Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Menantu istimewa


__ADS_3

Broto telah di makamkan, dan kini Kasih ikut serta bersama Satria dan Hendi.


"Kasih, sementara kalian tidur terpisah." Hendi masih fokus menyetir. Di dalam mobilnya hanya ada Satria dan Kasih. Motor Satria di bawa oleh Nino.


"Iya, Pak!" jawab Kasih


"Loh, panggil papa dong! Kamu sekarang anak Papa," ucap Hendi seraya melihat Kasih dari kaca spion mobil.


Cempaka dan Suzzana tak hadir dalam pemakaman Subroto.


Subroto adalah sahabat lama Hendi Wirawan. " Satria, kenapa papa mempercepat pernikahan kalian?" tanya Hendi sambil melihat anaknya dari kaca spion, karena Hendi sedang fokus menyetir mobil.


"Iya, aku harus bertanggung jawab." Satria menjawab.


"Selain itu, ayahnya Kasih adalah sahabat lama papa sewaktu SMA. Dia adalah sahabat yang paling baik. Suka menolong papa, jika ada kesulitan dalam belajar. Subroto adalah orang yang pintar." Hendi menceritakan masa lalunya.


"Apa! Sahabat Papa?" Satria tercengang tak percaya. Apakah dunia sesempit ini? Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Jangan buat Kasih bersedih, dan kamu harus melindungi dia." Hendi menegaskan pada putra bungsunya.


"Iya, Pah!" jawab Satria dengan nada malas.


Sesampainya di rumah, Kasih diantarkan ke kamarnya. Di rumah Hendi hanya ada tiga kamar, sehingga membuat Kasih harus tidur di kamar Satria.


Satria terkejut, kala papanya mengarahkan Kasih ke kamarnya.


"Sementara hingga lulus sekolah, kamu tidur di kamar Satria." Hendi menuju kamar Satria.


"Pah! Kenapa harus di kamarku?" protes Satria


"Masa harus di kamar Nino, memang Kasih istri kakak kamu?" ucap Hendi seraya menyipitkan kedua matanya.


"Lalu aku tidur dimana?" tanya Satria.


"Sementara kamu tidur bareng sama kak Nino," ucap Hendi. "Sekarang, bawakan koper Kasih. Sudah larut malam, besok kamu harus sekolah." Hendi langsung meninggalkan kamar Satria.


"Ish, kenapa hidupku jadi menderita begini!" ucap Satria yang menatap sinis ke arah Kasih.


"Aku ngantuk, mau tidur." Kasih langsung menutup pintu kamar.


"Hey Kasih, aku belum selesai bicara." Satria ingin membuka pintu kamar, namun dia urungkan karena harus mengambil koper milik Kasih.


Dengan jalan gontai, Satria menuju mobil papanya. Dia mengeluarkan koper milik Kasih.


"Huft, kenapa aku harus berhubungan dengan cewek cupu itu!" gerutu Satria seraya menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Jangan gerutu mulu, kerja yang benar!" teriak Nino yang baru saja datang mengantarkan kekasih hatinya pulang ke apartemennya.


"Kak, malam ini dan seterusnya aku tidur di kamarmu!" teriak Satria yang melihat kepergian Nino masuk ke dalam rumah.


Nino tak menghiraukan teriakan Satria, dia tetap berjalan santai menuju kamarnya.


"Kenapa nasibku seperti ini!" gerutu Satria seraya membawa koper milik Kasih.


Satria menaiki anak tangga satu persatu sambil membawa satu koper besar.


"Haduh, berat banget lagi kopernya!" Satria terlihat kerepotan membawakan kopernya. Padahal koper yang Satria bawa ada roda di bagian bawah, dan pegangannya. Namun karena hari sudah larut malam, membuat Satria tidak fokus, ditambah lagi saat ini dia tidak memiliki kamar pribadi.


"Huft, akhirnya sampai juga." Butuh perjuangan bagi Satria untuk membawa koper besar milik Kasih, yang seharusnya tinggal dorong ataupun tarik namun dia angkat dengan dua tangannya.


