Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 11 (Bimbang)


__ADS_3

“Ehem, seret nih tenggorokan. Kayanya perlu dielus-elus nih tenggorokan gue pake jus jeruk” Adit yang sedang berada di rumah Alvin, membuat koda-kode keras


“Ambil sendiri aja di bawah bangke. Gak usah kaya anak baru di sini, sana gih” Alvin mengibaskan tangannya, mengusir lelaki itu dari dalam kamar


Merasa sangat malas bergerak, terlebih mengingat jika harus menuruni tangga. Membuat Adit melancarkan aksinya


“Aduhh kaki gue sakit banget. Wah, kegajahan pasti nih kaki” dengan sangat menghayati, Adit meliuk-liukkan badannya di atas karpet bludru itu, seakan tengah merasakan sakit yang luar biasa


“Kegajahan?” lelaki yang tengah sibuk dengan macbook di depannya, menaikkan sebelah alisnya. Merasa sangat asing dengan bahas itu


“Ho’oh. Semut terlalu gemesh buat sakitin cowok semacho gue” jelas Adit yang kembali membuat Alvin kagum pada dirinya sendiri


Tentu saja ia kagum. Bayangkan, 5 tahun bersahabat dengan manusia seperti Adit yang otaknya setengah-setengah


“ADUHH, KAKI GUA KAYA MATI RASA. TOLONGIN YA ALLAH”


“WAHH, KAYA MAU LEPAS NIH RASANYA KAKI GUE”


Merasa tak mendapat respon dari Alvin, ia kembali melancarkan aksi absurdnya “YA ALLAH, KALO INILAH SAATNYA. TOLONG AMPUNI DOSA-DOSA HAMBA”


“Amiin” jawab Alvin yang kini sudah mengalihkan fokusnya dari tugas-tugas


Dengan setengah ikhlas, ia berdiri dari sofa kamarnya. Menendang pelan kaki Adit yang masih saja melancarkan aksinya


Alvin menelfon seseorang dengan menggunakan telefon rumah yang terletak di nakas samping tempat tidurnya


“Mbo, tolong bawain jus jeruk dua gelas sama brownies yang dibeli mama kemarin siang ke kamar Alvin”


"Iye den"


“Oke. Makasih”


Lelaki yang mengenakan kaos putih dan celana selutut itu, mengakhiri panggilannya dan meletakkan kembali telefon rumah itu di tempatnya

__ADS_1


“Tambah sayang deh dede Adit sama abang Alvin kalo kaya gini” dengan sok imut, Adit menampakkan tampang menjijikkan dipandangan Alvin


“Gak usah kaya anak anjing lo, emang udah mirip soalnya. Tuh brownies mau basi besok, makanya gue kasih lo. Biar imun lo tambah kuat”


“Bangke lo. Gua doain lo gak jodoh sama Arafah. Aminn” Adit berteriak dengan penuh kekesalan


Mendengar doa yang diucapkan Adit, membuat Alvin panik. Ia dengan senyum manis, duduk di samping lelaki bule itu


“Jangan gitu amat dong doanya. Lo mau makan apa? Cireng? Nugget? Roti bakar? Bakpau? Atau apa? Kasih tau ke gue biar gue suruh mbo Inem bawain ke sini” Alvin menawarkan dengan penuh semangat


“Bawain semua yang lo sebutin tadi ke depan gue sekarang” wajah Adit nampak songong, dengan gaya bossy ia menunjuk meja tepat di hadapannya


Bak pembantu, Alvin berdiri dan kembali menelfon pelayan di rumahnya “Mbo, tolong gorengin Cireng sama nugget yah. Roti bakar juga dua porsi sama bakpau satu ke kamar. Bawanya sekalian aja sama jus jeruk yang tadi”


“Iya. Makasih ya Mbo”


“Puas kan ? Tarik cepat doa lo” Alvin mendecik sinis pada lelaki yang sedang tertawa puas di karpet bludru abu-abunya


