
Matahari mengintip dari tempat persembunyiannya. Menyapa sang embun yang setia memberi kenyamanan. Matahari dan bulan kini telah saling bertukar peran untuk mendampingi langit
“Eunghh” gadis bersurai hitam pemilik nama Arafah, merengganggkan badannya khas orang baru sadar dari dunia mimpi
Ia melirik ke kanan dan kiri. Tempat Tiara dan Gita yang kemarin malam tidur tanpa bantuan dirinya untuk menyapu punggung serta telapak tangan
Fikirinnya melanglang buana pada kejadian kemarin malam. Saat ia dan Papa melampiaskan emosi yang terpendam satu sama lain. Untung saja saat ia berganti pakaian, Tiara dan Arafah sudah terlelap dengan wajah tenang
Namun satu yang tidak ketahui, perbicangan yang melibatkan emosi tadi malam membuat kedua gadis itu berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Menjadi pendengar dalam diam, hingga mengeluarkan bening kristal
Setelah tinggal hampir satu bulan dengan Gita, ia menyadari bahwa mereka memiliki satu kesamaan yaitu melanjutkan tidur seusai melaksanakan ibadah shalat subuh
Jam menunjukkan angka 7 tepat. Papa meninggalkan rumahnya jam 11 malam setelah menonton film horor midnight untuk kembali ke Kalimantan
Seperti minggu-minggu sebelumnya, ia mengguncang pelan tubuh Tiara. Berusaha mengembalikan nyawa gadis itu yang sudah jauh berkelana di dunia mimpi
“Bangun Ra, ibadah lo jam 8 kan? Siap-siap gih udah jam 7”
Tiara menghela nafas kasar, membuka matanya secara perlahan kemudian merenggangkan badan “Eughh”
“Makasih Fa” Tiara berucap dengan parau sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi teramat loyo
Kini gadis bersurai hitam itu bertugas membangunkan Gita. Tak ada guncangan pelan yang ia beri seperti pada Tiara. Arafah hanya perlu berdiri dan menyingkap gorden yang otomatis membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar
“Tutup ato gue tendang lo keluar kamar” ancaman itu keluar dari mulut Gita yang menaikkan selimut hingga menutup sampai ke atas kepala
“Bangun ato lo yang nyuci piring hari ini”
SRETT
Tanpa perlu mengulang ancamannya, Gita bergegas mengambil handuk dan keluar kamar untuk menjuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur
__ADS_1
Arafah terkekeh, memang diantara mereka bertiga, Gitalah manusia yang paling susah dibuat berpisah dari kasur empuknya jika hari libur. Namun jangan salah, si cerdik Arafah selalu punya cara untuk masalah tersebut
Gita adalah salah satu spesies manusia yang paling anti untuk berurusan dengan pekerjaan yang melibatkan air, terkecuali mandi dan minum tentunya. Dia lebih memilih membersihkan seluruh rumah ketimbang harus mencuci piring atau memeras pel
Kini giliran Arafah untuk mandi saat Tiara keluar dengan tampang segar sekitar 10 menit kemudian. Ia menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk dan duduk di depan meja rias
Tiara mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer, memoles make-up tipis kemudian mengganti baju mandinya dengan floral dress berwarna putih dan blazer dengan warna yang sama. Tak lupa gadis manis itu mengeluarkan heels berwarna nude dari dalam lemarinya
Sekali lagi ia mematut penampilannya dari cermin full body, terlihat anggun dan dewasa. Untuk perlengkapan yang terakhir, Tiara memakai tas samping kecil berawrana putih. Sempurna
“Cantik amat anaknya pa Razak” Gita masuk ke dalam kamar sudah dengan berpakain lengkap yang santai
Mendengar pujian yang jarang-jarang dikeluarkan Gita untuknya, membuat ia dengan songong mengibaskan rambut panjangnya “Hello, kita temenan udah lama dan lo baru sadar kalo punya teman secakep gue”
Tidak seperti biasanya, dimana ia akan selalu membalas kepercayaan diri Tiara dengan celotehan anehnya. Gita mendekat ke Tiara yang masih mematut diri, ia mengambil sebuah jepitan berwarna putih
“Coba aja kalo lo gini tiap hari. Pasti ga bakal ada yang nyangka bahwa seorang Angelisca Tiara Bramanta Razak memiliki kepribadian yang teramat aneh” kata Gita seraya memasangkan jepitan itu di bagian kanan rambutnya, manis
“Gue nggak butuh cogan kok tenang aja. Cowok yang mapan, tampan, dan lumayan juga udah cukup buat gue” Gita mundur beberapa langkah untuk melihat lebih jelas penampilan Tiara
“Sama aja Bam....”
