
Hiruk pikuk kota dapat Arafah saksikan dari tempatnya sekarang. Duduk di atas rooftop sebuah cafe samping kampus yang cukup terkenal
Membiarkan semilir angin meniup-niup wajah menawannya. Sesekali mata berbalut bulu mata tebal itu terpejam, menikmati hangatnya mentari dan sejuk si damai
“Halo Fa. Tumben sendirian? Anak lo dua biji mana?”
Suara lelaki yang terdengar tidak asing, menyambut pendengaran Arafah. Perlahan ia membuka mata, tersenyum getir melihat siapa yang duduk di hadapannya saat ini
“Ngapain ke sini Kak? Tumben sendirian? Anak Kak Adit yang sebiji kemana?” tanya Arafah tanpa mempedulikan pertanyaan lelaki itu
Adit yang masih mengenakan setelan andalannya ketika di kampus, tertawa geli. Menyeruput latte yang entah sejak kapan berada satu meja dengan red velved milik Arafah
“Anak gue yang sebiji-biji masih ada kelas. Kenapa? Mau, gue panggilin ke sini?”
Ketika tangan Adit bergerak untuk mengambil handphone dari saku jeansnya, ia langsung dicegat dengan tatapan memohon dari Arafah
Arafah berucap pelan “Jangan Kak. Susah-susah aku hindarin Kak Alvin sebulan ini. Nanti malah gagal move-on kalo liat muka dia”
Adit menghelan nafas pelan “Ya elah Fa. Saran gue sih, lo gak usah susah-susah berjuang buat move-on. Yakin 100% gue, gak bakal berhasil” badannya ia sandarkan ke kursi kayu yang iia tempati
“Jangan paksa diri lo sendiri, kalau emang gak bisa. Entar ujung-ujungnya malah lo yang sakit sendiri”
“Terus maksud Kak Adit gimana? Aku harus terus menerus punya rasa untuk orang yang sama sekali udah gak punya rasa buat aku. Gitu?”
Rentetan pertanyaan Arafah yang sangat serius, justru dibalas kekehan konyol oleh lelaki di depannya. Ia menatap lurus manik hijau Arafah
“Ambil kesimpulan dari mana? Jangan sok tau deh. Kalau sok iye sih oke-oke aja”
Mata Arafah memicing pada Adit “Gak tau aja Kak Adit, gimana kata-katanya Kak Alvin pas minta udahin semuanya. Nyelekit banget. Mana ada orang yang seenteng itu kalau masih punya rasa?”
Adit bangkit dari duduknya, menyampirkan kembali ransel yang tadi ia letakkan di bawah. Tangannya masuk ke dalam saku jeans
Ia tersenyum lembut pada Arafah hingga membuat matanya menyerupai bintang
“Jangan suudzon gitu, gak boleh. Lo gak tau apa yang ada di hati Alvin, tau kan kalau Alvin itu orangnya susah banget ditebak?”
__ADS_1
Arafah mengangguk mengiyakan “Iya. Asli, susah banget ditebak. Untung sayang, kalau gak udah ku jadiin tahu isi tuh cowok satu”
Langsung saja Adit tertawa ngakak di tempatnya, tak mempedulikan tatapan-tatapan aneh yang tertuju padanya.
