
"Kak, kita ke klinik kak Amanda?" tanya Satria yang kenal dengan klinik di depannya.
"Iya, mau cek sebentar saja." Nino langsung mematikan mesin mobil nya. "Ayo cepat," ajak Nino yang sudah keluar dari mobil.
"Kak, mau cek apa sih?" tanya Satria.
"Jangan bawel, udah keluar aja." Nino langsung menarik tangan Satria.
"Ayo, Kasih!" ajak Nino.
Kasih pun ikut keluar, mengikuti langkah Nino dan Satria. Mereka memasuki klinik milik Amanda yang ukurannya terbilang besar, dibanding klinik biasa.
Nino meminta pada resepsionis untuk mengabarkan pada Amanda, jika dirinya dan kedua adiknya sudah datang.
"Sus, tolong bilang dokter Manda. Nino sudah datang," ucap Nino yang berdiri di depan meja resepsionis.
"Baik, Pak!" Resepsionis langsung menuju ruang Amanda.
"Siapa yang sakit, Kak?" tanya Satria.
"Kamu," jawab Nino.
"Aku gak sakit, kok!" ucap Satria seraya memegang dahinya.
"Ya sudah, kalau gak sakit diem aja!" ucap Nino sambil tersenyum ke arah Kasih.
"Tuan Nino, silakan masuk." Perawat mempersilahkan Nino masuk ke dalam ruangan Amanda.
"Terima kasih," jawab Nino
__ADS_1
"Ayo, Kasih!" Kali ini Nino menuntun tangan Kasih untuk masuk ke dalam ruangan Amanda.
"Hey, Kak! Memangnya Kasih sakit apa?" tanya Satria seraya mengikuti langkah Nino
Nino tak menjawab pertanyaan Satria, dia tetap berjalan menuju ruangan Amanda.
"Tok, tok, tok..." Nino mengetuk pintu.
"Masuk!" Terdengar dari dalam ruang dokter, Amanda mempersilakan Nino masuk
"Sayang!" Nino langsung menghampiri Amanda lalu mencium pipi kanan dan kirinya.
"Kasih, apa kabarmu?" tanya Amanda dengan suara lembutnya.
"Baik," jawab Kasih seraya merapikan kacamata nya.
"Silakan duduk," Amanda mempersilahkan Kasih untuk duduk di hadapannya. "Kalian berdua, tolong tunggu di depan." Amanda memerintahkan Nino dan Satria untuk keluar dari ruangannya.
"Urusan Manda, sekarang kita keluar." Nino menarik tangan adiknya.
"Baiklah Kasih, kamu sudah tahu maksud Nino mengajakmu ke sini?" tanya Amanda
Kasih hanya menggelengkan kepalanya, karena dia merasa dirinya tidak sakit.
"Aku ingin memeriksa, bagian yang pernah Satria sentuh," ucap Amanda dengan perlahan. Amanda tahu, jika korban perkosaan pasti akan merasa syok dan trauma. Apalagi di tambah kasus ayahnya Kasih meninggal di hadapannya sendiri.
"Maksud Kakak, apa?" tanya Kasih yang masih belum memahami penuturan Amanda.
"Kasih, kemarin kamu di perkosa oleh Satria. Dan aku akan memeriksa bagian yang pernah di sentuh olehnya. Jika besar kemungkinan kamu hamil, bisa kita ketahui dari sekarang." Amanda menjelaskan secara rinci.
__ADS_1
Kasih menundukkan kepalanya, dia merasa malu jika Amanda akan memeriksa area sensitifnya.
"Kamu gak usah takut, kita sama-sama perempuan. Dan aku seorang dokter," ucap Amanda.
"Baiklah," jawab Kasih lirih.
"Silakan kamu naik ke atas tempat tidur," ucap Amanda yang memerintahkan Kasih.
Kasih langsung berjalan menuju tempat tidur, lalu membaringkan badannya.
Amanda mengambil selimut, untuk menutup tubuh Kasih sebagian.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Amanda.
"Sudah, Kak!" jawab Kasih seraya menutup kedua matanya.
Amanda terlihat bingung saat meraba area sensitif milik Kasih. Tak ada bekas luka dari benda tumpul.
"Kasih, apa saat kamu di perkosa merasakan sakit di bagian sini?" tanya Amanda seraya menunjukkan jarinya ke arah bagian sensitif milik Kasih.
Kasih terlihat menggelengkan kepalanya.
"Lalu kata Andika, dia melihat ada noda darah di atas sofa. Noda darah siapa?" tanya Amanda dengan mendetil.
"Oh, aku memang sedang mentruasi Kak. Makanya aku langsung mendorong tubuh Satria, saat punyanya yang terlihat besar itu akan dia masukkan ke sini." Kasih bercerita dengan polosnya.
Sebenarnya saat itu Kasih sangat malu, saat dirinya sedang menstruasi hari terakhir, tiba-tiba celana di buka oleh Satria. Ditambah Kasih terus melawan Satria yang semakin buas menciumnya. Maka membuatnya kelelahan, dan lemas tak berdaya.
"Jadi, kamu masih perawan?" tanya Amanda.
__ADS_1
Kasih menganggukkan kepalanya. "Iya,"
Jangan lupa like dan berikan komentar mu