengan Alvin membuat Arafah merasa sedikit keheranan. Senyuman hangat miliknya, kembali ia lempar kepada perempuan yang masih berdiri di teras. Tapi tak seperti biasa, tersirat rasa bersalah di dalamnya
“Maafin gue Fa” ujar Alvin pelan yang tentu masih dapat terdengar dengan jelas
Lipatan di dahi Arafah semakin terlihat “Maaf buat apa?”
Alvin membuang nafas kasar seraya menundukkan kepala. Memandangi rumput hijau yang tentu tak lebih menarik dari paras ayu si gadis
Keheningan mengisi selama beberapa saat, membiarkan desiran aneh terus bergejolak di dalam hati. Sebelum Alvin dengan berani kembali menatap manik Arafah
Dengan yakin, ia tersenyum sangat tulus “Maaf Arafah, hati gue udah didominasi sama lo. Gua gak bakal nuntut lo buat tanggung jawab karna udah jatuh hati, kaya yang dulu pernah gue bilang. Tapi tolong, izinin gue jalanin semua ini dengan cara sendiri”
--------
BRUKK
__ADS_1
“ARGHH GILA GILA GILA. KAK ALVIN SABLENG, BOBROK, NYEBELIN”
Arafah masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah. Suara bantingan pintu yang terdengar sangat keras, membuat Tiara dan Gita segera mendatangi tempat kejadian perkara
Hal yang tak pernah ia duga, terpampang nyata saat ini. Pemandangan yang jarang dilihat oleh Gita dan Tiara lihat selama tiga tahun bersahabat dengan Arafah
“GILA GILA GILA. ENTENG BANGET ITU MULUT NGOMONG, YA ALLAH”
Bak orang yang sedang mengalami depresi berat, Arafah yang sudah melepas mukenah dan berguling-guling dengan sangat aneh di atas lantai ruang tamu. Kedua penonton aksi Arafah, hanya dapat menggeleng takjub
Gadis yang selalu terlihat dewasa,anggun dan berwibawa kini nampak seperti anak SMA yang baru saja diputuskan oleh kekasihnya
“Gita, Tiara. Kak Alvin gila banget, aslinya sableng. Dia gak mikirin perasaan gue” Arafah yang masih berguling tidak jelas, memandangi kedua gadis itu secara bergantian
Masih tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini, Gita serta Tiara hanya melongo tidak percaya, memandang dengan takjub. Ternyata tamu yang baru pulang dari rumah mereka adalah alasan gilanya Arafah saat ini
“HWAAAA, DASAR MANUSIA SOK GANTENG”
Lelah bergerak tidak jelas, Arafah berbaring terlentang membentuk bintang. Menatap lurus ke langit-langit ruang tamu dengan bibir manyun
Melihat temannya sudah lebih waras, Gita serta Tiara duduk bersila di sisi kanan dan kiri Arafah yang mulai tenang
Gita merapihkan rambut panjang Arafah yang menutupi wajah cantiknya “Diapain lagi lo sama Kak Alvin? Dia larang lo suka sama dia atau gimana?”
“Parah emang tuh satu human, tenang aja Fa. Entar kalo gue liat batang idungnya Kak Alvin, gue bakal wakilin lo buat tendang anunya” ucap Tiara dengan mata berapi-api disertai kalimat akhir yang sedikit ambigu
Arafah memandangi Tiara dan Gita secara bergantian. Ia menggeleng tak ada gairah “Enggak, Kak Alvin gak ngelarang gue suka sama dia kok. Tapi tetap aja nyebelinnya pake banget”
“Terus dia bilang apa sampai lo udah kaya anak perawan batal nikah?” tanya Tiara dengan ceplosan asalnya
Gita mengangguk semangat, mendukung pertanyaan Tiara. Teramat penasaran mengapa Arafah yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja jika berhubungan dengan laki-laki, kini sangat mengenaskan akibat ulah Alvin
__ADS_1
“Masa Kak Alvin bilang kalo dia udah jatuh hati sama gue” jelas Arafah dengan wajah sendunya
Tak ada respon terkejut atau kaget berlebihan yang dilontarkan oleh Tiara maupun Gita. Mereka justru memasang mimik aneh, dahi berkerut dan bibir yang melongo
Tiara menatap lekat Gita disertai wajah serius “Arafah kayanya gak sehat Ta, perlu dibawa kedukun ini anak. Tenang aja, gue punya kontak dukun, kemarin nemu di fb. Dijamin terpercaya setelah gue baca komentar ibu-ibu hits”
“Aduhh” satu jitakan diberi dengan ikhlas oleh Arafah
Gadis itu memberenggut kesal “Gue masih sehat walafiat Tiara. Cuma lagi dilema gue, mikir omongan Kak Alvin”
“Wahh dilema. Enak banget tuh dibuat jus” ceplos Gita asal
Tiara terseyum kecut “Itu delima sayangku. Gak lama gue buang juga nih anak di selokan depan”
Gita tertawa receh, merasa lucu jika diomeli dengan Tiara yang notabenenya merupakan anak paling kecil diantara mereke bertiga. Arafah tertua dan Gita berada ditengah
“Hehe. Ehh back to nih orang gila baru”
Dikatai seperti itu oleh Gita membuat Arafah mendelik kesal “Gue gak gila woy, gak sakit juga. Cuma lagi galau berat”
Tiara memandang lamat gadis yang masih menyerupai bentuk bintang “Lo dilema atau galau berat sih Fa? Curiga nih gue kalo lo udah komplikasi dihati”
“Wahh sukses besar nih Kak Alvin udah berhasil buat seorang Arafah kelimpungan gak jelas kaya ibu-ibu lagi mikirin cicilan” decakan kagum keluar dari mulut Gita
“Cihh dasar teman kampret. Gue lagi galau bukannya dihibur atau kasih solusi malah ngebanyol gak jelas, untung sayang” decihan pelan lolos dari Arafah
“Lo suka juga kan sama Kak Alvin? Suka sama suka, ya pepet ajalah terus. Siapa tau jodoh”
Tertawa pelan Arafah dibuat oleh saran tidak masuk akal Gita “Lo lupa kalo gue beda kepercayaan sama Kak Alvin. Kalau sahabatan kaya Tiara mah gampang, gak ada penghalang. Lah ini? Kalo udah masalah hati mah LDR paling ekstrem”
Gita dan Tiara manggut-manggut mendengar penuturan Arafah. Benar juga, hubungan dengan status beda kepercayaan adalah rasa yang paling sulit dan berat untuk dijalani. Akhir dari hubungan seperti ini, sudah bisa ditebak seperti apa
__ADS_1
Hanya ada dua kemungkinan. Berpisah atau melepas kepercayaan diantara salah satunya