Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 40 (USAI)


__ADS_3

“Alvin, Juna. Ayo makan” teriak Gisel dari arah dapur


Alvin yang menggendong Juna ditangan kanannya datang seraya tersenyum sumringah “Enak banget baunya, Mama masak apa” tanya Alvin


“Balado batu sama kayu crispy” jawab Gisel ketus


“BWAHAHAHA. Mama masak atau lagi merangkap jadi tukang bangunan” Alvin tertawa puas hingga membuat wajah tampannya memerah


Mama yang kesal, memukul pelan kepala Alvin menggunakan sendok sup yang baru saja diambilnya “Rasain. Sakit kan? Itu gak seberapa sama sakitnya Arafah kamu gituin” cerca Mama saat mellihat wajah cemberut Alvin


Ia meletakkan Juna di atas kursi kemudian turut duduk di samping bocah bermata bulat itu. Tak lama, Mbo Inem datang membawa cukup banyak menu. Menyajikkannya rapi di atas meja


“Junanya Mama mau makan apa sayang?” Mama bertanya lembut saat bertemu tatap dengan mata bulat Juna yang memandangnya polos


“Nasi sama ayam aja Mama” jawabnya yang tengah melipat tangan di atas meja


Mama menyendokkan nasi dan lauk yang diinginkan Juna ke piringnya kemudian duduk tepat di hadapan Alvin yang cemberut


Alvin semakin merenggut di tempatnya “Alvin gak ditanyain Ma?”


“Maaf. Kamu siapa yah? Kok bisa duduk satu meja sama saya?”


Alvin menatap dalam Gisel “Mama marah sama Alvin?”


Tatapan Mama memandang nyalang pada Alvin “Ya iyalah, menurut kamu? Mama harus senang gitu, dengar kamu udah buat nangis Arafah. Dasar manusia sok cakep”


“Hhh” ia membuang nafas kasar “Perasaan, kemarin ada yang bilang deh bakal selalu dukung apapun keputusan Alvin” sindirnya yang langsung mendapati perubahan air wajah dari Mama


“Dukung sih dukung. Tapi kata Adit anak angkat mama yang paling comel, kamu selalu buat Arafah nangis. Situ laki-laki tulen apa jadi-jadian” ucap Mama membela diri yang disisipi sindiran keras


“Sejak kapan Mama ngangkat Adit jadi anak angkat?” Alvin memberenggut kesal, tak terima


“Sejak dia ngekor sama kamu dari London. Mama suka sama Adit, dia gak pernah nyakitin perasaan cewek. Gak kaya ini nih sebiji”


“Ya iyalah gak pernah nyakitin hati cewek. Dianya aja gak pernah punya cewek. Terus dia mau sakitin hati siapa? Ya kali mau nyakitin hati ayam”

__ADS_1


Seketika itu juga, tatapan menghunus tajam tertuju pada Alvin. Mama menatapnya garang seakan ingin memasukkan Alvin ke dalam perutnya kembali


-------------------------------------


“Mama ku yang paling cantik” Alvin berteriak saat baru saja menuruni tangga


Mama memunculkan kepalanya dari taman samping, entah apa yang sedang diperbuatnya di sana “Ya iyalah paling cantik. La wong mama kamu cuma sebiji” sinis Mama yang terlihat masih memendam kekesalan saat sarapan tadi


“Ngapain manggil-manggil, mau bayar utang?”


Langkah Alvin berjalan mendekat ke Mama. Ia bersandar pada pintu kaca yang membatasi antara dapur dan taman samping “Anak mama yang paling ganteng ini mau pamit keluar” kata Alvin percaya diri


“Kemana? Rapih banget, kaya mau ke kondangan” Mama mengamati penampilan Alvin. Celana kain putih dan kemeja putih


“Biasa. Mau ke sana dulu” katanya yang langsung mendapat anggukan dari Mama


Ia menepuk-nepuk tangannya membersihkan bekas tanah, bekas merapikan tanaman-tanaman kesayangannya


“Mama temenin yah?”


