
“ALVINO, TURUN DULU SARAPAN” Gisel berteriak tepat di depan telefon rumah yang berada di dapur. Meletakkannya kembali tanpa mau menunggu balasan Alvin
Perempuan berdaster itu tetap terlihat sangat menawan diusianya yang tak lagi muda. Ia fokus menata berbagai macam makananan di meja untuk sarapan, ditemani dua orang asisten rumah tangga
Setelah dirasa cukup, Gisel menuju ke kamar Juna. Melihat apakah Juna sudah bangun dan siap untuk berangkat sekolah
Kala mendapati si bungsu sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk bergambar transformers yang melilit badan gembulnya, Gisel membantu Juna untuk memakaikan seragam
Juna yang memang kadang bersikap sok dewasa, sempat membuat mamanya geleng-geleng sendiri. Seperti ia yang mau mandi sendiri namun tetap butuh bantuan Gisel untuk membantunya memakai seragam, sebab banyaknya atribut yang belum ia ketahui cara memakainya
Ibu dan anak itu keluar dari kamar Juna dengan bergandeng tangan. Mendengar celetukan-celetukan Juna saat ia ke taman kemarin sore
“Terus nih Ma, ada kakak cantik juga yang temenin Juna bareng Kak Alvin. Tapi lupa namanya siapa, hehe” ujar Juna saat mereka baru saja keluar dari kamar
Senyum Gisel terulas tipis “Oh ya? Kakak cantik itu temannya Kak Alvin atau siapanya?”
Pipi Juna mengembung, ayunan tangannya perlahan berhenti. Ia nampak berfikir dengan bibir yang mengerucut “Gak tau Ma. Tapi kakak cantik itu orangnya baiiiiik banget, Juna suka sama kakak cantik itu”
“Gak boleh. Kakak cantik itu punyanya Kak Alvin” celetuk Alvin yang baru saja menapaki anak tangga terakhir kemudian mencoel pipi gembul Juna
Juna menatap kesal ke arah Alvin“Serah Juna dong. Kakak cantiknya juga gak masalah, ngapain Kak Alvin yang sewot. Wleee”
Dan setelahnya terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam rumah mewah itu. Juna tertawa riang menghindari Alvin yang berusaha memeluknya, hal sederhana yang membuat hati Gisel terenyuh hangat
Gisel duduk dimeja makan, memandangi Alvin dan Juna yang masih tak menghentikan aksinya “Udah lari-lariannya. Entar keringatan lagi, bau”
“Happ” Alvin tertawa bangga ketika berhasil membawa Juna dalam dekapannya dan mendudukkan anak itu di samping Gisel lantas ia juga duduk di hadapan Mamanya
Jari Alvin menunjuk tupparware besar yang berada di depannya“Mau nasgor mom”
Wanita cantik itu berdiri untuk menyendokkan nasi goreng dan telur kepiring, menggeser sandwich yang semula berada tepat di depannya
Ia baru mulai makan saat melihat kedua buah hatinya sudah makan dengan lahap. Memperhatikan Alvin dalam diam
__ADS_1
“Kenapa Ma? Alvin tambah ganteng yah?”
