
Kasih berjalan ke kelas dengan langkah gontai, setelah mendengar ejekan dari Cempaka.
Kenapa Cempaka masih jahat kepadanya? batin Kasih sambil menatap sinis ke arah Cempaka.
Kasih pun berjalan menuju ke arah bangkunya, sudah ada Satria yang duduk di sana.
Kemudian Kasih pun duduk dengan wajah lesu. Satria tak menegurnya sama sekali, dia terlihat acuh pada Kasih. Padahal saat ini hati Kasih sedang hancur karena ejekan Cempaka.
Sampai bel pulang berbunyi pun Satria tetap tidak menyapanya sama sekali. Kemudian dia langsung berjalan meninggalkan bangku, karena guru yang mengajar telah keluar dari ruang kelas.
"Kasih!" panggil Andika sambil menahan langkah Kasih dengan memegang punggungnya.
"Iya," jawab Kasih dengan malas sambil menoleh ke arah belakang.
"Kita pulang bareng!" ajak Andika yang langsung menuntun tangan Kasih. Kasih pun berjalan mengikuti langkah Andika.
"Andika, hentikan!" Kasih menghentikan langkahnya saat berada di parkiran.
"Kasih, aku tidak ingin kamu terus di permalukan oleh Cempaka." Andika menegaskan pada Kasih. Dia tidak tega, jika Kasih terus di bully oleh Cempaka. Entah apa yang di rasakan oleh Andika, nyatanya dia sangat ingin melindungi Kasih.
"Andika, aku harap ucapanmu soal aku menjadi pacarmu itu hanya omong kosong. Bukan untuk kau jadikan kenyataan," ucap Kasih
__ADS_1
Andika pun bingung soal perasaan nya, menganggap Kasih seperti adiknya atau ada perasaan lain? Hanya Andika yang merasakan hal itu. Yang pasti dalam benaknya, dia hanya ingin melindungi Kasih. Karena memang sejak pertama bertemu dengan Kasih, Andika sudah mulai memperhatikan Kasih.
"Kamu gak usah mikir ucapan ku soal tadi, karena aku hanya ingin membelamu." Andika menjelaskan.
"Tapi sikapmu yang seperti ini, membuat aku menjadi canggung." Kasih
"Maaf, aku kelepasan tadi soal pengakuanku yang menjadi pacarmu. Karena aku sudah kesal dengan Cempaka." Andika berdalih padahal ada perasaan yang tidak biasa terhadap Kasih di dalam dirinya.
Kemudian Kasih pun menuruti keinginan Andika, yaitu pulang bareng bersama nya.
Satria menatap nanar melihat kepergian Kasih bersama Andika. Dia masih menahan gengsinya untuk mengakui perasaannya terhadap Kasih.
"Satria, kamu bisa gak anterin aku pulang?" tanya Cempaka yang tiba-tiba merangkul pundak Satria.
"Satria, kok kamu kasar sih sama aku!" ucap Cempaka
Satria hanya terdiam tak menghiraukan ucapan Cempaka. Dia pun langsung naik ke atas motor nya. Saat ini perasaan Satria sedang kesal dan tak ingin di ganggu oleh siapapun. Satria langsung melajukan motornya meninggalkan Cempaka.
"Ish, lagi-lagi aku di tinggalin." Cempaka terlihat kesal sambil menginjak-injak jalanan aspal di bawahnya.
Sesampainya di rumah, Kasih pun turun dari motor Andika.
__ADS_1
"Dika..." panggil Kasih.
"Iya," jawab Andika seraya mengambil helm yang diberikan oleh Kasih.
"Bagaimana jika Cempaka tahu, kalau aku sudah menikah dan tinggal di rumah ini?" tanya Kasih sambil membetulkan kacamata nya.
Andika terdiam, kemudian dia berpikir sejenak soal pertanyaan Kasih.
"Hey, gadis cantik. Kamu sudah pulang?" sapa Manohara yang tiba-tiba berdiri di sebelah Kasih.
"Tante, kapan pulang?" tanya Andika yang terkejut melihat tantenya sudah berdiri di hadapannya.
"Tadi pagi," jawab Manohara.
"Aku sudah di ceritakan oleh suamiku dan selamat, ya! Kamu sekarang menjadi bagian dari keluarga ini." Manohara memeluk Kasih.
"Iya, Tan-" ucapan Kasih di potong oleh Manohara.
"Mama, bukannya Tante!" ucap Manohara menegaskan.
"I-iya, mama." Kasih pun mengulas senyum.
__ADS_1
"Baiklah, ayo masuk. Kita makan siang bersama, karena biasanya aku selalu makan sendiri." Manohara merangkul bahu Kasih dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.