
Arafah duduk seorang diri di pojok cafe yang tak seramai biasanya. Seakan mendukungnya dengan memberi ruang untuk bercakap
Menunggu kehadiran seseorang yang, sangat dirindukannya. Masih bolehkah ia memiliki kata itu untuk Alvin?
Dalam kesunyian yang menemani, Arafah bersandar. Memejamkan mata dan bersidekap dada. Berharap dapat menampilkan kesan kuat saat lelaki itu datang
“Arafah”
Ia membuka mata, melihat langkah panjang Alvin yang semakin mendekat. Arafah menegakkan punggung, tersenyum seperti biasa
Alvin menatap dalam mata hijau Arafah yang nampak sayu, sama sepertinya. Terlihat tidak tenang
Duduk dihadapan Arafah “Jangan pergi lagi”
kalimat itu langsung meluncur begitu saja
“Semua ada kejelasannya Fa. Gak abu-abu seperti yang kamu fikir”
Alis Arafah naik sebelah “Jelasin sekarang” ucapnya menantang
Papa benar, Arafah terlalu mudah luluh. Terlebih di depan Alvin yang selalu menyiratkan keteduhan yang terlanjur membuatnya nyaman dan tak ingin berpaling
Dengan sejelas-jelasnya, Alvin mulai menceritakan kisah lalunya. Menjadikan Arafah sebagai orang kesekian yang mengetahui semuanya
Berharap jika semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan kembali seperti dulu lagi, itu yang selalu terbesit dalam hati Alvin
“Dan waktu itu, Mama drop. Dia sakit Fa. Umur Juna yang baru berapa bulan bahkan harus dititipin saking gak mampunya Mama. Saudara Mama sama sibuknya, mereka gak bisa sering-sering ke London. Cuma aku yang Mama punya saat itu”
Alvin tetap manusia biasa. Setiap kali mengari kisah itu, hatinya selalu melemah. Walau sudah tak mencintai Alula, rasa bersalahnya masih tetap bersarang
Ia rapuh, berusaha menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan. Terisak pelan di sana. Rasanya masih sama, terlalu sakit
Namun pundaknya yang bergetar tak bisa disembunyikan. Membuat Arafah tak kuasa untuk tidak menangis, mereka sama-sama terluka
__ADS_1
Segera, ia membekap mulutnya sendiri. Menahan isakan yang bisa saja lolos. Sebelah tangannya maju untuk menggenggam erat pundak Alvin
Berusaha menyalurkan sisa kekuatan yang ia punya “Maafin aku Kak” ucapnya tulus, memberi jeda untuknya memantapkan hati
“Tapi ini jalan yang Tuhan tunjukkan untuk kita. Mengatakan bahwa kita cukup sampai sekarang, kita harus usai disini”
Alvin segera menatap Arafah takut “Jangan ngomong kaya gitu Fa. Semuanya bisa diperbaiki, kita bisa balik kaya dulu lagi. Maafin aku Fa” Alvin memohon, suara parau. Tercekat
Ia begitu takut untuk merasakan kehilangan lagi. Rasanya pada gadis ini sudah tak main-main, Alvin bahkan rela untuk mengikuti Arafah demi selalu bisa bersama
Membuat air mata Arafah jatuh begitu saja, menahan sesaknya dada saat ini “Gak ada yang salah di sini Kak. Memang sudah waktunya” Arafah mencoba kuat
Berperang melawan batin ternyata sesulit ini. Mengucapkan kata demi kata yang menghunus Alvin, juga jantungnya sendiri
Tak terima, Alvin menggeleng tegas “Aku tahu aku salah Fa, hukum aku. Tapi jangan kaya gini, aku gak bisa” suaranya benar-benar tercekat, menahan gelombang kesakitan yang sudah menghantamnya
Arafah yang sama terlukanya, mencoba menatap Alvin. Memberi tatapan meyakinkan
“Bukan gak bisa Kak. Belum bisa, semuanya pasti berhasil kalau Kak Alvin mau mencoba”
“Kak Alvin” Arafah memanggil lembut
Alvin tak menoleh sedikitpun, tak ingin memperlihatkan kelemahan yang sesungguhnya. Ia masih mencoba berpikiran positif, bahwa semua akan baik-baik saja.
