Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 3 (Belanja)


__ADS_3

“Ini pak uangnya, makasih yah”


Seorang gadis bergamis abu-abu dengan pashmina berwarna senada turun dari taxi online dan berjalan masuk ke dalam mall


Setelah masuk ke dalam mall yang sangat besar itu, ia menuju ke basement. Tempat tujuannya terletak, supermarket


Dengan langkah yang anggun dan wajah yang terlihat sangat cantik walau sedikit terlihat tidak segar karena mata yang agak bengkak. Ia mengambil troli, meletakkan handphone dan tas kecilnya di dalam lantas menyusuri rak-rak


Tak sedikit orang yang melihat keberadaan gadis itu dibuat tersecak kagum akan ciptaan Tuhan. Wajah bulat, alis tebal, bulu mata yang sangat lentik, hidung mancung, netra mata yang berwarna berbeda seperti orang asia pada umumnya yaitu hijau


Termasuk seorang lelaki dengan postur sangat tinggi yang tengah menggandeng seorang anak lelaki. Ia menjadi salah satu orang yang dibuat terpukau dengan gadis yang tengah berusaha mengambil susu di rak yang cukup tinggi


Saat pandangan lelaki itu menangkap gerakan seseorang yang ingin membantu si gadis, lelaki itu dengan langkah panjangnya langsung menghampiri. Bersandar di rak susu dan sukses membuat wanita itu cukup terkejut


Anak kecil yang tadi ia gandeng, juga mengikuti posisinya dengan wajah polos. Mata bulat dan pipi gembul, sangat menggemaskan dimata Arafah


Tepat sekali, sepasang manusia itu adalah Arafah dan Alvin bersama si adik yang entah mengapa bisa bertemu di supermarket ini


Arafah yang tadinya terkejut, kini memasang senyum lembut. Mensejajarkan tingginya dengan adik Alvin “Anak siapa ini kak?” tanyanya seraya mengelus pelan pipi gembul itu


“Anak mamanya, dia Juna adik gue. Ganteng kan?”


Arafah mengangguk setuju “Ganteng banget kak”


Ia menepuk bangga dadanya dengan wajah songong “Iya dong, kaya kakaknya” jawabnya penuh percaya diri namun tak mendapat respon dari si gadis


Merasa tak berhasil mendapat tanggapan dari Arafah. Alvin memandang Arafah yang masih mempertahankan posisinya, berlutut di depan adik Alvin. Mengelus gemas pipi chubby itu


“Mau ambil yang mana tadi Ra?” Alvin berusaha mengalihkan perhatian Arafah


Gadis berhijab itu akhirnya berdiri “Mau ambil susu, tapi gak sampai. Soalnya aku terlalu imut”


“Makanya jangan pendek. Sini orang tinggi bin ganteng bantuin, mau susu yang mana?” ia menatap lekat gadis itu yang tak kunjung mengalihkan pandangan dari adiknya


Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada dan mensejajarkan tingginya dengan si gadis “Arafah anaknya pa Handoko, mau ambil susu yang mana? Sini Alvin ganteng bantuin


Arafah menormalkan kembali mimik terkejutnya dan menunjuk susu yang ingin diambil “Yang itu kak”


Dengan sangat gesit Alvin berbalik dan mengambil dengan sangat mudah barang yang diinginkan Arafah. Tanpa menunggu Arafah mengambil susu itu dari tangannya, ia langsung memasukkannya ke dalam troli

__ADS_1


“Makasih” ucap Arafah dengan teramat lembut


Alvin tersenyum sangat manis dan tanpa berdosanya, ia mendorong troli milik Arafah “Ayo gue temenin belanja”


“Eh, gak usah kak” Arafah berusaha mensejajarkan langkahnya dengan kaki panjang Alvin. Tak lupa dengan tangan kananya yang menggenggam tangan Juna


“Gue gak minta pendapat lo Arafah, udah sini gue temanin biar lo aman. Gak lihat tuh, banyak tau cowok-cowok kurang belain yang liatin lo”


Mendengar penuturan Alvin, ia melihat ke sekelilingnya dan memang mendapati banyak pasang mata sedang memandangi “Udah biasa” ucapnya enteng


Alvin menatap Arafah yang hanya mengedikkan bahu acuh “Enak yah jadi cewek cantik Ra?”


Arafah yang tanpa sadar sudah berjalan seiring dengan Alvin, menatap penuh makna lelaki tinggi yang berdiri di sampingnya “Kenapa? Kakak mau jadi cewek cantik juga kah?”


