
"Udah sore, ayo kita pulang!" ajak Kasih sambil menikmati es krim di tangannya.
"Kamu udah puas jalan-jalannya?" tanya Satria yang juga menikmati es krim seperti Kasih. "Iya sudah, abisin es krimnya dulu." Satria terus menjilat es krim cone coklat miliknya.
Usai menghabiskan es krimnya, mereka berjalan bergandengan tangan, melewati bahu jalan yang di pinggirnya ada kali besar. Air di kali tidak terlalu jernih, namun tidak kotor juga. Namun karena sering di bersihkan oleh dinas terkait, maka terlihat indah dan asri.
Mereka pun di tempat parkir motor, Satria langsung memakaikan helm ke kepala Kasih.
"Terima kasih, kamu sudah ngajak aku jalan-jalan." Kasih berbisik di telinga Satria, kemudian dia mengeratkan pelukannya.
Satria pun melajukan motornya, meninggalkan area taman kota. Sepanjang perjalanan, Kasih selalu bercerita tentang pengalamannya saat melihat suasana di taman kota. Karena baru kali ini, Kasih menikmati indahnya suasana ibukota.
Motor mereka pun berhenti saat lampu berwarna merah. Di belakang motor Satria, terlihat mobil milik Suzzana.
"Mah, itu 'kan motor Satria. Dia lagi boncengin siapa ya?" tanya Cempaka yang duduk di sebelah Suzzana
"Mana mama tahu!" jawab Suzzana.
Cempaka lalu membuka kaca jendela mobilnya, lalu memanggil nama Satria.
"Satria..." Cempaka mengeluarkan sedikit kepalanya lewat jendela mobilnya.
__ADS_1
Satria pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
"Cempaka," lirih Satria. "Kasih, kamu jangan menoleh ke belakang." Satria memerintahkan Kasih.
Kasih pun menurut, dia tak sedikitpun menoleh ke arah belakang. Justru dia takut, jika Cempaka mengetahui keberadaannya bersama Satria.
Lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, segera Satria melajukan motornya dengan cepat.
"Berpegangan!" teriak Satria.
Kasih pun semakin mempererat pelukannya, menyeimbangkan tubuhnya dengan Satria.
"Ish, Satria kok malah ngebut!" gerutu Cempaka. "Siapa gadis yang bersama Satria?" gumam Cempaka sambil berpikir.
"Ish, Mama. Satria tuh bukan tipe cowok gampangan. Gak semua cewek bisa naik ke motor dia. Aku aja gak bisa!" gerutu Cempaka dengan nada lemah.
"Oh, jadi kamu belum pernah naik motor Satria?" cibir Suzzana pada anak perempuannya.
Cempaka hanya menganggukkan kepalanya, menjawab cibiran dari sang mama.
"Waduh! Anak mama yang satu ini, belum pernah di boncengi sama Satria!" ucap Suzzana meledek Cempaka.
__ADS_1
Sekali lagi, Cempaka menggelengkan kepalanya.
"Iya, udah. Besok kamu selidiki siapa wanita itu? Selebihnya biar urusan mama!" ucap Suzzana dengan tatapan matanya yang fokus melihat kearah jalanan.
Sesampainya di rumah, Kasih langsung turun dari motor Satria. Dia pun bergegas masuk ke dalam rumah.
"Eits, helmnya jangan di bawa masuk!" teriak Satria. Kasih langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menghampiri Satria.
"Bukain," rajuk Kasih seraya mencondongkan kepalanya ke arah Satria.
Satria keheranan melihat tingkah Kasih, kemudian dia pun langsung membukakan helm dari kepala Kasih.
"Terima kasih," ucap Kasih seraya mengulas senyum, lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
Sepertinya hati Kasih sedang bahagia, karena dia bisa melihat pemandangan ibukota.
"Ada apa dengan gadis itu?" gumam Satria seraya menggelengkan kepalanya.
Satria pun memarkirkan motornya di garasi rumahnya. Setelah itu dia langsung berjalan menuju kamar Nino.
"Eh, Kak. Kamu gak jalan?" tanya Satria yang sudah masuk ke dalam kamar Nino.
__ADS_1
Satria melihat Nino yang sedang tidur-tiduran malas di atas kasur sambil memegang ponselnya.
Jangan lupa untuk like dan komentar