
Namun Andika hanya terdiam tak menjawab panggilan Kasih. Dia langsung berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.
"Dika..." panggil Kasih namun tak di hiraukan oleh Andika.
"Apa Andika marah sama aku?" tanya Kasih sembari menggaruk kepalanya. Dia sungguh bingung dengan sikap Satria dan Andika saat ini.
Andika harus mengorbankan perasaannya, demi menjaga hati saudara sepupunya.
Kasih menatap nanar kepergian Andika, dirinya begitu kecewa saat diacuhkan oleh sepupunya Satria itu.
"Sebenarnya ada apa sih sama mereka berdua?" gumam Kasih sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan melihat dua saudara sepupu yang selalu berada di sampingnya.
"Ayo, Kasih. Kita makan dulu," ajak Satria sembari menarik tangan Kasih.
Mereka berdua pun duduk di bangku.
"Tidak akan aku biarkan Kasih memiliki Satria!" gumam Cempaka seraya menatap sinis ke arah Kasih.
Semua siswa telah menyelesaikan makan siangnya karena bel masuk sudah berbunyi.
"Kasih!" panggil Cempaka saat melihat Kasih akan keluar dari kantin
"Ada apa?" tanya Kasih seraya menghentikan langkahnya.
Sementara Satria sedang berjalan menuju me arah toilet. Dan Cempaka mengambil kesempatan untuk menghampiri Kasih.
"Apa Satria benar-benar mencintaimu?" tanya Cempaka meminta penjelasan Kasih.
"Aku gak tahu," jawab Kasih yang langsung menghindari Cempaka.
__ADS_1
"Vera..." Kasih mencoba mencari perlindungan dengan memanggil temannya yang sedang melintas.
"Iya," jawab Vera sembari menghampiri Kasih.
"Aku ikut ke kelas," ucap Kasih.
Kasih pun langsung pergi meninggalkan Cempaka.
"Ish," jengkel Cempaka saat melihat Kasih bisa menghindar darinya.
Beberapa jam kemudian bel pulang berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.
"Ayo, Kasih kita pulang!" ajak Satria sembari menuntun tangan Kasih.
Cempaka terlihat sangat membenci Kasih, dia tidak rela jika Kasih harus bersama dengan Satria.
Cempaka membuat rencana yang licik, agar Satria dapat menjauhi Kasih.
***
Sesampainya di rumah, Satria melihat Nino yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Kak, kok gak ngajar?" tanya Satria yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Sakit," jawab Nino lemah
"Oh, aku pikir kakak gak bakal sakit karena punya pacar dokter." Satria meledek sang kakak.
"Aku manusia, bukan vampir." Nino menjawab dengan nada ketus.
__ADS_1
"Tumben kalian pulang berdua," kata Nino sembari melihat ke arah Kasih.
"Aku baru saja mengumumkan sama teman-teman, kalau Kasih adalah pacarku." Satria berucap sambil menyombongkan diri.
"Cih, kenapa kamu gak umumin aja kalo dia kini sudah jadi istri kamu."
"I-ya, gak bolehlah Kak. Bisa-bisa aku di keluarkan dari sekolah," kata Satria seraya mencebikkan bibirnya.
"Lama-lama juga ketahuan kalau kalian itu sudah menikah," cibir Nino
"Sudah, ah! Aku mau masuk ke dalam kamar, males berdebat sama kakak." Satria langsung berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai tiga seraya menggenggam tangan Kasih.
"Sat, aku gak buta juga." Kasih mencoba menepis tangan Satria
"Iya, sudah. Aku masuk dulu," kata Satria yang langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menggandeng tangan Kasih.
Setelah melihat kepergian Satria menuju kamarnya, Nino memanggil Kasih seraya melambaikan tangannya.
"Kasih, bisa kita bicara sebentar?" panggil Nino
Kasih langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Kasih yang sudah memposisikan dirinya menghadap Nino.
"Kemarilah, aku ingin bicara sebentar."
Nino menunjuk sofa yang berada di hadapannya.
Silakan berikan komentar dan like
__ADS_1