
" Kasih Permata!" teriak Satria memperkenalkan Kasih di hadapan puluhan teman-temannya.
Anak laki-laki yang melihatnya, semua terkesima. Termasuk Andika, yang tak percaya jika penampilan Kasih sungguh nampak berbeda.
Semua anak perempuan bergumam tak percaya, jika Satria akan memperkenalkan Kasih di atas panggung. Cempaka terlihat geram dan kesal pada Kasih. Dia langsung berjalan menghampiri Kasih.
" Kini dia akan menjadi pacarku, siapapun tidak boleh ada yang mengusiknya." Satria berucap lantang di hadapan puluhan temannya yang hadir.
Andika terkejut dengan pernyataan Satria, apakah pengumuman barusan hanya akal-akalan Satria?
Andika sangat takut, jika Kasih akan di permainkan oleh Satria.
Kasih terlihat membulatkan kedua bola mata nya.
" Ma-af, jangan mempermainkan ku. Aku mau pulang, aku mohon!" Kasih terlihat ketakutan saat melihat Cempaka berdiri paling depan.
" Kasih, aku serius. Maukah kamu menjadi pacarku?" Satria berlutut di hadapan Kasih seraya memberikan sekuntum mawar merah.
" Tapi aku tidak pernah menyukaimu," jawab Kasih menatap lekat ke arah Satria.
" Aku tahu, aku pernah berbuat kasar sama kamu. Tapi saat ini, aku jujur soal perasaanku," ucap Satria yang masih berlutut di hadapan Kasih.
" Aku mau pulang," ucap Kasih yang langsung memutar badannya dan berjalan meninggalkan Satria. Langkahnya terhenti, kala Satria menarik tangannya.
" Kasih." Satria menahan tangan Kasih, namun di tepis oleh Kasih.
" Lepaskan!" pekik Kasih
Kasih langsung berlari, menuju pintu keluar.
" Kasih, kamu kenapa?" tanya Manohara yang mencegah Kasih untuk pergi.
" Maaf Tante, aku tidak bisa!" lirih Kasih dan langsung pergi meninggalkan Manohara.
Andika mengejar Kasih, yang sedang berlari. Sedangkan Satria di tahan oleh Cempaka.
" Sat, kamu mau ninggalin pesta ulang tahun demi cewek cupu itu?" tanya Cempaka yang menahan tangan Satria.
Satria pun melihat ke arah gadis-gadis yang nampak kecewa saat dia mengakui perasaannya kepada Kasih. Sedangkan para laki-laki semua terpana oleh penolakan dari Kasih.
" Apa kamu mau ngecewain kita demi cewek cupu itu?" Cempaka memanasi teman-teman yang datang.
Semua gadis bersorak setuju, berharap Satria tidak menghiraukan Kasih yang telah menolaknya.
Satria kembali ke panggung, dan di dampingi oleh Cempaka.
Sedangkan Kasih berusaha keras berjalan menggunakan sepatu high heels berukuran lima centi. Dia menyingkap roknya, dan berjalan cepat meninggalkan rumah Satria.
" Kasih." Terdengar suara Andika memanggil Kasih.
Kasih tak menghiraukannya, dia terus berjalan dengan langkah tertatih.
__ADS_1
Saat ada lubang, ujung sepatunya tersangkut. Dan menyebabkan dia jatuh ke jalanan yang beraspal.
" Auw ..." pekik Kasih yang sudah jatuh ke aspal.
Andika segera berlari untuk menolong Kasih.
" Kamu, gak apa-apa?" tanya Andika yang sudah jongkok di sebelah Kasih. Dia pun membantu membangunkan Kasih.
" Aku, gak apa-apa!" jawab Kasih sambil mengibaskan roknya yang berbahan satin.
" Kamu, kenapa pergi dari pesta Satria?" tanya Andika.
" Aku tidak ingin merusak acaranya," ujar Kasih beralasan.
" Bukankah, Satria sudah menyatakan perasaannya kepadamu? Seharusnya kamu senang, karena para gadis di sekolah sangat menginginkan menjadi kekasihnya."
" Tapi aku bukan tipe dia, aku yakin dia hanya mempermainkanku, " ujar Kasih.
" Aku rasa, Satria benar-benar menyukaimu. Karena saat ini kamu terlihat sangat cantik!" puji Andika.
" Aku tidak bisa," ucap Kasih dengan lirih.
" Maksudnya?" tanya Andika dengan wajah bingung.
" Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu," ucap Kasih seraya menundukkan kepalanya.
" Baiklah, sekarang aku antar kamu pulang!" Andika langsung menuntun Kasih. Mereka kembali ke rumah Satria, karena motor Andika terparkir di sana.
" Bisa," jawab Kasih yang langsung melepaskan sepatu high heels nya.
Setelah Kasih naik ke atas motor, Andika pun melajukan meninggalkan rumah Satria
Kasih berpegangan erat pada pinggang Andika, karena dia merasa kedinginan terkena angin malam.
" Terima kasih, kamu selalu ada di saat aku bersedih!" ujar Kasih.
Andika tak menggubris suara Kasih, dia hanya melirik Kasih dari arah kaca spion motor nya.
Selang beberapa menit, motor Andika telah sampai di depan rumah Kasih.
" Terima kasih untuk malam ini, " ucap Kasih yang telah turun dari motor Andika.
" Sama-sama," jawab Andika sambil merapikan rambut Kasih yang berantakan.
Kasih tertunduk malu, saat Andika merapikan rambutnya.
" Aku masuk dulu," ucap Kasih yang langsung berjalan menuju pintu gerbang, dan membukanya.
Andika pun bergegas pergi meninggalkan rumah Kasih.
" Kasih, kamu darimana saja? Kok baru pulang?" Suara Suzzana mengagetkan Kasih yang baru saja membuka pintu.
__ADS_1
" A-ku, di undang ulang tahun." Kasih berucap pelan seraya menunjuk kepalanya.
" Pakaian kamu?" Suzzana mendekati Kasih seraya memutarinya. " Darimana kamu dapat uang untuk membeli pakaian ini?" tanya Suzzana yang melihat gaun yang di pakai Kasih.
" Temanku yang meminjamkan nya," jawab Kasih.
" Temanmu yang mana?" bentak Suzzana tidak percaya, karena setahu dia, pakaian yang di pakai Kasih terbilang cukup mahal.
" Te-man sebangkuku," jawab Kasih gugup.
" Ma! Tadi Kasih sudah ijin sama aku," ucap Broto yang datang membela Kasih.
" Kasih, sebaiknya kamu pergi ke kamar." Broto memerintahkan Kasih.
" Iya, Yah!" jawab Kasih menurut, dia langsung berjalan menuju kamarnya.
" Kenapa kamu ijinkan dia pergi?" Suzzana terlihat marah pada Broto.
" Aku mohon, kamu jangan terlalu keras sama anakku," ucap Broto yang mencoba membela anaknya. Dia sangat tahu, jika Kasih sedang bahagia saat di ijinkan pergi ke pesta.
" Kamu, jangan pernah memanjakan anaknya Mutiara," ucap Suzzana yang terlihat emosi saat membicarakan mendiang ibunya Kasih.
" Anak kamu, sudah pulang?" tanya Broto yang mengalihkan pembicaraan.
" Cempaka? Memangnya dia kemana?" tanya Suzzana
" Tadi sore aku lihat, dia pergi dengan temannya. Dia gak bilang sama aku," ucap Broto mengalihkan pembicaraan. " Aku pikir, dia sudah ijin sama kamu?" tanya Broto.
" Dia gak ijin sama aku," ucap Suzzana geram.
" Ya sudah, kamu telpon saja. Sekarang dia berada dimana!" ucap Broto yang langsung memutar badannya berjalan menuju ke kamarnya.
" Kasih, sebisa mungkin ayah akan membelamu!" batin Broto yang menatap nanar ke arah kamar Kasih yang berukuran lebih kecil dari kamar Cempaka.
Suzzana nampak gelisah, saat tahu anak gadisnya pergi ke acara pesta tanpa sepengetahuannya.
Segera dia mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Cempaka.
Sudah yang kelima kali, panggilan dari Suzzana tidak juga di jawab. Suzzana semakin cemas, jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
Suzzana segera menghampiri kamar Kasih.
" Kasih ..." panggil Suzzana seraya mengetuk pintunya.
Tanpa menunggu lama, Kasih pun membuka pintu kamarnya.
" I-iya, M- , eh Bu!" jawab Kasih gugup, dia sangat takut jika akan di marahi lagi oleh Suzzana.
" Kamu tau, Cempaka?" tanya Suzzana yang menatap tajam ke arah Kasih.
Silakan like dan berikan vote serta komentar
__ADS_1