Untung saja ia memiliki tameng tampang, jadi kesalahannya sedikit berkurang
“Harus banget gitu tahu isi? Bakwan kek, tempe kek, atau gak somay aja” saran Adit
“Ya elah, somay mah salah server. Dia bukan anak gorengan”
Keduanya menertawai kebodohan masing-masing. Tanpa sadar jika sedari tadi sudah diperhatikan oleh seseorang yang masih setia berdiri ditangga namun segera turun kembali
“Gue balik yah Fa. Inget pesan gue, lo gak tau apa yang ada dihatinya Alvin”
Setelah mengatakan itu, Adit berbalik. Berjalan dengan sangat keren, meninggalkan Arafah dalam kebingungan yang melanda
“Adawwwwwww” jeritan itu terdengar dari arah belakang Arafah
Membuat semua mata tertuju pada Adit yang jatuh terjerembab dengan posisi tengkurap
“Anjirr. Baru juga mau keren-kerenan mumpung banyak ciwi-ciwi”
-------------------------------------
“Kampret, tegang banget. Gue udah kaya mau dijatuhin vonis hukuman mati” ucap Adit yang tengah duduk berhadapan di meja makan rumah Alvin
“Sekali lagi gue tanya. Ngapain lo ketemu sama Arafah?” Alvin mengulang pertanyaannya dengan wajah datar
Dari tempat Adit duduk, ia tertawa receh seraya memasang tampang songong “Serah gue dong. Lo kan udah udahan sama Arafah. Bebas lah siapa aja mau dekatin dia”
“Napa tuh muka? Mau? Gue tonjok kanan kiri atas bawah?” ancaman Alvin terdengar serius yang langsung membuat Adit mengeluarkan topeng polosnya
Alvin membuang nafas kasar “Lo tau apa alasan gue udahin hubungan itu sama Arafah” matanya menatap lurus Adit “Gue cuma mau minta, bantu gue”
“Ini udah dibantu” sanggah Adit gesit
__ADS_1
“Bantu dengan cara ngopi bareng dia? Itumah lonya yang keenakan” kata Alvin sinis
“Udahlah. Salah emang minta tolong sama orang yang otaknya seperempat kaya lo”
Adit memandang garang pada lelaki dihadapannya “Wahhh. Ngeremehin gue nih bocah. Liat aja satu minggu ke depan, lo bakal terpukau dengan cara gue” bantah Adit tak terima
Alvin yang mendengar kepercayaan diri Adit hanya membalas dengan anggukan malas
“Awas aja kalau gue gak terpukau. Gue tendang lo balik ke London”
“Siapa yang mau kamu tendang hah?” tanya Mama yang baru saja masuk ke dapur
“Alvin Tan. Masa dia bilang mau tendang Adit balik ke London. Kan Aditnya jadi sakit hati” adu Adit teramat lebay
Tentu saja ia tak pernah merasakan sakit hati dengan Alvin. Mereka berteman bukan sebulan dua bulan, tapi sudah bertahun-tahun
Bukan hanya Adit tapi begitu juga dengan Alvin. Perkataan-perkataan sinis dan tajam seakan sudah mati rasa untuk saling melukai hati
Pandangan Mama mengarah pehuh peringatan pada Alvin kemudian kembali beralih pada Adit“Kamu sudah makan?”
Alvin menggeleng “Belum Tan. Tadi cuma ngopi”
Mama mengeluarkan bahan-bahan makanan dari lemari pendingin “Makan disini aja. Biar Mama masakin, kamu mau makan apa?”
“Apa aja Tan. Adit pemakan segalanya kok. Kecuali kerikil asam manis sama pasir goreng, Adit gak suka”
Mama tertawa dari arah dapur “Ya udah tungguin. Alvinnya kalau jahat, tendang aja keluar. Kalau perlu, sekalian sampai rumahnya pa RT”
Alvin menganga tidak percaya “Anak Mama siapa sih?”
“Sorry yah. Anak Mama ada 4 biji, bukan cuma kamu aja. Alvin,Adit,Arafah,Juna” kata Mama yang tengah sibuk dengan urusannya
“Yahh. Kalau Arafah adiknya Alvin, berarti gak bisa nikah dong. Ya kali, abang nikahin adiknya sendiri” celetuk Adit yang langsung mendapat tatapan menghunus tajam dari Alvin
“Diem lo monyet”
__ADS_1
“Apa lo buaya?”
“Jangan ngumpat di sini Alvin,Adit. Ini rumah Mama yah, bukan kebun binatang. Kita ke kebun binatangnya nunggu weekend dulu. Kali aja ada diskon”