Bukannya apa. Alvin trauma dengan doa Adit, setiap kali dia mendoakan sesuatu tentang Alvin. Hal itu pasti akan terjadi, seperti minggu lalu. Ketika dia ketumpahan jus, itu juga diawali dengan doa Adit karena kesal dengannya


Pandangan Alvin memang fokus pada laptop itu, namun fikirinnya sudah melanglang buana ke gadis berhijab yang tak lain adalah Arafah


“Dia lagi ngapain yah?” tanya Alvin dalam hati


Merasa penasaran, ia mengambil telefon genggamnya yang semula diletakkan di atas buku. Membuka kontak seseorang


Arafah Comel Anak Om Handoko


Begitu nama kontak yang ia buka. Mengklik ikon whatsapp dan mengetikkan suatu pesan tanpa perlu berpikir dua kali


“Arafah. Masih nafas lewat hidung kan?”


Send

__ADS_1


Ia dibuat tersenyum sendiri oleh pesan yang ia kirim. Terlalu geli untuk sekedar mengirim pesan, Alvin bahkan lupa kali terakhir ia mengirim pesan kepada wanita selain Gisel, mamanya


Wanita terakhir yang sering mencuri waktunya hanya untuk saling bercakap lewat media sosial cuma dia. Gadis yang telah menjadi penghuni hatinya selama hampir 6 tahun hidupnya


Senyum bahagianya berganti seketika menjadi tawa pelan yang menyedihkan. Menertawakan nasib yang sudah digariskan olehnya


Adit melangkah dengan kaki panjangnya untuk menghampiri lelaki yang sedang tertawa bodoh di kamar yang sangat luas ini


“Kenapa lagi lo? Ini udah 4 tahun Al kalo lo lupa. Waktu yang tepat buat lo berpaling dari kelamnya masa lalu” Adit menepuk pelan bahu lebar itu, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki


Sudah bukan hal yang aneh melihat Alvin kembali pada kondisi seperti ini. Tenggelam dan membiarkan dia larut dalam khayalan bodohnya


Alvin merebahkan badan di atas sofa, bergumam pelan “Udah 4 tahun yah?”


Bayang-bayang itu kembali menghantui memorinya, menyesakkan dada. Alvin menutup kedua mata menggunakan lengan kanannya


Untuk menutupi setetes air mata yang mengalir mulus dalam keheningan kamarnya “Gua masih sayang sama dia Dit” gumamnya dengan suara parau


“Goblok. Kalo belum bisa lupain dia, ngapain lo deketin Arafah? Mau jadiin dia pelampiasan hah? Setidaknya jangan menambbah masalah baru, kalo masa lalu aja belum bisa lo beresin” Adit menatap jengah sang sahabat


Kalimat itu terlontar bukan karena kebencian, bukan juga karena ketidaksukaan Adit terhadap Alvin. Ia mengucapkan kalimat itu untuk menyadarkan temannya agar hidup dimasa sekarang, bukan malah hidup dengan bayang-bayang masa lalu


TRING


Suara notifikasi itu dari handphone Alvin, membuat Adit melirik siapa penyebab alat komunikasi itu berdering


Ia tersenyum sinis “Arafah ngechat lo. Tentuin pilihan hati lo mulai dari sekarang, jangan biarin sakit nguasain diri lo. Bedain masa lalu sama masa depan” ucapnya sebelum berlenggang menuju tempatnya semula


Dengan pelan, ia mennggeser tangan dari matanya. Mengubah posisi menjadi kembali duduk, menatap handphonenya yang menampilkan pesan Arafah


“Alhamdulillah, nafas aku masih keluar lewat hidung. Tadinya mau keluar lewat telinga tapi aku larang, hehe. Besok jadi kak ke puncaknya?”


Ia menertawai kebodohannya. Bimbang dengan perasaan yang ia miliki, sebelum jemarinya mengetikkan pesan balasan

__ADS_1


“Gak jadi. Ke puncaknya kita tunda yah? Gue ada urusan mendadak besok”


__ADS_2