
"Eh, kalian tahu gak? Kalau pak Nino itu ada main sama Kasih!" teman satu geng Cempaka mulai bergosip bernama Riana.
Mereka berempat membuat pengumuman saat bel masuk berbunyi. Dan Kasih belum masuk ke dalam kelas. Sedangkan Satria sudah duduk dibangkunya.
"Ah, masa!" jawab serempak siswi yang menyukai Nino.
"Gak mungkin, pak Nino menyukai cewek culun kayak gitu," sahut siswi yang bernama Fani.
"Tadi pas kita bikin pelajaran buat Kasih, eh pak Nino datang buat belain dia," ucap Luna menyambung.
Satria mencoba menahan amarahnya, saat istrinya sedang di gosipkan. Sebelumnya dia sudah mengancam Kasih, agar jangan memberitahu pernikahannya pada teman-temannya. Satria menaruh kepalanya di atas meja, dia tak ingin menghiraukan gosipan tentang istrinya.
"Ternyata dia memang wanita gatel, gak tahu malu. Sama seperti ibunya yang tukang ngerebut pacar orang!" teriak Cempaka dengan nada suara tinggi.
"Cukup..." Satria menghentikan umpatan Cempaka soal Kasih. Satria tak tahan dengan celotehan Cempaka yang terus menjelekkan nama istrinya.
"Kenapa sih kamu berisik banget?" tegur Satria. "Sekali lagi kalian berisik, aku gak segan-segan melaporkan kalian ke kepala sekolah." Satria kembali menidurkan kepalanya di atas meja.
Semua siswa terdiam, kemudian masuklah Kasih bersama Andika.
"Ehem, gaet cowok lagi. Dasar--" ucapan Cempaka terhenti kala Satria berdehem. "Hem..."
Kasih terlihat bingung saat semua teman-temannya memandangnya aneh.
Andika dan Kasih pun duduk di bangku masing-masing. Kemudian guru yang mengajar pun datang.
__ADS_1
***
Sementara Suzzana datang ke kantor Hendi.
"Permisi, bisa bertemu dengan pak Hendi Wirawan?" tanya Suzzana yang sudah berdiri di depan ruang sekertaris
"Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya sekertaris bernama Ana.
"Belum, hanya saja ini penting." Suzzana langsung melepas kacamata hitamnya. "Aku donatur di yayasan milik pak Hendi. Tolong sampaikan padanya, karena aku akan menambah dana di yayasan miliknya," ucap Suzzana tersenyum.
"Maaf, nama Anda siapa?" tanya Ana
"Suzzana."
"Tunggu sebentar, saya akan melaporkan pada pak Hendi." Ana pun berjalan menuju ruangan Hendi.
Setelah mengetahui insiden pemerkosaan terhadap Kasih, yang di lakukan oleh Satria maka Suzzana langsung gerak cepat untuk menjodohkan anaknya.
"Dia sangat yakin, jika Hendi tidak mengetahui tentang pemerkosaan yang terjadi di acara ulang tahun Cempaka. Karena Cempaka telah mengancam semua teman-temannya, untuk menutup mulut dan dilarang menjadi saksi mata jika Kasih meminta pertanggung jawaban.
Karena Hendi adalah orang paling sibuk, tak mungkin ada waktu mengurusi soal kenakalan anaknya.
Tetapi Suzzana salah menduga sifat Hendi yang begitu perhatian pada anak-anaknya. Sejak di tinggalkan istrinya, Hendi benar-benar mengasuh anaknya dengan baik. Dan mengajarkan tanggung jawab pada kedua anak laki-lakinya. Serta menghormati seorang perempuan.
"Silakan masuk, Bu." Ana mempersilakan Suzzana masuk ke dalam ruangan Hendi.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Suzzana diiringi anggukan, lalu berjalan menuju ruangan CEO.
"Tok, tok, tok..."
Suzzana mengetuk pintu ruangan CEO.
" Silakan masuk!" teriak Hendi dari arah dalam ruangan.
Suzzana pun membuka pintu, dan melangkahkan kakinya dengan elegan, menuju kursi yang berada di hadapan Hendi.
"Bu Suzzana, ada yang bisa aku bantu?" tanya Hendi sambil berdiri lalu menjabat tangan Suzzana.
"Aku ada urusan sedikit, dan menyangkut soal dana yang akan aku tambahkan ke yayasan milikmu." Suzzana menjawab dengan senyuman.
"Maksudnya?" Anda akan menambah lagi dana untuk sumbangan di yayasan milikku?" tanya Hendi yang sudah duduk di bangku.
"Iya, tetapi ada syaratnya." Suzzana memajukan badannya dan melipat tangannya di atas meja.
"Maksudnya syarat apa?" tanya Hendi.
"Aku akan menambah setengah lagi dari dana sebelumnya, jika Anda menyetujui adanya ikatan pertunangan antara anak kita," ucap Suzzana.
"Tunangan?" tanya Hendi. "Maksudnya tunangan gimana?"
"Aku ingin menjodohkan Cempaka dengan Satria," ucap Suzzana.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak mengerti dengan maksudmu." Hendi bingung dengan perkataan Suzzana.