Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 6 (Pingsan)


__ADS_3

Seluruh pandangan di sekitar lapangan, jatuh pada tiga orang maba yang sedang dihukum di tengah lapangan. Terlambar 1 setengah menit adalah alasan mereka berakhir di sana


Di bawah teriknya matahari tanpa perlindungan sedikitpun


“Kampret tuh kak Zafa, orang cuma terlambat entar dihukumnya segini parah. Gua doain tuh orang sehat selalu” gerutu Tiara yang masih menundukkan kepala


“Udahlah, la wong memang kita yang salah” Arafah berusaha memberi pengertian kepada Tiara yang sedari tadi terus saja menggerutu tidak jelas


Gita membuang nafas pelan, seakan menikmati kondisi yang dirasakan saat ini “Enak tau Ra kena sinar matahari pagi-pagi. Vitamin nih buat tubuh, biar lo gak jatuh kalo kena angin”


“Eh Gita anak pa Bambang yang paling comel. Gua ga sekurus itu yah, cuma kekurangan daging aja dikit” Tiara menjelaskan dengan sangat absurd


Mereka tertawa, tanpa beban. Menikmati saat-saat yang akan dirindukan nantinya, ingin mengulangi namun masa sudah tak memungkinkan


Gita memandang seorang lelaki dengan almamater hijau toska yang terlihat pas di tubuhnya “Eh tapi enak banget yah kak Alvin, gak dihukum dianya”


“Hahaha, ya iyalah gak dihukum. Emang siapa yang bisa hukum ketua panitia” Arafah tertawa pelan


“Benar juga sih kata lo. Tahun depan gua mau ah jadi ketua panitia, biar kalo ngelakuin kesalahan gak perlu dihukum. Gua mau ngerampok tas maba, ambil makanan dikantin terus gak bayar, kan enak. Ga bakalan ada yang bisa hukum ketua panitia” ungkap Tiara yang tengah melancarkan aksi imajinasinya yang tergolong sangat ekstrim


“Aduhh” satu jitakan pelan mendarat mulus di dahinya, hadiah dari Arafah


“Bukan gitu cara kerjanya kampret” Gita memandang tak percaya pada sosok di sampingnya


“Gimana emang cara kerja yang benar?” tanya Tiara menuntut penjelasan dari Gita


Bukannya menjawab pertanyaan Tiara, Gita hanya mengedikkan bahu acuh. Memilih diam karena yakin bahwa setelah ia menjawab akan ada pertanyaan-pertanyaan aneh selanjutnya dari Tiara


“Ishhh” Tiara mendesus kesal melihat Gita


Merasa ada yang kurang, Tiara dan Gita mengalihkan pandangannya pada satu sosok yang tak lagi ikut dalam pembahasan mereka. Suara dan tawa Arafah tak lagi mereka dengar

__ADS_1


Pantas saja, bibir pink Arafah kini sudah kering dan pucat. Keringat meluncur bebas dari dahinya, dan nafas yang ia keluarkan mulai tak teratur


Langsung saja Tiara menggenggam kedua tangan Arafah yang agak dingin “Lo harus istirahat”


Arafah yang melihat kecemasan dimata Tiara dan Gita berusaha melepaskan tangan Tiara dari tangannya “Gua gak papa Ra, masih kuat kok guanya” seraya meberi seulas senyum tipis yang terlihat dipaksakan


“Arafah please, lo harus ingat kondisi badan lo. Lo gak boleh mendzalimi diri sendiri” Gita berusaha meyakinkan Arafah


“Ya udah ayo” ia akhirnya memilih mengalah, merasa benar atas apa yang baru saja diucapkan Gita


Dengan pelan dan sangat hati-hati. Tiara serta Gita membantu Arafah untuk sampai di pinggir lapangan agar bisa istirahat di sana


Namun naas baru saja beberapa langkah mereka lewati, Arafah sudah tak mampu menopang tubuhnya. Ia berlutut dengan pelan karena masih mendapat bantuan tenaga dari kedua sahabatnya yang setia memegang tangannya


Sontak saja semua orang yang menyaksikan pemandangan tersebut dibuat panik seketika. Beberapa senior segera mendekati Arafah


