
“Ahh sumpah mau patah tujuh nih badan gue” Tiara menghemaskan badannya yang masih berbalut baju hitam putih di atas kasur
Arafah menarik tangan Tiara untuk bangun ketika ia melihat gadis itu yang langsung saja berbaring tanpa membersihkan diri terlebih dahulu
“Ihh jorok tau Ra. Mandi dulu sana, ganti baju, skincarean, baru rebahan. Anak gadis pa Razak ga boleh jorok kaya gini, entar cogan-cogan idaman lo ga bakal ada yang nyantol sama lo” omelnya tanpa mempedulikan wajah kusut Tiara
“Sorry-sorry nih ya Fa, harus berapa kali gue bilang? Gua tuh orangnya penyayang. Walaupun baju dan muka gua udah kotor tapi hati gue enggak, gua masih sayang sama mereka. Ga bakalan gua berpaling sedetikpun” Tiara duduk di samping Gita yang sedang selonjoran bersandar di tembok kamar mandi
Gita menatap takjub pada makhluk di sampingnya “Ga gitu konsepnya Ra. Tapi susah emang, ngomong sama orang yang otaknya minimalis dan absurdnya maksimalis kaya lo. Ga bakalan menang gue dan ga bakalan kelar”
Dengan bangga Tiara menjentikkan tangan tepat di depan wajah Gita “Nah, tuh tau”
Tanpa mempedulikan percakapan Tiara dan Gita, ia mengambil handuk dan baju tidur dari dalam lemari lalu segera melenggang ke kamar mandi
TREKK
Belum saja Arafah 30 detik berada di dalam kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi dan memunculkan kepalanya dari dalam
“Kalau gue udah selesai mandi dan kalian berdua masih selonjoran kaya dugong disini. Gua ogah tidur bareng kalian, bau” ancam Arafah
Setelah mengatakan hal tersebut, ia kembali menutup rapat pintu kamar mandi dan setelahnya terdengar suara guyuran shower dari dalam sana
Gita dan Tiara saling memandangi selama beberapa detik, sebelum dengan gerakan sangat cepat mereka segera berdiri. Menyambar handuk masing-masing dari jemuran kamar, lantas berlomba untuk memasuki kamar mandi dapur
“Wlee” Tiara memeletkan lidahnya, mengejek Gita yang tak berhasil mengalahkannya memenangkan posisi pertama untuk mandi
“Nyenyenye” Gita berucap asal, kesal. Dengan wajah yang sangat lucu
Mereka masih ingin tidur dengan Arafah. Sebab tanpa Arafah, mereka bisa jadi tak akan bisa tidur sebentar malam
Sebab Arafah lah pengganti posisi mama Gita dan Tiara
__ADS_1
Gita dan Tiara memiliki kebiasaan sebelum tidur yang sudah menjadi rutinitas hampir setiap malam. Gita yang sebelum tidur harus di sapu-sapu bagian punggungnya dan Tiara yang baru bisa tidur ketika di elus-elus telapak tangannya
Kebiasaan yang terbilang cukup aneh dan hanya Arafah yang mau melakukan itu kepada mereka berdua. Bukan tanpa alasan, sewaktu mereka masih baru satu hari tinggal bersama, Arafah dibuat pusing sendiri oleh Gita dan Tiara yang sangat susah tidur di kamar mereka masing-masing
Hingga pada akhirnya, ia memilih jalan pintas untuk tidur di satu kamar terbesar rumah itu. Dengan Arafah yang berperan sebagai mama dadakan Gita dan Tiara ketika rembulan telah menampakkan cahaya sendunya di atas sana
“Lo mandi apa main monopoli sih di dalam Ra? Lama banget” omel Gita yang sudah menunggu hampir 20 menit
“Entar Ta, gua jawab panggilan alam dulu. Kasian dia kalo gak dijawab, entar ngambek dianya”