Alvin menggeleng lembut “Gak usah Ma. Juna gak ada yang temenin di rumah kalo Mama ikut sama Alvin”


“Iya” Alvin mengangguk mantap “Alvin pamit yah Ma” ucapnya yang kemudian mengecup pipi kanan Mama


“Hati-hati sayang. Bawa mobilnya jangan ngebut. Ingat, kamu belum nikah. Kasian calon istrimu nanti, belum nikah aja udah jadi Janda ting-ting”


------------------


Nanti akan datang masanya, saat semua telah berubah. Membantah takdir yang selalu membuatnya diam tak berkutik


Ia tak ingin terjebak lebih lama dalam rasa ini. Alvin harap ini adalah saat yang tepat untuk melepas semua penatnya


Mobil yang Alvin kenakan membelah padatnya jalanan dengan fikiran yang bercabang kemana-mana. Ia menghentikan laju kendaraannya saat berada tepat di depan toko bunga sederhana


Tak lama setelahnya, ia berjalan kaki untuk sampai di tempat tujuan. Memandang lurus ke arah banyak gundukan di sana

__ADS_1


Kaki jenjang itu melangkah masuk ke tempat peristirahatan Alula. Ia membawa buket bunga yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Buket lili


“Siang Pa” sapanya pada penjaga makam di sana


“Siang nak. Tumben akhir-akhir ini jarang datang. Biasanya juga sebulan pasti ada dua kali” herannya yang hanya dibalas oleh seulas senyum tipis dari Alvin


Ia berdiri tegap di samping makam Alula, tersenyum teduh


“Hai La. Maaf yah aku jarang ke sini. Baru kali ini ada kesempatan”


“Kamu apa kabar? Di sana baik-baik aja kan?” dialongnya terdengar seperti sedang bercakap secara langsung


Alvin menarik nafas panjang “Maafin aku. Udah sempat lupain kamu selama Arafah ada di sisi aku”


Bayangannya terarah pada gadis berhijab itu, ia tersenyum getir. Membayangkan paras ayu Arafah yang memerah tapi bukan karena malu, melainkan sesak akan sedih


Kali ini Alvin mengubah posisinya menjadi duduk, menjatuhkan pandangannya pada batu nisan Alula “Udah lama banget ternyata kamu ninggalin aku” kata Alvin saat memerhatikan lamat-lamat tanggal yang tertera di sana


“Makasih banyak udah pernah izinin aku buat punya rasa sama kamu. Makasih udah gak ninggalin aku setelah kamu tau semua kurangku dan makasih kamu masih mau jadiin aku sahabat walau gak bisa balas perasaanku” tutur Alvin pelan


Kisah beberapa tahun silam kembali terukir apik dalam benak Alvin. Sajak-sajak saat takdir masih membiarkan mereka bersama, saat waktu tak sekejam ini untuk memisahkan mereka


Alvin hanya sekali mengenal kelabu saat bersama Alula, kala gadis itu tak bisa menerima perasaanya dengan lembut


Lembut yang mematikan harapan Alvin selama beberapa minggu


Hanya saat itu. Selebihnya mereka lewati dengan beragam warna yang selalu Alula beri untuknya saat masalah keluarga Alvin tengah melanda


Tiba-tiba cairan bening dari mata Alvin mengalir jatuh. Tak kuasa menahan sakit yang kembali melanda, sesak tak terkira


Ia menutup matanya menggunakan telapak tangan dengan bahu yang bergetar “Maafin aku La. Maafin aku yang terlambat datang waktu itu” ucap Alvin penuh penyesal terbesar


“Andai aja aku datang lebih awal, kita pasti masih berpijak pada dunia yang sama. Kamu gak bakal lebih dulu ninggalin Aku dan Om Hans” isakan Alvin mengisi kekosongan di sana, ia benar-benar lemah saat ini


Saat perasaannya mulai terkendali, Alvin menghapus jejak air mata dipipinya. Ia bangkit berdiri, melempar seulas senyum ke arah makam Alula

__ADS_1


Ia meletakkan buket bunga lili yang sedari tadi digenggamnya “Maaf La. Aku udah sadar sama apa yang aku rasa saatin saat ini. Semuanya bukan lagi tentang sukaku ke kamu, ini bukan lagi tentang hal itu. Aku sadar, selama ini aku terjebak dalam penyesalan. Bukan terperangkan dalam cinta yang belum sanggup dilepas”


“Aku pamit La. Maaf, aku bawa bawa bunga yang beda”


__ADS_2