
"Aku lagi malas!" ucap Nino yang masih bermalas-malasan di atas kasur
"Udah sore, bangun jangan kerjaannya tidur aja," ucap Satria yang langsung melompat ke atas kasur.
"Sono ah! Jangan ganggu aku," ucap Nino yang mendorong tubuh Satria
"Kak, aku bertemu mama." Satria menghentikan candaannya.
"Mama!" ucap Nino yang langsung duduk menegakkan badannya. "Apa kamu masih mengenalinya?" tanya Nino.
"Masih," ucap Satria dengan nada lirih. "Dia terlihat cantik, bersama anak usia sepuluh tahun."
"Maksud mu, itu anak mama?" tanya Nino penasaran.
"Sepertinya, tapi aku langsung pergi dan tak ingin berbicara dengannya." Satria langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku juga pernah melihat mama," ucap Nino pelan saat Satria sudah sampai di dalam kamar mandi.
Malam pun tiba, seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang makan.
Hendi sudah duduk di bangku paling ujung, sedangkan Satria dan Kasih duduk berdampingan. Dan Nino duduk di hadapan Satria.
__ADS_1
Kasih menyendokkan nasi untuk Satria, lalu Hendi dan Nino menolak. " Kasih, biar aku saja." Nino langsung mengambil, centong nasi dari tangan Kasih.
Mereka pun makan dengan tenang tanpa berbicara satu katapun, hingga mengakhiri makanannya.
"Kasih, tadi kamu di ajak kemana sama Satria?" tanya Hendi.
"Ke bioskop, hanya saja gak jadi." Kasih menjelaskan
Satria langsung memotong pembicaraan, saat Kasih menyebutkan kata bioskop. "Aku langsung ngajak dia ke taman, karena filmnya gak ada yang seru."
Kasih pun tidak bermaksud ingin menceritakan, soal pertemuan Satria dengan mamanya.
"Maaf, Pah! Aku permisi dulu," ucap Kasih seraya mengikuti langkah Satria
Mereka berdua berjalan menuju kamar milik Satria.
"Kasih, aku harap kamu tidak menceritakan tentang pertemuan ku dengan mama ku kepada papa." Satria berpesan pada Kasih.
"Iya," jawab Kasih. "Padahal tadi aku ingin menceritakan tentang keindahan taman sama papa. Tapi kamu malah menarik tangan aku," ucap Kasih seraya mengerucutkan bibirnya.
"Aku pikir kau ingin menceritakan kalau aku ketemu mama," ucap Satria. "Maaf, ya!" lanjutnya seraya menyatukan kedua tangan nya.
__ADS_1
"Eh, kita gak ada PR. Kenapa kamu ngajak aku ke kamar untuk ngerjain PR?" tanya Kasih.
"Karena aku mau ngerjain kamu," ucap Satria yang langsung mendekati Kasih lalu menggelitiknya.
Kasih pun menggeliat kegelian, lalu terjatuh di atas kasur. Membuat Satria berada di atas tubuh Kasih.
"Satria, cukup!" Ucap Kasih yang langsung menahan dada Satria yang berada di atas tubuhnya. Kedua nafas mereka saling berhembus, hingga mengenai wajah masing-masing.
Kasih merasakan degupan jantung nya yang berdebar sangat kencang. Saat Satria terus menatapnya dengan intens. Perlahan bibir Satria mendekati bibir Kasih, yang jaraknya hanya beberapa centi. Deru nafas mereka menjadi satu, karena jarak yang sangat dekat.
Saat Satria ingin mencium bibir Kasih, tiba-tiba Nino membuka pintu.
"Ops!" Nino langsung menutup kembali pintu saat melihat Satria berada di atas tubuh Kasih.
Sontak tangan Kasih langsung mendorong tubuh Satria, hingga membuatnya terjatuh.
"Aduh!" Satria mengusap bokongnya yang kesakitan. "Ish, kakak mengganggu aja!" teriak Satria
Nino hanya tertawa kecil saat menangkap basah adiknya, yang sedang bermesraan dengan istri kecilnya.
"Satria, kamu gak boleh gitu lagi." Kasih marah pada Satria dan langsung berjalan menuju ke arah balkon.
__ADS_1