
“Apa? Gila nih cowok” Tiara menatap nyalang “Mau lo itu apa sih Kak?” menghunus tepat pada mata Alvin
Alvin nampak berpikir kemudian memasang senyum lebar “Gelud aja yuk. Dah lama gue gak baku hantam” ujarnya santai “Mau gak? Lapangan outdor kampus kayanya lagi gak dipakai. Sana aja yok, baku hantam kitanya”
Baru saja Tiara menggulung lengan baju kaosnya dengan wajah garang. Adit yang sedari tadi hanya menjadi penonton, langsung menghalau Alvin dari pandangan Tiara
“Eitss mau apa lo?” tanya Adit ngegas “Jangan lo apa-apain dulu nih barang satu. Entar yang ada, bonyok iya nikah kagak”
Tiara menatap nyalang Adit “Minggir, atau lo yang gue hantam” katanya yang terdengar tak main-main
Tak ingin jika dia yang menjadi korban keganasan Tiara, Adit yang tadinya memasang wajah songong langsung mundur teratur seraya cengengesan macam kuda
Gita yang menyadari jika amarah Tiara sudah tak dapat terkontrol, segera menggenggam erat tangan kanan gadis itu. Berusaha menenangkan
Tiara memang pengagum para cogan, tapi jika sudah satu spesies dengan lelaki yang duduk di hadapannya. Ia tak akan main-main untuk menghantam Alvin, hitung-hitung untuk mempraktekkan jurus taekwondo yang sempat diajarkan oleh Ayahnya
“Sabar Ra, jangan pakai emosi”
“Laki-laki kaya gini gak bisa diladeni pakai hati Ta. Harus pakai urat, biar tau diri dianya” Tiara berkobar emosi “Cowok tipe apa lo Kak? Segampang itu pergi, terus dengan mudahnya datang lagi dan langsung lamar Arafah”
“Tipe 45 kali” celetuk Alvin membuat amarah Tiara semakin menjadi-jadi
“Lo pikir tipe rumah BTN”
celetuk Adit
Ketika tangan Tiara sudah ingin melempar kedua lelaki itu menggunakan toples tupperware. Suara Arafah terdengar panik
“Astaghfirullah Tiara. Nyebut-nyebut, bisa dicoret nama lo dari KK kalau Tante Angel tau toplesnya dilempar-lempar”
Seraya mengatur nafasnya. Ia meletakkan kembali toples di atas meja dan menatap nyalang Arafah yang sedang menyajikan lima gelas jus alfukat serta beberapa makanan ringan
Wajar saja Arafah tidak mendengar perdebatan di ruang tamu rumahnya sebab suara blender yang cukup untuk membuatnya bahkan tak bisa menangkap suara sendiri
__ADS_1
“Ini juga nih cewek, mau-mau aja terima lamaran si kutu beras” kesal Tiara saat Arafah duduk di sampingnya. Membuat ia diapit oleh Gita juga Arafah
“Woii. Lo pernah liat kutu beras punya muka se kece gue? Ya kali tampang limited edition kaya gini lo samain sama kutu beras” protes Alvin tak terima yang langsung mendapat tatapan peringatan dari Arafah
Seakan dari tatapannya sedang mengatakan “Biarkan saja dulu Tiara berkobar”
“Tiara udah, diam dulu. Atur emosi lo. Biar gue yang ngomong” kata Gita lembut
Tiara menyandarkan badannya pada sandaran sofa, berusaha mengontrol emosi. Tentunya tanpa melepas tatapan membunuh untuk Alvin
“Maksud Kak Alvin sebenarnya apa? Kakak sendiri yang minta Arafah untuk lupain hubungan kalian yang lalu, terus tiba-tiba datang kembali dengan maksud yang sangat tidak tertebak” tanya Gita pelan, lebih terkontrol dari Tiara
Arafah turut menatap Alvin. Menantikan jawaban dari segala tanya yang saling beradu dalam benaknya
Punggung Alvin ia luruskan, meneguk jus yang telah dibuat Arafah “Wait. Gue minum dulu, seret”
Membuat Tiara memutar bola mata jengah “Ya elah, ngomong tinggal ngomong aja kali. Gak usah pake improv”
“Arafah. Tiara bisa dikurung dulu gak? Kaya di gudang gitu? Bacot banget nih anak, kaya pengen gue tendang”
Tak ingin memperpanjang masalah, atau lebih tepatnya karena sudah kalah bicara dari Tiara. Alvin memilih untuk menjawab pertanyaan Gita
