Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Manjanya Satria


__ADS_3

"Mas, aku mau kasih tahu ke kamu." Manohara berada di kantor Hendi.


"Soal apa?" tanya Hendi


"Amanda anak tiri dari mantan istrimu," kata Manohara memperjelas.


"Apa kamu sudah menyelidikinya?" tanya Hendi


"Sudah aku selidiki melalui pacarnya Amanda," kata Manohara seraya tersenyum tipis. "Dokter itu adalah adik temanku."


"Jadi selama ini Nino telah di bodohi oleh Amanda?" tanya Hendi


"Sepertinya, karena sepengetahuan aku si Nino memang mencintai Amanda sejak SMA. Itu yang di ceritakan Amanda pada Marino."


"Apa laki-laki itu benar-benar mencintai Amanda?" tanya Hendi.


"Aku gak tahu, yang pasti dia selalu menceritakan gerak-gerik Amanda kepada kakaknya. Jika dia mencintai Amanda, dia akan beresiko akan dikhianati juga. Jadi aku rasa dia tidak akan pernah suka sama Amanda."


"Baik, kita tunggu waktu yang tepat untuk menjebaknya," kata Hendi. "Apa kamu sudah makan?" tanya Hendi seraya mendekati Manohara


"Belum, selesai memasak untuk anak-anak, aku langsung ke sini."


"Kita makan siang," ajak Hendi sembari menuntun tangan Manohara.


Sementara di rumah, Kasih hanya terdiam dan tidak keluar dari kamarnya. Dia merasa bersedih dengan ucapan Nino kepadanya.


Kasih kembali mengingat kenangan terburuk dalam hidupnya. Tetapi sebenarnya Kasih hanya trauma sesaat karena baru kali itu tubuhnya di lihat oleh laki-laki.

__ADS_1


"Kasih," panggil Satria dari luar pintu kamar Kasih.


Kasih tak menjawab panggilan Satria, karena dia masih kesal dengan Nino.


Padahal Nino yang telah membuatnya kesal, tetapi Satria kena getahnya.


"Kasih, ayo kita makan." Satria mengajak Kasih untuk menyantap hidangan makan siang yang telah dibuat oleh Manohara.


"Kasih, mama sudah masak untuk kita. Kasihan mama kalau makanannya gak dihabiskan." Satria terus memanggil Kasih sembari mengetuk pintu kamar.


Karena mendengar nama Manohara, maka Kasih langsung bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju pintu.


Pintu kamar terbuka, Kasih menyembulkan kepalanya keluar dari kamar.


"Aku hanya pakai kaos dalam, sebaiknya kamu pergi saja duluan. Sebentar lagi aku akan menyusulmu."


"Iya, bawel." Kasih langsung menutup pintu kamar.


"Huft, aku malas banget ketemu sama kak Nino." Kasih mendengus kesal seraya membanting tubuhnya ke atas kasur.


"Krucuk, krucuk..."


Tiba-tiba terdengar suara perutnya yang keroncongan.


"Aduh, kenapa perutku gak bisa di ajak kompromi?" gumam Kasih yang langsung duduk.


Kemudian dia mencari kaos lengan pendek di dalam lemari.

__ADS_1


"Selesai makan, aku mau langsung tidur," ancam Kasih dalam hati.


Kemudian Kasih pun keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ke arah ruang makan.


"Kamu kok lama banget?" tanya Satria yang sudah menunggu Kasih sedari tadi.


Kasih melirik ke arah Nino, dan melihat piring mereka berdua masih terbalik.


"Kenapa kalian gak makan duluan?" tanya Kasih yang sudah duduk di bangku.


"Peraturan di rumah ini adalah harus makan bersama," kata Satria menjelaskan.


"Oh, ya sudah sekarang kita makan." Kasih langsung membalik piring dan menyendokkan nasi.


"Sendokkan untuk aku," ucap Satria merajuk.


"Ih, manja banget," gerutu Kasih.


"Kamu sekarang sudah menjadi istri aku, jadi harus melayani dengan sepenuh hati." Satria langsung menyodorkan piringnya ke arah Kasih.


"Ish," desis Kasih yang langsung menyendokkan nasi ke piring Satria.


"Terima kasih," kata Satria sembari tersenyum.


"Sat, kamu kenapa sih? Kok manja gitu?" tanya Nino yang melihat keanehan pada diri sang adik.


Silakan berikan komentar dan like

__ADS_1


__ADS_2