Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Kasih di usir


__ADS_3

"Apa? Kamu di perkosa?" Broto memegang dadanya. Terasa amat sakit jantungnya, hingga membuat dia jatuh ke lantai.


"Om!" Andika menghampiri Broto yang sudah jatuh pingsan.


Kasih yang mendengar suara Andika, memanggil ayahnya langsung terbangun.


"Kasih, ayahmu!" Andika mengangkat kepala Broto.


Kasih langsung menghampiri sang ayah, dengan langkah yang tertatih. Dia masih merasakan sakit di area intinya, hingga membuatnya kesulitan berjalan.


"Ayah..." Kasih menangis histeris.


"Kita bawa ke rumah sakit," ajak Andika yang langsung memapah Broto berjalan menuju mobilnya.


Andika menjalankan mobil, Kasih duduk di bangku belakang bersama ayahnya.


"Kasih, kamu yang kuat, ya!" Andika memberi semangat pada Kasih yang sedang menangis.


"Ayah, maafin Kasih sudah buat ayah seperti ini." Kasih menangis memeluk ayahnya.


Sesampainya di rumah sakit, Andika segera turun mencari perawat.


"Kasih, angkat kepala ayahmu!" ucap Andika yang sudah membawa brankar rumah sakit


Broto di bawa ke ruangan unit gawat darurat.


" Maaf Dek, kalian tunggu di sini." Perawat menghentikan langkah Kasih dan Andika.


"Ayah kamu, pasti akan tertolong." Andika mendekati Kasih dan menguatkannya.


"Terima kasih, atas semua bantuanmu. Kalau tidak ada kamu, aku pasti bingung." Kasih memeluk Andika.


" Loh Andika, kok kamu ada di sini?" tanya Nino yang kebetulan lewat ruang unit gawat darurat.


Nino sedang menjemput pacarnya, yang berprofesi sebagai dokter umum di rumah sakit.


" Aku mengantar ayahnya Kasih," jawab Andika.


" Pak Nino," panggil Kasih sambil menutup bajunya dengan jaket yang di berikan oleh Andika.


Nino melihat ke arah Kasih, dia memperhatikan penampilan Kasih yang acak-acakan.


"Kamu?" Nino menunjukkan jarinya ke arah Kasih.


"Dia gadis, yang bangkunya di buang sama Satria." Andika menjelaskan. " Dan juga, hari ini kehormatannya di renggut oleh Satria."


"Dika!" Kasih menatap tajam ke arah Kasih.


Kasih tidak tahu, jika Nino adalah kakak Satria.

__ADS_1


"Apa?!" Nino terkejut dengan pengakuan Andika. "Kamu jangan memfitnah Satria!" Nino mencengkeram kerah baju Andika.


" Kalau kau tidak percaya, sebaiknya tanyakan langsung pada adikmu." Andika menatap sinis ke arah Nino.


" Adik?" tanya Kasih bingung.


Nino langsung melepaskan cengkramannya, saat seorang dokter keluar dari ruang IGD.


"Amanda," panggil Nino pada sang dokter yang merupakan kekasih hatinya.


"Andika, siapa kerabat pasien yang baru masuk?" tanya dokter cantik yang bernama Amanda.


" Saya, dok!" jawab Kasih yang maju selangkah menghampiri Amanda.


"Ayahmu telah selamat, hanya saja harus di rawat untuk beberapa hari." Amanda menjelaskan pada Kasih.


" Syukurlah, terima kasih dok!" ucap Kasih seraya menyatukan kedua tangannya.


"Ayahmu akan di rawat di ruang anggrek, setelah kamu menyelesaikan administrasinya," ucap Amanda.


" Baik, dok. Aku akan mengurus administrasinya."


Amanda dan Nino pun pergi, meninggalkan Kasih dan Andika.


"Sudah malam, bagian administrasi pasti juga sudah tutup. Sebaiknya besok saja aku tanyakan soal biayanya," ucap Kasih yang bermonolog sendiri namun di dengar oleh Andika.


" Kamu mau aku antar pulang? Sebaiknya, kamu mandi dan ganti bajumu," ucap Andika.


Andika pun mengantarkan Kasih pulang, karena waktu menujukkan jam dua belas malam.


Kasih terlihat lelah sekali, selama perjalanan dia tertidur lelap.


" Kasih, sudah sampai." Andika membangunkan Kasih dengan suara pelan.