Pertanyaan aneh yang terlontar dari bibir pink Arafah sontak saja membuat Alvin tertawa lepas “Ya enggaklah Arafah comel. Gue Cuma mau jadi pasangan cewek cantik itu”


Arafah tersenyum simpul “Dihh receh”


Alvin menghentikan langkahnya. Membuat Arafah secara alami juga ikut berhenti dan menatap Alvin. Pandangan mereka bertemu, saling bertabrakan dengan rasa tersirat sendiri


Arafah baru tersadar saat menatap cukup lama mata Alvin. Matanya sedikit memerah dan terlihat bengkak


Dibuatnya jantung Arafah seketika berdetak sangat cepat dari biasanya, gugup tanpa alasan “Kenapa kak?” tanyanya menjatuhkan pandangan pada sendal galang putih yang ia kenakan


Terdengar desahan pelan yang lolos dari bibir Alvin. Semakin membuat perasaan Arafah menjadi tak karuan


“Mata lo kok kaya orang habis nangis sih?” tanyanya seraya mengamati wajah mulus Arafah


Arafah mendengus nafas kesal “Dihh, aku kira apaan?”


“Lo habis nangis?” kekeh Alvin yang masih mempertahankan pertanyaan yang sedari tadi ia pendam


“Enggak kak. Tadi gak enak badan, terus air matanya keluar sendiri deh” jelas Arafah santai


Alvin mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti “Ya udah, ayo jalan”


Baru selangkah kaki Alvin beranjak, suara Arafah kembali terdengar “Mata kak Alvin juga bengkak, kaya cewek baru ditinggal nikah sama cowoknya”


“Wahh, kayanya anda profesianal banget yah dalam perihal ditinggalin. Pernah ditinggal nikah sama mantan neng?” canda Alvin yang sukses membuat Arafah merenggut kesal

__ADS_1


Tak mendengar suara Arafah, Alvin kembali membuka suara “Mau beli apa lagi?”


Arafah Nampak berfikir sebentar “Ikan sama sayur-sayuran kak”


Kembali mereka melangkahkan kaki kearah bagian makanan mentah di belakng sana. Sesekali saling bertukar tanya satu sama lain, hingga tak sadar bahwa keakraban sudah tercipta di antara mereka


Tentu mereka sadari, banyak pandangan yang tertuju pada mereka. Memandang cemburu Alvin dan Arafah yang dianggapnya sebagai sepasang suami istri. Terlebih dengan Arafah yang sekarang menggendong Juna karena lelah berjalan


Alvin tentu saja melarang Arafah untuk menggendongnya namun Juna sudah terlanjur tak mau berpaling. Nyaman bersandar di hijab katun milik Arafah


Hal itu tentu saja bukan masalah besar bagi Arafah walau badan Juna memang dapat dikata cukup bulat diumurnya yang masih menginjak lima tahun


Mereka memang Nampak sebagai seorang kekasih karena memakai pakaian dengan warna yang sama. Arafah dengan gamis abu-abunya dan Alvin serta Juna yang mengenakan kaos oblong berwarna sama


“Ini mba” Alvin menyerahkan kartu kreditnya saat Arafah baru saja membuka dompetnya


“Eh gak usah kak” Arafah berusaha mencegah tangan Alvin namun si mba kasir sudah terlanjur mengambil kartu abu-abu itu


“Gak usah kak Alvin. Aku bukan fakir miskin dan anak yatim yang butuh belas kasih kak Alvin” Arafah merenggut kesal


Alvin tertawa pelan melihat bibir cemberut Arafah”Gak papa Ra, kan belanjaan gua juga banyak. Lebih banyak malah daripada belanjaan lo”


Tak ada tanggapan dari Arafah, ia masih diam tak bergeming. Hanya terus memandang kearah monitor yang terus menaikkan nominal belanjaan Alvin juga Arafah


“Ra” panggil Alvin pelan karena tak melihat respon dari si lawan bicara


“Arafah anak pa Handoko” teriak Alvin kesal


Arafah melotot kesal, memandang tajam


Alvin yang memasang tampang tak berdosa. Ia menunjuk monitor tempat total belanjaan mereka berdua terpampang


“2.574.000 kak. Kakak belanja apa aja sih? Kok bisa sampe segini harganya. Makanya kalo belanja matanya harap dikontrol kak. Ya kali ada orang liat makanan dari iklan langsung diambil. Kakak itu jurusan ekonomi sadar gak sih? kok bisa gak tau management” omel Arafah menatap tak percaya pada Alvin


Orang di sekitar mereka tentu saja kembali mengarahkan pandangan pada kedua insan itu. Termasuk Juna yang sedari tadi hanya menjadi pengamat. Bagaimana tidak? Suara Arafah tidak bisa dibilang pelan saat mengomeli Alvin


Yang dilakukan Alvin hanya melongo, dibuat tak percaya. Namun bukannya marah karena mendapat omelan cempreng dari gadis manis itu, ia malah dibuat tersenyum lembut


“Kok gue ngerasa kaya lagi dimarahin sama istri yah?”

__ADS_1


__ADS_2