Meski nyatanya tak begitu
Dengan lembut, Arafah mengarahkan bahu Alvin agar menghadap ke arahnya. Semuanya terasa semakin kacau saat ia yang tak sanggup melihat lelaki ini terlihat lemah
Seraya mencoba meredam tangisnya, Arafah menyentuh kedua bahu Alvin yang tak bertenaga “Kilas balik kisah Kakak dan Alula, semua sudah aku ikhlaskan, itu bukan salah Kakak. Tapi takdir Alula. Memang sudah waktunya untuk saling melepaskan”
Dengan mata berair dan dada yang terasa sangat menyakitkan, Alvin akhirnya menatap Alula yang nampak tegar “Dan saat ini. Ini waktunya Kak Alvin untuk lepasin aku”
Kacau. Alvin menggeleng, nampak sangat tidak berdaya “Jangan Fa. Aku gak bisa” mohonnya untuk kesekian kali
__ADS_1
“Selama ini aku terlalu egois Kak” Arafah berucap pelan “Aku berusaha masa bodo dengan niat Kak Alvin yang mau jadi muallaf. Aku egois dengan gak pernah nanya bagaimana perasaan Kakak. Saat itu yang aku mau tahu, Kak Alvin harus nepatin janjinya”
“Dan aku tahu, semuanya gak mudah untuk Kakak. Gak mudah untuk berpindah kepercayaan setelah semua yang Kak Alvin jalani” ia menatap dalam netra berair Alvin, nampak sangat menyedihkan “Aku tahu semuanya dan aku yang berusaha egois, gak peduliin semua itu”
“Ara.....”
Arafah menghentikan ucapan Alvin dengan isyarat tangan. Meminta waktu sedikit lagi untuk berbicara. Walau terlalu sakit, semuanya memang harus usai
Ia menarik nafas panjang. Kembali mengalirkan air mata yang segera dihapusnya dengan kasar “Aku sayang sama Kak Alvin. Tapi aku gak bisa egois lebih lama lagi, aku udah gak bisa biarin Kak Alvin tertekan dengan pilihan yang aku yakini Kakak ambil hanya karena takut melepas”
Ucapan Arafah membuat Alvin bungkam. Kalimat terakhirnya terasa begitu tepat, Alvin terlalu takut untuk kembali kehilangan. Ia tak mau lagi
Gadiis dengan hijab pastel itu, berusaha memperlihatkan senyum tegar “Memang gak akan mudah. Tapi kalau Kakak bisa mengikhlaskan apa yang terjadi, setidaknya Kak Alvin punya peluang untuk menata hati kembali”
Alvin menggeleng tidak percaya. Apa benar harus berakhir begini? Kisah yang dari awal tak pernah ia jalani dengan main-main harus usai di sini?
“Aku sayang sama kamu Fa. Aku gak bisa” Alvin berkuat, masih mencoba mempertahankan
Hati Alula sudah benar-benar luluh. Tak sanggup lagi menerima tatapan teduh dan penuh keyakinan yang masih setia Alvin beri padanya
Hanya satu kalimat yang membuat Arafah merasa ingin kembali egois, tapi itu sama saja dengan menyakiti Alvin
untuk kesekian kali
Perbedaan itu terlalu menyakitkan, terlalu sakit jika ingin dijalani. Arafah kembali menangis, melapiaskan kekecewaannya pada takdir yang telah Tuhan beri padanya
“Aku gak bakal pernah bisa lepasin kamu”
Alvin memandang yakin pada netra hijau Arafah yang sayu. Mencoba untuk mengenyahkan semua rasa sakit yang dirasanya
Seraya menata hatinya yang hampir saja ingin terbawa ego. Ia mengusap pelan jejak air mata di pipi
Walau tak sepenuhnya ikhlas, Arafah berusaha untuk mengeluarkan kalimat yang tertahan di tenggorokan
__ADS_1
“Jalani hidup yang baik, Kak Alvin pasti bisa ikhlasin aku seperti Kakak mengikhlaskan Alula”
“Aku pergi. Bukan Kak Alvin yang melepas, aku lepasin Kakak”