Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 24 (KOMITMEN?)


__ADS_3

Tawa anak anak terdengar sangat riang, bahagia tanpa beban. Berlari-lari di taman hijau, saling mengejar dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah polosnya. Seakan dunia hanya tentang bermain lantas berbahagia, semudah itu


Namun tidak demikian untuk kedua makhluk Tuhan yang sedang duduk bersama dibangku taman, mengawasi seorang anak berumur 5 tahun yang sedang tertawa riang di atas rerumputan hijau


Keheningan tercipta diantara Arafah dan Alvin. Beberapa saat yang lalu, tepatnya saat usai shalat ashar. Alvin dan Juna dengan mata bulatnya, berdiri di depan pintu rumahnya. Mengajak si gadis berhijab untuk menemaninya bermain di taman


Setelah mendapat banyak godaan dari Gita dan tentunya juga Tiara, akhirnya Arafah dengan memakai gamis polos dan pashmina segera menggendong Juna dan menuju ke taman


Disinilah mereka sekarang, membiarkan keheningan mengisi diantara tawa-tawa yang terdengar. Awalnya tentu saja tak begini, Arafah serta Alvin sempat menikmati suasana taman yang hangat, tapi lantas lenyap seketika kala Alvin kembali mengungkit perasaannya


“Gue bukan orang yang mudah jatuh hati Arafah. Bahkan dalam 21 tahun gue hidup di dunia, cuma dua kali gue hadapi rasa kaya gini dimana gue berharap walau lo bukan yang pertama tapi bisa jadi yang terakhir dalam kisah gue”


Kalimat itu adalah alasan dari keheningan yang mereka nikmati saat ini. Hati Arafah berdesir hangat kembali mendengar pengakuan Alvin


Perasaannya sedang berperang hebat. Disatu sisi ia tak bisa bohong jika juga merasakan hal yang sama namun disisi lain, hatinya menguatkan untuk tetap teguh karena akhir dari rasa ini ia yakini tak akan indah untuk dijalani. Perbedaan yang terlalu berat untuk dijalani, walau bersama


Arafah menghela nafas pelan “Aku takut Kak” memandang manik cokelat Alvin ”Kita terlalu beda. Apa sih yang bisa diharap dari hubungan beda agama? Ujung dari perasaan kaya gini, hanya sedikit yang berakhir sesuai dengan keinginan manusia itu sendiri”


Senyum Alvin dengan tulus ia tujukan pada Arafah “Gue paham gimana fikiran lo. Begitupun juga gue, kita sama-sama punya beban fikiran yang sama Arafah”


Tak ada ragu sedikitpun, Alvin kembali bicara “Tapi apa salahnya mencoba Fa? Kita bukan Tuhan yang tau segalanya tentang akhir dari semua kisah. Tapi kita bisa nentuin bagaimana akhir dari kisah kita sendiri dapat berakhir”


STOP

__ADS_1


Ingin rasanya Arafah berteriak sekencang mungkin di depan Alvin. Tak ingin lagi mendengar kalimat-kalimat penuh keyakinan dari bibir lelaki pertama yang membuatnya bimbang atas dasar sebuah hubungan


Arafah mengangguk “Kak Alvin benar. Tapi apa sih yang bisa diharap kalau kita jalanin hubungan yang terlalu berat kaya begini?”


“Gue gak bisa janjiin sesuatu yang bahagia Fa kalau gue jatuh cinta sendiri. Begitupun kalau kita seandainya punya rasa yang sama. Tapi satu yang bisa gue janjiin Arafah, apapun akhir dari kisah kita nanti, perjuangan akan mengajarkan banyak hal yang bisa dikenang bersama. Baik untuk akhir yang bahagia maupun untuk akhir yang sama sekali gak gue harapkan”


Arafah mendengar dengan jelas semua penuturan Alvin. Perasaannya sedang berperang hebat di dalam sana. Namun tak bisa ia bohongi, hatinya terenyuh mendengar setiap kata yang keluar dari Alvin


“Aku gak bisa terikat hubungan Kak. Tapi kalo Kak Alvin mau kita saling berkomitmen, aku mau” ujar Arafah yang sedang memandang Juna dari kejauhan


