Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Suzzana terhina


__ADS_3

"Aku ingin menjodohkan anak kita, bukankah Satria satu kelas dengan Cempaka?" tanya Suzzana.


"Iya, tapi--" ucapan Hendi terhenti


"Aku akan menyumbang dua kali lipat, jika kau menyetujui kesepakatan untuk menjodohkan anak kita!" tegas Suzzana.


Hendi ingin memberitahu Suzzana jika Satria telah menikah. Tetapi Satria berpesan, jika papanya harus merahasiakan pernikahannya.


"Maaf, tapi aku tidak ingin melibatkan anakku dalam hal ini." Hendi menolak secara halus.


"Aku akan menambah anggaran untuk membiayai yayasan mu, sebanyak dua kali lipat," ujar Suzzana.


"Maaf, tapi aku tidak bisa." Hendi kekeh dengan keputusannya.


"Iya sudah, kalau kau tidak mau akan aku sebarkan video asusila milik anakmu." Suzzana mengancam Hendi.


"Jadi kamu mengancam ku?" tanya Hendi menegaskan. "Silakan saja, aku tidak takut."


"Apa kau tidak takut, jika semua rekan bisnis mu akan mundur satu persatu," ancam Suzzana.


"Nyonya, apa kau tidak malu dengan perbuatan mu. Silakan saja kamu mengancam ku, tapi aku tidak sudi menerima syarat darimu. Sebaiknya kamu pergi dari kantor ku, sekarang!" hardik Hendi yang langsung mengusir Suzzana.


"Baiklah, kau telah menghina ku. Aku tidak akan lagi menyumbang untuk yayasan mu, dan tunggu pembalasan ku." Suzzana kesal dan langsung pergi meninggalkan ruangan Hendi.

__ADS_1


"Huft, ada-ada saja." Hendi menggelengkan kepalanya melihat sikap Suzzana.


Suzzana berjalan dengan menghentakkan kakinya, dia kesal karena Hendi telah menolak permintaan nya.


"Awas, aja! Akan aku balas penghinaan ini," ujar Suzzana yang telah masuk ke dalam lift.


Di sekolah


"Kasih, aku antarkan pulang." Andika menghampiri Kasih yang masih berada di tempat duduknya.


"Hey, apa kau sekarang jadi tukang ojek nya?" celetuk Satria yang masih duduk di samping Kasih.


Andika mengetahui jika Satria tidak ingin pernikahannya dengan Kasih terbongkar. Maka dari itu, Andika terus memanasi Satria.


"Apa urusannya sama kamu? Apa kamu pacarnya?" ucap Andika penuh penekanan.


"Dika, aku harus ke makam ayahku," ucap Kasih


"Baiklah, akan aku antar." Andika menunggu Kasih merapikan buku-buku nya.


"Kenapa Andika begitu perhatian pada Kasih?" tanya Riana yang sebenarnya menyukai Andika.


"Aku gak tahu, kamu tanya aja langsung sama Andika." Cempaka berkata ketus pada Riana.

__ADS_1


"Ish, Cempaka kok jawaban kamu ketus sih?" tanya Riana yang melihat keanehan pada sikap Cempaka.


Cempaka di ancam oleh Andika, jika dirinya terlihat menjelek-jelekkan Kasih di depan Andika, maka Andika tak segan-segan untuk membongkar rahasia nya soal serbuk yang di taruh di minuman.


"Udah, ah! Aku mau pulang," ujar Cempaka yang langsung pergi meninggalkan teman-temannya.


"Cempaka kenapa sih?" tanya Lita.


"Enggak tahu, tuh! Kayaknya dia punya rahasia yang kita enggak tahu," ucap Luna menebak.


"Apa kita cari tahu?" usul Riana.


"Aku gak rela, kalau yayang Andika akan jatuh ke tangan si cupu." Riana memandang sinis Kasih yang telah berjalan bersama Andika.


"Aku setuju, aku juga gak mau gebetanku akan jatuh ke pelukan Kasih." Luna mengerlingkan kedua matanya menatap kepergian Kasih.


"Apa hebatnya si Kasih, sampai-sampai semua cowok tergila-gila sama dia," Tutur Lita sambil berpikir.


"Itu yang harus kita cari tahu," jawab Luna.


"Iya udah, kita pulang." Luna langsung bangun lalu mengajak kedua temannya untuk pergi meninggalkan kelas.


Kasih dan Andika telah sampai di parkiran motor. Motor Satria tak terlihat di sebelah motor Andika.

__ADS_1


"Sepertinya, Satria sudah pulang." Andika sembari memakai helmnya.


"Biar saja dia pulang," jawab Kasih seraya mengambil helm di atas motor Andika, lalu memakainya.


__ADS_2