“Udah sana berangkat gih, entar telat”
Belum juga Tiara menyelesaikan ucapannya, Gita sudah lebih dahulu mendorong pelan punggung Tiara untuk segera berangkat ke Gereja
“Gue pamit yah”
“Hooh, hati-hati. Kalo ada yang nawarin permen di jalan, langsung tendang aja tulang keringnya nak. Biar mampus” pesan Gita seperti Ibu yang sedang menjaga anaknya dari bahaya penculikan
Mengacungkan jari manis, adalah hal yang dilakukan Tiara untuk membalas perkataan absurd dari Gita yang kembali ditanggapi dengan tertawa keras
__ADS_1
Senyuman lebar Tiara mengawali langkahnya berjalan santai ke Gereja. Tempat ibadah itu tak terlalu jauh dari rumah, dapat ditempuh dengan 15 menit jalan kaki. Berdiri kokoh tepat di depan BTN yang dihuninya
Beberapa kali ia menyapa ibu-ibu dan sesama mahasiswa yang tinggal di daerah tersebut. Sikap ramah dan wajah manisnya, membuat ketiga gadis yang baru tinggal di sana sangat disambut baik
Sudah banyak mobil dan motor yang terparkir rapi di pelataran Gereja. Wajar saja, tempat ibadah ini cukup besar sehingga dapat menampung jemaat yang banyak
Tiara masuk dan duduk dengan tenang di dalam. Tak lama setelahnya, ibadah dimulai. Gadis cantik itu mengikuti dengan sangat khidmat, walau masih terasa agak berbeda karena tidak melakukannya berasa sang Ayah dan Bunda
Hampir dua jam ibadah itu di mulai. Satu demi satu jamaat mulai meninggalkan gereja. Namun dia masih memilih untuk diam di sana, memandang syahdu tanda salib di depan dengan mata terpejam
Perlakuan yang tanpa ia sadari sudah diperhatikan sejak tadi oleh seorang lelaki yang duduk dikursi deret seblah, agak lebih belakang dari posisinya
Hampir lima menit Tiara berdiam diri sebelum ia mulai beranjak berdiri dan berbalik badan. Wajah tenangnya langsung berubah terkejut melihat seseorang
“Kak Alvin” panggilnya berusaha mengontrol suara
Yah, lelaki itu adalah Alvin. Terlihat sangat tampan dan rapih dengan celana chino serta kemeja putih polos yang digulung sampai siku
Tiara melanjutkan langkahnya, kemudian berjalan bersama saat tiba di samping Alvin. Mereka adalah jemaat terakhir yang keluar dari sana
“Udah gue dugong kalo itu lo” kata Alvin saat mereka sudah di luar
Merasa penasaran, Tiara mengangkat sebelah alisnya “Tahu dari mana? Sok tau banget kaya cenayang”
“Dari belakang aja udah keliatan kalo lo punya aura-aura yang cuma dimiliki oleh orang kaya lo” Alvin menggerak-gerakan tangannya di depan hidung seakan sedang menghirup aroma sesuatu
“Aura apa kak? Wah susah emang yah kalo cewek can...”
“Aura pecicilan, aura banyak goyang, aura banyak omong dan aura bahwa lo teman Arafah” potong Alvin dengan cepat
Tentu saja Tiara merenggut kesal, hari ini sudah dua orang yang memotong pembicaraannya. Ditambah dengan perkataan kurang mengenakkan dari Alvin, cukup untuk merusak perasaan Tiara yang lagi segar-segarnya habis ibadah
__ADS_1
“Gak bakal gue restuin lo kak sama temen gue. Bahkan sekalipun lo nyium kaki gue yang unyu banget, bakal gue tendang lo kak kalo sampe nyentuh ubin rumah gue bertiga. PEGANG KATA-KATA GUE, CAMKAN, RASAKAN DAN HAYATI”