Alvin mengangguk semangat “Komitmen, kita bisa jalanin itu Fa” senyumannya mengembang dengan sempurna “Walau kita gak tau apa akhir dari kisah ini, tapi kita bisa sama-sama berjuang untuk mendapatkan akhir yang sempurna”


Dalam hati, gadis itu mengaminkan. Walau sangat sedikit kemunginan untuk dapat meraih akhir yang dimaksud oleh Alvin, ia tetap ingin menjalaninya


Ancaman receh Arafah membuat Alvin tertawa. Ia sendiri bahkan bingung, bagaimana caranya nyaman dengan gadis lain selain Arafah? Hatinya terlalu susah untuk dimengerti, banyak wanita seiman yang ingin berada di dalam sana. Namun entah mengapa, Arafah yang berhasil menempati posisi itu. Menemani Alula


Alula


Kesakitan saat mengingat pemilik nama itu seakan sudah berkurang kadarnya. Alula bukan lagi satu-satunya wanita yang menjadi pemilik hatinya. Walau terkesan brengsek, ia ingin agar Alula dan Arafah sama-sama tetap berada di sana. Tentu dengan posisi yang berbeda


“Kalau untuk yang ini gue bisa janji 100%. Lo wanita kedua dalam hidup gue” ujar Alvin terama yakin, membuat dahi Arafah berkerut heran


“Kedua?”

__ADS_1


“Iya, yang pertama Mama. Mungkin kalau takdir baik berakhir pada kita, akan ada anak-anak yang jadiin lo wanita pertama dalam hidupnya. Mereka yang manggil lo dengan sebutan Mama” lanjut Alvin


“Walau mungkin bukan sama gue”


Seulas senyum menenangkan berhasil Alvin nampakkan diwajah menawan Arafah. Gadis berhijab itu menatap lekat mata cokelat Alvin. Mendapati kesungguhan yang tersirat di dalam sana


Membuat Arafah semakin yakin dengan perasannya, tak ingin memikirkan lebih lanjut apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya ingin menikmati masa-masa indah saat ini. Yang mungkin hanya akan menjadi memori abu-abu kelak


Langit telah berubah warna menjadi jingga yang menawan. Senja yang didamba-dambakan telah terlihat jelas di atas. Menandakan bahwa sang malam akan kembali hadir


“Udah mau maghrib, kita cari mesjid dulu. Kalau udah shalat, baru deh dinner romantisnya” ajak Alvin dengan nada menggoda “Biar kaya anak-anak hits jaksel”


Arafah mengangguk setuju. Tanpa Alvin ketahui, hati Arafah merasa sangat nyaman atas Alvin yang terlihat peduli tentang ibadahnya


“JUNA, AYO BALIK WOI. KALO DALAM HITUNGAN KETIGA KAMU GAK SAMPAI DI SINI, ABANG TINGGALIN KAMU. BIAR SEKALIAN JADI PENUNGGU INI TAMAN” teriakan Alvin bukan hanya mengalihkan perhatian Juna, namun juga hampir seluruh pandangan di sana


Beberapa ibu-ibu yang sedang menemani anaknya bermain, hampir mengeluarkan sumpah serapah karena terkejut. Namun batal sudah niat mereka saat melihat paras Alvin yang walau tak setampan Edward Cullen, tapi tetap memiliki kesan karismatik tersendiri


Juna yang sudah tiba didekat mereka, meraih satu tangan Arafah, menggenggam lembut “Ayo kakak cantik, tinggalin aja ini mas-mas tua yang doyan banget teriak kaya penjual nasi remot keliling” mendelik kesal pada Alvin “Toa bergerak”


Alvin tak lagi terkejut mendengar ledekan Juna, sudah kebal dengan adiknya yang satu ini. Bahkan jika di rumah, Gisel bisa kelimpungan jika kedua putranya sudah berdebat untuk hal-hal yang tak masuk diakal. Terlebih Alvin yang juga sangat senang menjahili adiknya


Bergandengan tangan dengan Juna sebagai perantara. Layaknya keluarga kecil yang sangat bahagia di kota besar ini. Mereka meninggalkan taman dengan senyum yang sangat menyejukkan

__ADS_1


Sore itu setelah kata komitmen mereka mulai, satu kisah akan kembali dimulai. Memainkan perannya tanpa tau apa akhir yang bisa diharap dari hubungan semacam ini


__ADS_2