Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Kasih berharap


__ADS_3

Kasih nampak malu dan mukanya merah merona, saat membayangkan kedekatannya bersama Satria.


Hari mulai berganti malam, semua penghuni rumah telah tertidur lelap.


***


Pagi pun tiba, Kasih telah bangun terlebih dahulu. Seperti biasa, dia selalu membantu asisten rumah tangga yang sudah standby di dapur.


"Bi, sedang masak apa?" tanya Kasih yang berdiri di belakang bi Jum.


"Masak telor ceplok, buat den Satria." Bi Jum menjawab seraya membalikkan telor yang hampir matang di atas wajan.


"Oh, pake sayur gak?" tanya Kasih.


"Enggak, Non! Biasanya den Satria sukanya telor ceplok di makan sama nasi pake kecap," jawab bi Jum.


"Oh!" jawab Kasih, "lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya Kasih


"Non, tinggal duduk saja. Liatin bibi masak, soalnya kalau non Kasih bantuin nanti malah bibi yang kena marah."


"Oh!" jawab Kasih. "Maaf ya, Bi! Karena aku sudah kebiasaan di rumah mama tiriku. Kalau pagi, harus bangun dan bebenah rumah." Kasih menjawab.

__ADS_1


"Di sini, Non bebas. Gak usah ngapa-ngapain," jawab Bi Jum yang telah menyediakan telor ceplok di atas piring.


"Bi, ibu Manohara itu tinggal di sini?" tanya Kasih dengan suara pelan.


"Iya, hanya saja dia sedang ke luar negeri," sahut bi Jum.


"Oh," jawab Kasih.


"Memangnya ada apa?" tanya Bi Jum penasaran.


"Aku hanya tidak pernah melihat keberadaan, sejak aku hadir di sini. Padahal saat pertama kali bertemu, Bu Manohara sangat baik kepada ku." Kasih menjelaskan kepada bi Jum.


"Iya, Non! Nyonya memang sangat baik," jawab bi Jum. "Kadang dia bantu bibi memasak di dapur," jawab bi Jum.


"Aku sudah mandi," jawab Kasih. "Iya sudah, aku ke kamar dulu, ya Bi!" ucap Kasih yang langsung bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke arah kamarnya


Usai memakai baju seragam, Kasih langsung menuju ke arah meja makan. Di sana sudah ada Hendi, yang duduk di kursi makan.


"Kasih, kamu mau berangkat sama Satria?" tanya Hendi.


"Aku naik angkot aja, Pah!" jawab Kasih yang sudah duduk di kursi makan.

__ADS_1


"Loh, kalian kan satu kelas. Masa Satria gak mau boncengin kamu?" tanya Hendi


"Teman-teman belum tahu jika aku sudah menikah dengan Satria. Dan jika hubungan ku dengan Satria ketahuan Cempaka, maka dia akan sangat marah besar dan akan membuat ulah di sekolah." Kasih menjelaskan.


"Iya, tapi nanti kamu terlambat!" ucap Hendi dengan wajah mengiba.


"Iya sudah, aku jalan dulu." Kasih langsung mencium tangan Hendi lalu pamit untuk pergi ke sekolah.


Saat Kasih akan berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba Satria muncul dari arah kamar Nino.


"Wah, ada Satria. Pasti dia kan memanggil ku," gumam Kasih penuh percaya dalam hati.


Kemudian Kasih memelankan langkah nya, untuk mengetahui Satria memanggilnya atau tidak?"


Tapi ternyata Satria tak menghiraukan langkah Kasih. Dia hanya terdiam dan berjalan menuju ke ruang makan.


Kasih masih terus berharap agar Satria memanggilnya, namun tidak ada suara yang di keluarkan oleh Satria.


Kemudian Kasih hanya bisa menghela nafas berat, saat Satria tidak memperdulikannya.


Akhirnya dia memutuskan, untuk segera pergi dari rumah.

__ADS_1


"Ish, kenapa tiba-tiba jadi sombong lagi, sih!" gumam Kasih yang telah menutup pintu, dan dia kini berada di luar rumah.


Jangan lupa like dan berikan komentar mua.


__ADS_2