Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 46 (DEMI KAMU)


__ADS_3

“Kak Alvin kenapa sih?” Arafah bertanya dengan nada kesal


Mulai jengah mendapati Alvin yang tiba-tiba berubah lagi. Lelaki ini kembali cuek padanya dan itu tentu tak bisa Arafah abaikan begitu saja


Alvin tak menanggapi kekesalan Arafah. Seakan menganggapnya sebagai angin lalu yang tak memerlukan perhatian darinya


Arafah beralih menatap Adit yang masih fokus menyetir “Kak Adit apain Kak Alvin? Kok jadi bisu gini” tuduhnya menatap garang Adit


“Ya Allah. Sumpah, calon suami lo gak gue apa-apain. Tanya aja sendiri sama dia, dianya kenapa?” kesal Adit yang masih menyetir


Jika saja Alvin tidak berada di samping Adit, ingin rasanya ia menjitak mulut Arafah yang asal menuduhnya. Tapi tentu saja Adit masih sayang nyawanya sendiri


Entah sejak kapan gadis ini mulai berani pada Adit. Bisa jadi sejak ia merasa jika punya Alvin sebagai tameng yang akan selalu melindunginya


Namun bisa juga karena Arafah yang sudah bingung mendapati Alvin yang kembali berubah. Arafah hanya takut jika Alvin kembali seperti sebelumnya


“Kak Alvin kehabisan stok suara atau gimana sih? Mau aku kasih stok bacotan aku gak?” Arafah menyindir, berusaha menarik perhatian Alvin


Namun sayang, Alvin masih tak mengindahkan usahanya yang masih berusaha mencari perhatian. Alvin masih setia dalam diamnya


Arafah membuang nafas kasar “Ya udah kalau gak mau ngomong, aku juga gak bakal ngomong sama Kakak”


“Cuihh. Kaya bisa aja” celetuk Adit yang dihadiahi tatapan sinis dari Arafah yang terlihat menggelikan


Sangat tidak cocok pada wajahnya yang terlihat menggambarkan watak lemah lembut milik gadis itu


Saat mobil Alvin berhenti tepat di depan rumah makan minang, Arafah sudah tak bisa menahan kekesallnya saat Alvin turun begitu saja


“Kak Alvin kenapa sih?” Arafah bertanya lembut pada akhirnya


Adit yang belum turun, mengedikkan bahunya “Gue gak punya hak buat ngomong Fa. Lo coba aja ngomong baik-baik sama dia, kali aja bakal luluh”


Saran Adit sepertinya bisa ia coba, keduanya turun dan mengikuti langkah Alvin masuk ke dalam rumah makan


Saat mereka makan, tak ada yang buka suara. Adit langsung beranjak pergi masuk ke dalam mobil sesaat setalah mencuci tangan. Memberikan ruang pada Alvin dan Arafah

__ADS_1


Alvin menyodorkan dompet kulitnya pada Arafah “Bayar Fa. Aku mau ke toilet dulu” ucap Alvin sebelum berlalu


“Key sipp” Arafah menerimanya dengan senyum lebar, merasa senang saat kembali mendengar suara Alvin


Bak anak kecil, ia berjalan seraya melopat kecil. Terlihat sangat girang, membuat seulas senyum pilu terlihat dari Alvin yang memandangi Arafah dari jauh


“Seberat ini ternyata”


Arafah menunggu Alvin di depan rumah makan. Senyumannya tak pernah berhenti mengembang, memperhatikan isi dompet yang berada digenggamannya


Ditepuknya pipi pelan masih dalam keadaan tersenyum lebar, rona kemerahan sangat terlihat di sana. Jika saja saat ini dirinya tengah berada di kamar tentu Arafah akan melompat bak orang kesetanan lagi nonton konser


“Sadar woi. Lo dari tadi diliatin orang kaya lagi liat orang gak waras” tegur Adit yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya


Arafah menatap mata Adit yang berwarna kebiruan, tersenyum lebar “Biarin aja Kak, gak peduli. Bukan mereka kok yang bayarin UKTku tiap semester, aman” ujarnya santai


Adit mengangguk “Bener juga sih” menelisik pada sesuatu yang sedari tadi ditatap oleh Arafah “Liatin apa sih?”