Kasih pun terbangun, dan turun dari mobil. Dia sangat terkejut, saat melihat ada dua koper tergeletak di luar pintu.


" Kasih, ini koper siapa?" tanya Andika yang melihat dua koper besar di depan pintu.


" Seperti koper punya, ayah!" Kasih mendekati dua koper berwarna hitam dan coklat. Kemudian dia membuka satu koper, yang berada di hadapannya.


"Bajuku!" ucap Kasih lirih menatap ke arah baju-bajunya.


Kasih langsung bangkit dan berjalan menghampiri pintu.


" Bu, Cempaka, mbok Iyem..." teriak Kasih memanggil seisi rumah.


Namun tak ada yang mendengarkan teriakannya. Sekali lagi Kasih mencoba mengetuk pintu dengan kencang. Akhirnya pintu pun terbuka.


"Bu!" panggil Kasih yang melihat Suzzana di hadapannya.

__ADS_1


"Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Suzzana dengan nada sinis.


"Aku mau minta uang untuk biaya pengobatan ayah," pinta Kasih


"Apa? Enak aja minta duit sama aku, memangnya kamu pikir aku ini bank, apa?" tekan Suzzana


"Bu, ayah harus di rawat. Dan aku butuh uang untuk biaya rumah sakit!" ucap Kasih.


"Mulai hari ini, aku menceraikan ayahmu. Dan kamu jangan pernah lagi kembali ke rumah ini." Suzzana langsung menutup pintu.


"Bu, aku mohon!" Kasih berteriak sambil mengetuk pintu. Dia meminta belas kasih Suzzana, agar mau memberikannya uang untuk biaya pengobatan sang ayah.


"Ibu, aku mohon bukakan pintu. Dan beri aku uang..." teriak Kasih yang terus menggedor pintu namun tak di hiraukan oleh Suzzana.


Andika menatap iba Kasih. "Kasih, kamu ikut ke rumah aku, ya!" ajak Andika.


"Dika, aku butuh uang untuk biaya rumah sakit." Kasih duduk bersimpuh di lantai.


"Tapi nenek sihir itu, gak mau kasih kamu duit!" ucap Andika menatap kesal ke arah pintu rumah.


"Non!" Suara mbok Iyem terdengar dari arah pintu belakang.


"Mbok," ucap Kasih menoleh ke arah mbok Iyem seraya menangis.


"Non, mbok ada sedikit simpanan. Barang kali bisa membantu bapak," ucap mbok Iyem seraya memberikan segepok uang gajinya yang dia kumpulkan selama setahun. Rencana uang itu akan dia pakai untuk pergi ibadah. Hanya saja, mbok Iyem tidak tega, saat mendengar Kasih menangis meminta uang kepada Suzzana.


"Mbok, uangnya banyak banget. Pasti mbok sedang merencanakan sesuatu dengan uang ini. Aku gak bisa menerimanya, ini bukan hak aku." Kasih menolak, karena merasa tidak berhak menerima uang dari mbok Iyem.


"Non, ini uang simpanan mbok yang tidak terpakai. Bisa Non gunakan saat ini, karena ada nyawa yang harus di selamatkan." Mbok Iyem memaksa Kasih menerima uang dari mbok Iyem.


"Terima kasih, Mbok! Kalau aku kerja nanti, pasti akan aku ganti." Kasih menerima uang dari mbok Iyem.


"Iya udah, sekarang Non cepat urus bapak. Semoga bapak lekas sembuh," ucap mbok Iyem yang langsung memeluk Kasih.


"Terima kasih, Mbok sudah baik sama aku." Kasih menangis haru di pelukan mbok Iyem.


Andika memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.


"Ayo, Kasih. Kita jalan!" ajak Andika yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Mbok, kalau aku ada uang langsung aku ganti. Aku pergi dulu," ucap Kasih yang pamit pada mbok Iyem


"Hati-hati, Non!" Mbok Iyem melambaikan tangan melepas kepergian Kasih.


Kasih dan Andika pun pergi meninggalkan rumah Suzzana.


" Kasih, sebaiknya kamu ke rumah aku untuk membersihkan tubuhmu." Andika menyarankan Kasih.


" Tidak Dika, aku akan langsung ke rumah sakit. Aku mau mandi di sana saja, sekalian menemani ayah." Kasih menolak

__ADS_1


Silakan like dan komentar


__ADS_2