
"Aku gak apa-apa, Kak!" jawab Kasih sambil tersenyum ke arah Nino.
"Baguslah, sekarang kamu lekas mandi. Kita mau ngajak kamu jalan." Nino langsung berdiri, lalu pergi meninggalkan Kasih
"Pergi! Kemana, ya?" gumam Kasih sembari berpikir.
Lalu Kasih langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Nino menghampiri sang adik yang tertidur di sofa.
"Hey, bangun!" teriak Nino di telinga Satria.
"Ish, kakak." Satria terlihat kesal saat Nino mengagetkannya.
"Lekas mandi, habis itu kita jalan-jalan." Nino menarik tangan Satria yang masih tertidur di sofa.
"Ah, malas!" ucap Satria yang melepaskan tangannya, lalu menutup wajahnya dengan bantal sofa.
"Satria, apa kamu mau aku siram air?" ancam Nino.
Satria teringat saat masih berumur sepuluh tahun, Nino benar-benar menyiramnya dengan air. Kala itu Satria susah sekali di bangunkan, padahal sudah waktunya untuk berangkat ke sekolah. Alhasil, dia harus kebasahan di tempatnya tidur karena kejahilan sang kakak.
"Iya, baik-baik." Satria menurut, dia pun langsung bangun dari tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Eits, di sana kamarnya Kasih. Kamu mandi di kamar kakak," perintah Nino.
Nino ingin mengajak Kasih ke klinik milik sang pacar. Nino ingin memastikan, jika Kasih tidak sedang dalam keadaan hamil. Karena biasanya, jika kedua orang yang sudah baliq saling berhubungan intim, maka sang wanita pasti akan hamil. Hal itu yang harus Nino ketahui.
Satria dan Kasih sudah rapi mengenakan baju yang senada. Satria memakai kemeja berwarna biru Dongker, begitu juga Kasih memakai kaus yang sama.
"Ish, kamu abis ngintip aku, ya?" tanya Kasih seraya menatap tajam ke arah Satria.
"Ngapain ngintip kamu, gak ada bagusnya juga tubuhmu," ejek Satria seraya menatap malas ke arah Kasih.
"Itu buktinya, kamu pakai baju yang warnanya sama kayak aku!" ujar Kasih yang tak mau mengalah.
"Baiklah, aku ganti!" Satria ingin berbalik namun di tahan oleh Nino.
"Ayo, Kasih!" panggil Nino.
Kasih pun mengikuti langkah kedua kakak beradik yang berjalan di depannya.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Satria yang sudah duduk sejajar dengan Nino di dalam mobil.
"Jalan-jalan, masa kamu gak mau?" ucap Nino yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Satria terus memandangi wajah Kasih, yang terpantul di kaca spion.
__ADS_1
Penampilan sama seperti saat dia sedang bersekolah. Memakai kacamata tebal, seperti kaca akuarium.
Nino memperhatikan sang adik, yang terus memandangi Kasih dari kaca spion.
"Kenapa! Kagum?" ledek Nino sambil melirik ke arah Satria.
"Ka-gum, sama siapa?" Satria terkejut saat kakaknya mendapati dirinya sedang memandangi Kasih.
"Sama yang di belakang," jawab Nino sambil tersenyum miring.
"Ish, mana mungkin? Matanya empat, udah gitu kacanya tebel kayak kaca nako," ucap Satria yang mencibir Kasih.
Kasih merasa tersinggung, langsung mencubit pinggang Satria.
"Kamu lagi ngatain aku, ya?" tanya Kasih sambil memelintir cubitan di pinggang Satria.
"Auw, sakit tahu." Satria langsung memajukan badannya, lalu melepaskan tangan Kasih dari pinggang nya. "Jadi orang tuh jangan ke pedean," cibir Satria.
Kasih terlihat kesal, lalu dia memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
"Awas aja, ya! Kalau kamu menyinggung ku lagi!" ancam Kasih seraya menatap tajam ke arah Satria.
Satria langsung memalingkan wajahnya ke arah jalanan.
__ADS_1
Jangan lupa like dan berikan komentar mu