
"Tiara comel, unyu binti kyut datang. Apakah kalian tidak merindukanku wahai makhluk kontrakan?” gadis dengan rambut terurai, membuka pintu rumah dan masuk dengan wajah ceria seperti biasa
“Sini Ra, makan kue. Gue abis eksperimen sama Gita tadi, buat cheese cake oreo. Enak loh” Arafah menunjuk cup kue yang masih ada setengah di atas meja
Bukannya senang mendapati kue yang terlihat sangat menggiurkan, Tiara dengan setengah berlari segera pergi ke dapur. Matanya memutar ke seluruh penjuru, mengamati bentuk dapur yang masih utuh
Dengan nafas lega ia berjalan ke ruang tengah, duduk di samping Arafah “Gue kira dapur udah gak berbentuk, gak ngebayangin gue kalo Gita yang masak sendiri. Bisa-bisa pantat panci udah gosong kaya muka mantan yang buriknya tak tertandingi”
Sontak saja Gita menatap sengit Tiara “Wahh, ngeraguin kemampuan gue nih anak. Gue kalo udah masak bisa ngalahin masakannya chef Renata, muka gue aja sebelas-duabelas sama dia”
“Heleh bacot, masak telur dadar aja gak pernah utuh bentuknya kalo lo yang balik” timpal Tiara yang mulai menyendok masuk cheese cake ke dalam mulut
“Biarin. Nanti gue kalo nikah, mau cari cowok yang bisa masak biar kita saling melengkapi. Cinta itu saling melengkapi kan Fa?” Gita memandang Arafah, meminta persetujuan yang dibalas dengan anggukan singkat
Memang diantara ketiga gadis itu, Gita adalah satu-satunya yang tak tahu memasak. Terlalu dimanja sejak kecil, berbeda dengan Arafah yang walaupun memiliki tiga orang asisten rumah tangga tapi selalu ikut membantu hingga mahir memasak walau tentu tak sehebat Tiara yang memiliki bakat memasak luar biasa, turunan dari Bundanya yang merupakan seorang chef terkenal
Tiara meletakkan cheese cakenya yang sudah tandas masuk ke dalam perut. Matanya memandang lurus ke tv dengan wajah bingung “Entar. Kok gue kaya ngelupain sesuatu, apa yah?”
“Utang lo yang 2 ribu belum lo bayar” ceplos Arafah asal
“Ihh bukan”
__ADS_1
“Lo singgah makan di warteg terus sengaja gak bayar” timpal Gita yang ikut-ikutan
Tiara mendelik kesal “Bukan Bambang”
“Lo ketemu cogan di Gereja terus lupa kalo mau cerita ke kita” Arafah berdiri dan berjalan masuk ke dalam dapur untuk membawa sisa makanan
“ASTAGA DRAGON BALL. KAK ALVIN MASIH GUE TARO DI LUAR, GUE TITIPIN DI WARUNG DEPAN” Tiara menepuk jidatnya lantas segera menuju ke pintu utama
Arafah dan Gita tentu saja langsung heboh dan berlari terbirit-birit untuk mencari jilbab. Mukenah adalah jalan pintas yang dipilih, terlebih saat ini pakaian yang mereka kenakan adalah kaos pendek dan celana selutut
Tiara kembali masuk ke dalam rumah dengan Alvin yang mengekor di belakang “Warung depan hampir aja ngamuk gara-gara cowok lo Fa. Masa dia gangguin anaknya Tante sampe nangis, gak sadar umur emang nih barang satu” terang Tiara yang sangat tak menyangka bahwa wajah tak menjamin kewarasan seseorang
“Gangguin ajalah dari pada gabut. Abis lonya nyuruh nunggu lama banget, kaya nunggu Arafah buat jatuh hati sama gue. Iya nggak Fa?” Alvin tersenyum lebar hingga menampilkan lesung pipi, menambah kesan manis
Seraya cengengesan, Alvin duduk disofa dengan tenang “Baru pertama kali gue masuk ke rumah kalian. Adem juga, nenangin. Kaya Arafah” kata Alvin yang fokus mengamati interior rumah disisipi gombalan receh pada akhir kalimat
“Kak Alvin hobinya ngengombal yah? Punya hobi yang elit dikit kek, jangan kerjaannya cuma buat baper anak gadis orang lain aja terus gak mau tanggung jawab” ceplos Tiara
Dengan gesit, Alvin memajukan tangannya ke depan seperti menyuruh Tiara untuk berhenti “Eitss, jangan berburuk sangka dulu. Gue kaya gini cuma sama Arafah seeorang, suer. Kalo gak percaya tanya aja si Adit”
“Hhh, Kak Alvin ngerekomendasiin orang yang salah. Mana bisa orang kaya Kak Adit dipercaya” timpal Gita yang duduk di samping Tiara
__ADS_1
Arafah tak kunjung lagi membuka suara, hanya fokus menjadi pengamat dalam perbincangan absurd disana. Bahkan tak ada lagi sembrutan merah yang terlihat dari pipinya ketika gombalan-gombalan maut Alvin keluar
Seakan tubuh dan hatinya sudah membangun antibodi untuk bertahan dari recehan Alvin yang dapat menyebabkan patah hati berkepanjangan diakhir waktu
Ia memang mulai sedikit membangun benteng agar tak terlalu larut dalam sesuatu yang mustahil untuk ia gapai. Baru kali ini ia merasa tak berdaya meraih sesuatu untuk menjadi miliknya
“Kak Alvin mau minum apa? Biar aku buatin” tanya Arafah memandang Alvin yang terlihat sangat tampan dengan kemeja putih
Alvin tersenyum lebar, kembali memamerkan lesung pipi dan deretan gigi putihnya yang rapi “Nggak usah Fa, gue cuma mampir bentar aja kok. Jangan repot-repot, entar gue tambah sayang”
“Huekkkk, buaya” Tiara refleks memasang lagak ingin muntah, menahan mulutnya dengan telapak tangan hingga tak terlalu jelas ia mengatakan apa
Gita terbahak melihat tingkah Tiara yang selalu ceplas-ceplos kepada siapapun. Sifat jujur dan tak bisa menahan apa yang ingin ia katakan bahkan membuat hampir semua mantan kekasih gadis itu, mundur dengan teratur
“Gak etis Kak, kalo ada tamu terus gak disuguhin apa-apa” tegas Arafah dengan nada tak ingin dibantah
“Ya udah, apa aja. Terserah lo, gue mah tinggal masukin ke dalam perut”
Arafah tanpa membalas lagi perkataan Alvin, berlalu dari ruang tamu dan masuk dapur. Ia membuat teh hangat dan mengambil satu cup cheese cake kemudian diletakkan di atas nampan
Walau tak pernah melayani tamu di rumah Ayah. Arafah beberapa kali memperhatikan asisten rumah tangganya saat memberi minuman kepada tamunya dan tamu Papa
__ADS_1
“Silahkan kak disantap, gak saya kasih racun kok. Aman 100%, tenang aja” Arafah duduk dengan meletakkan nampan di atas pahanya
“Lo udah milih buat repot-repot, berarti udah siap kalo gue bakal tambah sayang sama lo”