“Gue nyuruh Arafah buat lupain status kita yang lalu karena saat itu gue udah ada rencana buat bawa hubungan ini ke arah yang lebih jelas” Alvin memulai penjelasnnya “Tapi saat itu gue belum bisa jelasin semuanya ke Arafah”
Ketiga gadis itu masih diam, dengan mimik wajah yang masih terlihat sangat bingung. Menantikan kejelasan Alvin selanjutnya
Sejenak Alvin menghela nafas pelan “Hanya melindungi Arafah dari segala kemungkinan terburuk. Gue takut kalau niat gue sampai kebaca sama Arafah, nanti malah ada harapan yang tumbuh. Sedangkan saat itu gue masih belum bisa pastiin kalau niat ini bakal berakhir sesuai dengan keinginan gue sendiri”
Arafah mulai paham, seakan sudah mendapat kejelasan dari jawaban semua teka-tekinya. Ia mengangguk paham, tanpa memotong pembicaraan
“Selama gue udah gak berhubungan sama Arafah. Saat itu gue mulai melancarkan semua niat gue. Mulai dari minta restu Mama sampai kesemua keluarga besar Mama dan Papa. Ini yang paling gak mudah” fikirannya mulai menerawang pada waktu dimana ia sedang berjuang
“Mama yang selalu dukung semua keputusan gue, merestui niat gue untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius bareng Arafah. Namun agak sulit untuk mendapatkan restu itu dari keluarga besar gue, tapi akhirnya dengan bantuan Mama akhirnya mereka luluh juga. Walau butuh waktu dan usaha yang lebih”
__ADS_1
Mendengar segala penuturan Alvin, membuat dada Arafah seakan terhimpit. Tanpa mengetahui segalanya, ia telah membiarkan Alvin berjuang sendirian. Lagi
“Tapi dari sini gue percaya, hasil tak akan menghianati semua usaha” Alvin tersenyum menghadap ke arah Arafah “Makasih udah mau terima aku lagi”
Mata Arafah berair mendapati Alvinnya telah benar-benar kembali, membawa berita yang sangat menyenangkan. Ada sesuatu yang seakan mendorongnya untuk mengeluarkan air matanya begitu saja
“Ehh kok malah nangis sih?” Alvin berujar panik “Aku ada salah ngomong?” tanyanya yang sudah berlutut di depan Arafah
Arafah menggeleng tanpa suara, membiarkan Alvin menghapus jejak air matanya menggunakan tisu yang ia ambil dari meja
“Ya udah, jangan nangis. Entar bedaknya luntur” canda Alvin, membuat tangan Arafah sontak memukul pelan kepala Alvin
“Kok digeplak? Entar kalau aku tambah ganteng gimana?”
“Helloww. Yang hubungannya?” ceplos Tiara yang terus mengamati interaksi keduanya
Alvin mendelik sinis pada Tiara “Diem lo jomblo”
Tiara yang mendengarnya, melotot tak terima “Heyy kutu beras. Jomblo-jomblo gini, gue banyak yang demen yah”
“Serah lo. Semua jomblo sefakultas juga gitu ngomongnya kalau udah dikatain”
Tiara yang sudah malas berdebat dengan Alvin, memilih untuk diam dan duduk bersila seraya meneguk jus buatan Arafah
Saat memastikan jika Arafah sudah baikan, Alvin kembali duduk di samping Adit yang sudah enek melihat keromantisan yang tak pernah ia enyam
Alvin meninju lengan kanan Adit yang fokus pada cemilan yang sedang ia pangku “Woi jomblo, napa lo? Diam-diam aja dari tadi”
Seraya menutup mata sejenak, Adit mengelus dada “Ataghfirullah. Gue dari tadi diam loh yah. Kok masih kena mulut pedis lo juga sih?”
“Orang kaya dia gak usaha ditemanin Kak. Buang aja di rawa-rawa biar tau rasa” saran Tiara pada Adit
Aditpun mulai membayangkan hal tersebut. Hingga tanpa sadar membuat ia menarik seulas senyum licik, tapi segera dihentikan oleh Alvin
__ADS_1
“Gak usah bayangin yang aneh-aneh lo. Yang ada, lo yang gue buang kembali ke London. Kelamaan di Indo, entar lo malah jadi bule rasa lokal”