“Kepo. Orang kepo cepat mati” ceplos Arafah asal


“Berani?”


Arafah memeletkan lidah mengejek, Alvin datang dari belakang dan sedang melucutinya menggunakan tatapan mematikan


“Ya enggaklah, gue belum nikah. Ya kali udah jadi mayat duluan” Adit bergidik ngeri membayangkan hal tersebut


Bobrok-bobrok begini, dia juga punya mimpi untuk membangun sebuah rumah tangga kecil dilengkapi dengan bayi kembar yang selalu menjadi harapan terbesarnya


“Menghayal dulu sajalah, nikahnya nanti kalau udah mapan” itu adalah prinsip hidup seorang Adit yang menjadi pegangannya hingga saat ini


Mereka masuk ke dalam mobil, Alvin sedari tadi hanya memperhatikan Arafah yang terlihat tak ingin melepaskan dompet miliknya


“Liat apa sih Fa? Kepo banget gue” tanya Adit tak sabaran


Gadis itu muncul di tengah-tengah, membuka dompet Alvin dan menunjukkan dengan bangga sesuatu yang berada di dalamnya

__ADS_1


Adit menyempatkan diri untuk sesekali melirik apa yang sedang diperlihatkan oleh Arafah, matanya menyipit “Apaan? Alvin punya banyak credit card?”


“Ihhh bukan, Kak Adit kok loading banget sih? Pantas sampai sekarang masih jomblo” kesal Arafah


“Yang hubungannya?” tanya Adit menatap jengah pada Arafah yang belum merubah posisinya


Arafah memutar bola mata kesal “Gak tau. Liat baik-baik deh” ia menunjuk-nunjuk isi dompet Alvin “Ini loh”


Adit turut menatap sinis pada Arafah “Ya elah, foto doang udah senang kaya gitu”


“Dihh, kok Kak Adit julid banget sih? Kaya admin lambeh” ia menghempas badannya pada sandaran mobil


“Dompet Kakak” Arafah mengulurkan dompet Alvin, tersenyum bahagia. Berbanding terbalik saat berbicara dengan Adit


Alvin menerimanya tanpa suara, ia membuka dompetnya dan memperhatikan lamat-lamat foto Arafah berlatar merah yang ia curi dari postingan instagram gadis itu


Dalam fotonya, Arafah sama seperti sekarang. Tersenyum lebar tanpa beban, membuat Alvin harus kembali putar otak memikirkan masalahnya saat ini


Ia harus bagaimana saat perasaannya sudah sangat dalam pada sosok gadis yang duduk tenang di belakangnya? Alvin harus apa saat tahu bahwa ia takkan mungkin bisa melepaskan gadis ini?


Namun menagapa terasa seberat ini?


Terlalu fokus pada masalahnya, membuat Alvin tak sadar jika Arafah sudah turun dari mobil. Ia mengetuk pelan kaca samping Alvin


“Ehh?”


Alvin segera turun, keduanya saling adu pandang. Alvin yang tak kuasa menahan rasa itu, menunduk. Merasa tak sanggup memandangi mata Arafah yang selalu hangat


“Kakak kenapa? Udah mau cerita?”


“Kenapa harus seberat ini sih Fa? Niat aku itu baik, aku mau jadi muallaf biar kita bisa tetap kaya gini. Biar kita bisa sama-sama terus. Tapi kenapa aku ngerasa seakan sedang dipersulit?” matanya menatap menuntut pada Arafah


Arafah mengerutkan keningnya bingung “Maksud Kak Alvin?”


Alvin meletakkan tangannya pada lengan Arafah “Ustad Rizki bilang niat aku masih melenceng. Emang salah kalau niat aku masuk Islam demi kamu?”

__ADS_1


__ADS_2