Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Kasih menghindari Satria


__ADS_3

" Cempaka, sedang menghadiri pesta ulang tahun." Kasih menjawab dengan jujur pertanyaan Suzzana. Dia tidak ingin mencari masalah, jika harus berbohong kepada ibu tirinya.


" Apa? Dia ke pesta ulang tahun siapa?" tanya Suzzana menyelidik.


" Satria," jawab Kasih.


" Satria?"


Suzzana nampak berpikir, sepertinya dia pernah mendengar nama Satria.


" Satria anak pemilik yayasan?" tanya Suzzana.


" Aku gak tahu, Bu!" jawab Kasih seraya menggelengkan kepalanya.


" Masa kamu gak tahu, sih!" ucap Suzzana dengan nada mengejek.


Kasih hanya menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak tahu tentang asal usul Satria.


" Baguslah, kalau kamu gak tahu." Suzzana langsung meninggalkan Kasih.


Kasih pun menutup pintu kamarnya, lalu beranjak ke atas tempat tidur.


" Huft, apa yang harus aku lakukan?" lirih Kasih seraya menatap langit-langit kamarnya.


" Pasti Cempaka akan sangat marah, karena Satria menyatakan cintanya kepadaku," ucap Kasih lemas.


Kemudian dia memejamkan kedua matanya, dan tertidur pulas.


" Cempaka ..." teriak Suzzana yang melihat anaknya masuk dengan langkah sempoyongan.


" Mama kenapa sih, berisik banget?" jawab Cempaka sambil berjalan gontai ke arah kamarnya.


" Cempaka, kamu kenapa mabuk?" Suzzana menghadang langkah Cempaka.


" Tanya aja sama si culun itu," ucap Cempaka yang memyalahkan Kasih.


" Loh kok, kamu yang mabuk kenapa jadi nyalahin Kasih?" tanya Suzzana yang bingung.


" Kalau bukan karena Satria mencintainya, gak mungkin aku mabuk!"


" Maksudnya apa? Mama gak ngerti?"


" Tadi Satria ngerubah dia jadi cantik, terus nembak Kasih di depan teman-teman." Cempaka menangis histeris di depan Suzzana.


" Apa? Kurang ajar!" Suzzana langsung menghampiri Kasih di dalam kamarnya.


" Kasih?!" Suzzana terlihat murka dan begitu marah.


Kasih terkejut, saat tangannya di tarik oleh Suzzana. Padahal Kasih sudah tertidur pulas.


" Ada apa, Bu?" tanya Kasih dengan raut wajah ketakutan.

__ADS_1


" Kenapa kamu mendekati Satria?" bentak Suzzana.


" Ma, ada apa?" Broto masuk ke dalam kamar Kasih. Karena dia mendengar ada suara keributan.


" Ajarin anak kamu, biar jangan genit!" Wajah Suzzana terlihat emosi.


" Maksudnya apa?" tanya Broto


" Satria adalah anak pemilik yayasan, dan harus menjadi milik.Cempaka. Tapi dia malah menggoda Satria," ucap Suzzana kasar pada suaminya.


" Apa? Aku gak per--" Kasih mencoba membela diri, namun di sela oleh Suzzana.


" Alah, kamu sama ibu kamu tuh sama saja! Tukang merebut pacar orang!" ejek Suzzana.


" Cukup, Suzan!" bentak Broto. " Biar Kasih akan aku nasehati, sebaiknya kamu keluar dari sini. Lalu urus anakmu yang sedang mabuk itu," ucap Broto.


Suzzana pun keluar dari kamar Kasih, dengan raut wajah yang kesal.


Broto mendekati Kasih yang sudah berlinang air mata.


" Ayah, aku tidak tahu apa-apa!" ucap Kasih seraya meneteskan air matanya.


" Kamu sabar, ya!" Broto memeluk anak gadisnya. " Ayah percaya sama kamu," ucap Broto sambil mengelus punggung Kasih.


Sementara Suzzana sedang kerepotan mengurus Cempaka, yang telah terpengaruh alkohol.


****


Pagi menjelang, Kasih pun terbangun dan segera menuju dapur, untuk membantu pekerjaan mbok Iyem.


Kasih pun segera merapikan dirinya, usai mengerjakan pekerjaan rumah. Kemudian Kasih langsung berangkat ke sekolah. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Jalanan masih terlihat sepi, dan itu kesempatan Kasih untuk menghindar dari Andika.


Kasih memutuskan untuk tidak lagi berhubungan, dengan Satria dan kerabatnya termasuk Andika.


Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, suasana masih tampak sepi. Kasih pun berjalan menuju kelasnya. Hanya satu atau dua orang yang mengisi setiap kelasnya.


Kasih sudah sampai di depan kelasnya, dia pun berjalan menuju tempat duduknya.


Kasih langsung merebahkan kepalanya di atas meja, dengan bertumpu pada kedua tangannya.


Sungguh lelah pagi ini Kasih rasakan, hingga kedua matanya langsung terpejam.


Satria pun telah duduk di bangkunya, dan melihat Kasih yang sedang tertidur lelap.


" Kasih," panggil Satria seraya menyenggol lengannya. Kasih belum juga terbangun, dan masih terlihat tertidur lelap.


Satria menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Kasih.


" Kasih, kenapa kamu menolakku?" tanya Satria dengan suara pelan. " Apa alasannya?" Satria terus memandangi wajah Kasih yang cantik tanpa makeup. Kacamata tebalnya tergeser dari hidungnya. Membuat kedua mata Kasih yang bulat terlihat jelas.


Satria berusaha mengambil kacamata, agar dia bisa lebih jelas melihat wajah Kasih.

__ADS_1


Saat sudah mengambil kacamatanya, tiba-tiba bel berbunyi. Lalu mengagetkan Kasih, yang sedang tertidur pulas. Sontak Kasih terbangun dan langsung duduk tegap. Dia merasakan kedua matanya tak jelas, melihat ke arah depan kelas.


" Kacamataku, dimana kacamataku?" Kasih panik sambil mencari kacamatanya di atas meja lalu di bawah nya.


" I-ni kacamatamu!" Satria dengan ragu menyerahkan kacamata milik Kasih.


" Ish, kamu ngapain ngambil kacamataku?" tanya Kasih dengan nada ketus, sambil memakai kacamatanya.


" A-ku ..." Belum sempat Satria berbicara, tiba-tiba Nino datang.


" Good morning," Nino mengucapkan kalimat sapaan.


" Good morning, Sir!" jawab seluruh siswa serampak.


Satria merasa terganggu dengan kehadiran kakaknya, yang selalu datang pada waktu yang tidak tepat.


Pelajaran pun di mulai, seluruh siswa fokus mengikuti pelajaran Nino.


***


Kasih berjalan menuju ke arah kantin. Saat akam melewati kamar mandi, dia di tarik oleh seseorang.


" Ah ..." pekik Kasih yang langsung terhimpit oleh dinding dan juga tubuh Cempaka.


Andika yang berada di belakang Kasih dengan jarak sekitar sepuluh meter, langsung berlari saat ada yang menarik Kasih dari arah kamar mandi.


" Heh, Cupu! Sudah aku bilang, jangan pernah dekati Satria. Kenapa kamu gak pernah dengar omonganku, sih?" bentak Cempaka yang langsung memukul dinding kamar mandi.


" A-ku, tidak pernah mendekati Satria. Dia yang selalu mengikutiku," ujar Kasih dengan suara terbata-bata.


" Jangan mentang-mentang ayahmu sekarang menjadi ayahku. Aku tuh gak sudi, menjadi saudara tiri kamu!" bentak Cempaka


" Aku peringatkan, kamu harus menjauhi Satria. Kalau tidak, aku gak akan segan-segan membuat mama menceraikan ayahmu!" Cempaka mengancam Kasih. Lalu Cempaka pergi meninggalkan Kasih.


Andika yang mendengar jejak langkah Cempaka, langsung bersembunyi di balik dinding. Dia menunggu Kasih keluar dari kamar mandi perempuan.


Kasih pun keluar dengan mata yang masih memerah. Namun terhalang oleh kacamata tebalnya.


" Kasih." Andika menahan lengan Kasih.


" Andika!" lirih Kasih yang segera menghapus air matanya.


" Kamu abis nangis?" tanya Andika yang kini berdiri di hadapan Kasih.


" Enggak, hanya kelilipan debu." Kasih mengelak lalu melepaskan tangan Andika.


" Kasih aku tahu kalau kamu saudara tiri Cempaka," ucap Andika yang ingin mencegah Kasih pergi


Kasih meghentikan langkahnya, lalu membekap mulut Andika.


" Andika, kamu tadi menguping ya?" tanya Kasih yang mendorong tubuh Andika ke dinding seraya membekap mulutnya.

__ADS_1


Dari jauh terlihat Satria yang melihat Kasih mendekati Andika. Segera Satria melangkahkan kakinya, berjalan ke arah Kasih.


Jangan lupa like dan komentar ya


__ADS_2