-----------------
Tiga orang gadis dengan pakaian tidurnya itu, nampak sibuk mengolah bahan makanan di dapur. Maklum saja, masih masa awal mengurus makanan sendiri
“Astajim Gita, itu sayurnya jangan terlalu kecil potongannya. Entar ga bisa kekunyah, lo mau langsung nelan sayur hah?” omel Tiara yang tengah fokus membumbui ikan
Dengan kesal, ia membanting pelan pisaunya ketalenan “Ya elah, mana gue tahu. Biasanya gue kalo di rumah tinggal ngunyah”
“Nasinya udah lo masak Fa?” Tiara ikut duduk seraya bersandar dibadan kulkas
Arafah mengangguk singkat, kembali fokus pada bahan makanan di depannya. Sampai keheningan mengingatkannya akan satu hal
“Ta, Ra. Tadi waktu gue pingsan, siapa yang ngangkat ke ruang kesehatan?” ia mulai penasaran
“Gua sama Tiara. Dia kaki kanan, gua kaki kiri. Terus kita seret deh sampe depan ruangan” jawab Gita asal
“Ihh gua serius tau” Arafah memajukan beberapa centi bibirnya
“Digendong sama kak Alvin lo. Romantis banget, kaya pengantin baru nikah 2 jam” jelas Tiara sebelum berdiri untuk sekedar mengecek masakannya
“HAHH? APA? SERIUS LO?” Arafah berteriak cukup kencang tepat di samping telinga Gita
__ADS_1
“Astaghfirullah Fa, suara dikontrol neng”
Ditegur seperti itu memuat Arafah nyengir aneh “Iya iya sorry”
“Eh tapi serius kak Alvin yang gendong gue ke ruang kesehatan?” tanya Arafah mencoba memastikan untuk kesekian kalinya
“Iya Arafah comel anak pa Handoko”
“Ihh malu banget” Arafah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan saat membayangkan adegan itu terjadi
“Heleh, gak usah malu-malu *** kucing lo. Entar juga kalo lo nikah sama kak Alvin bakalan lebih mesra dari itu” entah darimana Tiara mendapat imajinasi seluas itu
“Dihh, pikiran lo kejauhan neng” Ejek Gita, lalu berdiri dan mengolah sayurnya
“Iya juga sih. Tapi feeling gue kencang banget nih kalo lo nantinya bakal berjodoh sama kak Alvin” Tiara memandang lurus tepat dimata Arafah yang sedang memperhatikannya
Mendengar ocehan aneh Tiara, membuat imajinasi dan khayalan Arafah melanglang buana sangat jauh. Tak bisa ia pungkiri, Arafah sering merasa terbawa perasaan dengan sifat dan perhatian Alvin yang menengkan
Ia hanya gadis 18 tahun yang baru saja memakai hijab ketika menginjak kelas 2 SMA , ilmu agama yang dimiliki belum sekuat itu untuk menahan perasaan yang ia alami saat ini
Arafah masih seorang perempuan normal yang tentu mudah merasa nyaman dengan perhatian yang sering Alvin limpahkan padanya
“Hayoo, ngebayangin apa lo?” Gita mencoel pipi chubby Arafah yang tengah melamun di depan kulkas seperti penunggu lemari pendingin itu
“Ngebayangin nikah sama kak Alvin tuh pasti si Arafah” timpal Tiara yang masih fokus dan telaten menata masakannya di atas meja
Arafah berdecik kesal, menatap Tiara yang sudah seperti ibu rumah tangga “Ishh, kan lo juga yang pancing gue sampe khayalin hal sejauh itu”
“LO BENERAN LAGI BAYANGIN NIKAH SAMA KAK ALVIN FA?” Tiara berteriak heboh dengan bertepuk tangan kegirangan seperti baru saja memenangkan lotre undian
“Udah ah, gak usah dibahas. Gue masih kecil, baru brojol kemarin”
__ADS_1