“Gwaantengan juga Jwunaa” kata Juna dengan mulut penuh sandwich
Tangan kiri Gisel terulur untuk menyapu puncak kepala Juna “Hush. Habisin dulu makanannya dimulut, baru Juna boleh ngomong” dengan polos anak itu mengangguk, meneruskan sarapannya
“Mama kenapa liatin Alvin kaya gitu? Kaget liat anaknya tambah mempesona dan wow astralalanagala” tanya Alvin
Gisel tersenyum, khas keibuan “Ini baru namanya anak Mama. Kapan-kapan ajak kakak cantik itu makan malam di sini yah. Bilangin kalo calon mama mertua yang unyu banget mau ketemu”
Tanpa perlu berfikir dua kali, Alvin menganggukkan kepala “Iya. Nanti Arafah, Alvin ajak dinner bareng Mama. Mama pasti suka sama dia, orangnya kalem-kalem ngangenin gitu”
Kepala Gisel sedikit condong ke depan, lebih dekat dengan Alvin “Mama pasti suka sama siapapun dia yang bisa tarik kamu keluar dari masa itu” bisiknya pelan kemudian tersenyum hangat
Mereka kembali melanjutkan sarapan dengan pembahasan seputar kampus Alvin dan sekolah Juna. Walau Gisel bukan tipe Mama yang sempurna, namun ia selalu berusaha menghabiskan waktunya bersama para putra kesayangan jika sedang berada di rumah
“Habisss” Juna menyandarkan tubuhnya dikursi seraya tangan kanan mengelus-elus perutnya
Gisel segera berdiri “Juna tunggu di sini yah, Mama antar ke sekolah. Mama ambil cardigan dulu”
“Gak usah. Kamu jemput aja Arafah sana”
Segera Alvin memberi hormat dengan punggung tegak, membuat Gisel tergelak kemudian berlalu
“Kakak mu yang paling tampan ini pergi dulu yah”
“Ya iyalah paling tampan. Kan kakak Juna cuma Kak Alvin”
Alvin yang baru saja berdiri tersenyum penuh arti pada Juna yang sekarang sedang meneguk susu dengan kedua bola mata yang menatap polos padanya
“Untung sayang. Kalau nggak, udah gue buang lo di semak-semak pasar”
“MAMA. MASA KAK ALVIN BILANG KALAU DIA MAU BUANG JUNA DI SEMAK-SEMAK PASAR” lapor bocah itu menggunakan suara yang melengking keras
__ADS_1
Gisel muncul masih dengan menggunakan daster namun sudah dibalut dengan cardigan panjang berwarna hitam “Alviiinn”
Alvin cengengesan kemudian mencium pipi kanan Gisel dan segera menuju kemobilnya dengan tas ransel yang ia sampirkan di bahu kanan
Lelaki itu mengeluarkan handphone berwarna silver dari kantong kemeja yang ia kenakan, mencari kontak seseorang kemudian menekan panggilan
Sambil menunggu panggilannya dijawab, handphonenya ia letakkan di atas dashboard dengan tombol speaker yang aktif dan mulai membawa mobil ke jalanan yang ramai
“Pagi Arafahnya Alvin” sapa Alvin ceria saat bukan lagi nada panggilan yang terdengar
Gadis di sana tak kunjung menjawab. Tersipu dengan senyum malu-malu yang membuat kedua sahabtnya menatap Arafah aneh dan takut
“Pagi Kak Alvin”
“Gue udah jalan ke rumah yah” lapor Alvin sementara matanya fokus melihat jalanan
“Iya Kak. Rafah udah siap-siap ko”
“Gak usah cantik-cantik Fa. Lo mau, tanggung jawab kalau gue tambah sayang?”
Astaga. Kekuatan Arafah sukses besar merubah hari-hari Alvin menjadi lebih berwarna. Pertemuan singkat yang bahkan tak sampai satu bulan namun ia sudah merasa sangat yakin pada wanita berhijab yang subuh tadi Alvin telfon untuk mengatakan bahwa akan menjemputnya
“Dihh receh” balas suara diseblah sana seraya tertawa, membuat hati lelaki itu kembali menghangat
“Biarin. Receh-receh gini, gue limited edition loh. Gak bakal didapat walau lo cari sampai di pasar loak”
Arafah tertawa lepas akibat ucapan Alvin. Membuat Tiara maupun Gita semakin menyadari bahwa temannya satu biji ini sedang kasmaran
“Ya udah, serah Kak Alvin. Asal Kakak bahagia”
“Makanya, lo harus bahagia juga. Kayanya hati gue udah milih, kalau bahagia lo akan jadi bahagianya juga” ucap Alvin tulus “Gue matiin yah. Gak lama lagi sampai. Babayyy”
Alvin berhenti disuatu bangunan yang tak terlalu besar, turun dari mobil dengan telefon genggam yang ia apit diantara bahu kanan dan telinga kanan
__ADS_1
Seorang gadis cantik yang nampak seumuran dengannya, menyambut hangat kehadiran lelaki itu saat ia masuk ke dalam