“Lo gak papa?” tanya salah satu senior yang mengakibatkan mereka berakhir di sana, Zafa


“Udah Ra, sabar” Gita berusaha menenangkan Tiara yang memang kadang sangat susah untuk dikontrol


Percakapan itu adalah kalimat terakhir yang samar-samar tertangkap indera pendengaran Arafah sebelum akhirnya ia benar-benar jatuh terbaring di tengah lapangan


Untung saja Gita dengan sigap bergeser dan menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk kepala Arafah


“ARAFAH” suara itu menggema dengan sangat keras, mengalihkan seluruh perhatian kepada seorang lelaki yang menumpahkan minumannya


Tanpa peduli dengan sepatunya yang agak basah akibat minuman yang baru setengah gelas ia minum, Alvin berlari mendekati Arafah. Raut kecemasan sangat kentara di pahatan wajah itu


“Ra, Arafah” Alvin menepuk-nepuk pelan pipi Arafah yang penuh dengan keringat, berharap bahwa dengan begitu Arafah akan sadar


“Ihhh kak Alvin, pipi teman saya gak usah ditepok-tepok gitu dong. Entar kalo chubbynya hilang, kak Alvin mau tanggung jawab hah?” kembali Tiara menyerukan kekesalan untuk kesekian kalinya

__ADS_1


“Gue angkat Arafah ke ruang kesehatan, lo tahan roknya dia di betis jangan sampai lepas” perintah Alvin tanpa menghiraukan unek-unek Tiara


Tiara yang diminta Alvin untuk menahan rok Arafah, segera berdiri. Bersiap mengikuti intruksi dari Alvin


Dengan sangat pelan dan hati-hati, Alvin meletakkan tangan kanannya di bawah leher Arafah dan tangan kirinya di bawah lutut Arafah. Saat Alvin telah berdiri dengan Arafah di gendongannya, Tiara segera mengikuti intruksi Alvin


Tanpa perlu menunggu aba-aba, Alvin membawa Arafah ke ruang kesehatan kampus. Gita dan beberapa orang senior mengikut dari belakang


“Ta, buka pintunya” pinta Tiara saat mereka tiba di depan ruangan itu


Gita dengan cepat bergeser ke depan untuk melakukan perintah Tiara. Saat masuk ia menepuk-nepuk bantal di atas kasur memastikan bahwa tak terlalu keras yang bisa mengakibatkan leher Arafah sakit nantinya


Saat dirasa bahwa bantal tersebut tak terlalu keras, Gita mundur dan mempersilahkan Alvin serta Tiara untuk membaringkan Arafah di atas sana


“Arafah punya riwayat penyakit?” Alvin


memandangi Arafah yang terlihat sangat kelelahan, entah mengapa ia merasa sesak di bagian dada melihat Arafah yang terkapar dalam kondisi lemah seperti saat ini


“Dia ada riwayat anemia dari SMA kelas 1 kak” jelas Gita yang kini mengelap bekas keringat Arafah menggunakan tisu dari kantong bajunya


Sementara Gita yang telaten membersihkan wajah Arafah dari keringat, Tiara mengipas-ngipas Arafah dengan buku tipis tentang pertolongan cepat yang ia dapat di atas nakas


“Kita bawa Arafah ke rumah sakit yah” Alvin menawarkan, merasa tak tega melihat kondisi Arafah. Terlebih menyadari bahwa ia dan rekan-rekannya yang lainlah penyebab Arafah berakhir di ruangan kesehatan ini


“Gak usah kak, udah mendingan kok” itu bukan suara Gita maupun Tiara. Suara itu berasal dari Arafah yang sudah sadar dari pingsan singkatnya


Dengan badan yang masih cukup tak bertenaga, ia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk, dibantu oleh Gita dan Tiara. Ia merasa sangat tak nyaman dipandangi beberapa pasang mata dalam kondisi tengah berbaring


“Yakin gak perlu ke rumah sakit Fa?” tanya Alvin ingin memastikan kondisi Arafah


Arafah tersenyum tipis “Gak perlu kak, saya cuma butuh istirahat sebentar” ucap Arafah berusaha meyakinkan

__ADS_1


“Kalo kondisi lo kaya gini biasa minum obat apa? Biar gue beliin”


__ADS_2