"Kasih!" teriak Satria seraya mengetuk pintu kamarnya.


Tak ada jawaban, akhirnya Satria membuka pintunya.


"Ceklek..."


Pintu kamar terbuka, Satria membawa kopernya dan di taruh di sebelah pintu. Saat kedua kakinya maju selangkah, terlihat Kasih keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya.


Kasih terkejut saat Satria menatapnya tanpa berkedip.


"Hey, kenapa kamu masuk gak ketuk pintu dulu!" teriak Kasih yang langsung menghampiri Satria lalu mendorongnya keluar kamar.


Satria melihat tubuh Kasih yang putih mulus hanya mengenakan handuk. Serta wajahnya yang terlihat cantik natural tanpa kacamata tebal, dengan rambut yang masih basah.


Kasih yang panik langsung mengunci pintu kamarnya. Dia sangat takut jika kejadian malam itu terulang kembali. Sebenarnya, Kasih masih trauma dengan kejadian kemarin saat di perkosa oleh Satria. Hanya saja saat ini, dia harus kuat karena ayahnya sudah tidak ada lagi untuknya. Kasih saat ini hanya hidup sebatang kara, tanpa ada kerabat dan saudara.


Kasih memejamkan kedua matanya, berharap ayah dan ibunya tetap menemaninya.


Kasih membuka kopernya, dan mencari baju tidurnya.


Di dalam kamar yang cukup luas, Kasih pun menghampiri tempat tidur untuk Satria. Dia merebahkan tubuhnya di kasur berukuran king size dengan sprei motif polkadot berwarna hitam putih.


***


Pagi pun tiba, Kasih sudah terbiasa bangun pagi. Usai mandi pagi, dia segera bergegas menuju arah dapur.


"Maaf Non, biar bibi aja yang memasak." Bi Jum melarang Kasih untuk memasak.


"Aku sudah biasa melakukannya," jawab Kasih yang sedang mengupas bawang merah.


"Memangnya Non, mau bikin apa?" tanya Bidan Jum.

__ADS_1


"Bikin nasi goreng," jawab Kasih. "Oh iya Bi, berapa orang di rumah ini?" tanya Kasih yang belum mengetahui keadaan rumah Satria.


"Ada tiga, Non." Bi Jum menjawab.


Kasih pun memasak untuk empat porsi. "Bi, mau juga?" tanya Kasih yang sedang memotek cabe.


"Gak usah, Non." Bi Jum menggelengkan kepalanya.


"Iya sudah, aku masak empat porsi aja, ya!"


Selesai memasak, Kasih langsung menatanya di meja. Kemudian dia bergegas ke kamar untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.


"Sat, bangun!" Nino membangunkan Satria yang masih tertidur.


Nino mendengar suara dari arah dapur, dan juga mencium aroma masakan.


"Bi Jum sudah masak, cepat bangun lalu mandi abis itu sarapan." Nino menggerak-gerakkan tubuh Satria.


"Kak, aku masih ngantuk." Satria memalingkan wajahnya.


"Hey, kamu harus sebentar lagi ujian kelulusan." Nino menarik tangan Satria.


"Baiklah," ucap Satria dengan nada malas. Dia segera bergegas menuju ke kamarnya. Karena pakaian sekolahnya, masih ada di kamarnya.


Satria berjalan keluar dari kamar Nino, lalu menuju ke arah kamarnya.


Satria bingung, kenapa kamarnya terlihat sangat rapi. Dia tidak mengingat keberadaan Kasih dirumahnya.


Kemudian Satria membuka bajunya, lalu meletakkannya di bak kotor.


Kemudian dia langsung menuju kamar mandi, saat membuka pintu Satria terkejut.


"Ah..." teriak Kasih yang sedang memakai handuknya.


Begitu juga Satria yang juga terkejut melihat keberadaan Kasih di kamar mandi, "Ah..."


"Keluar!" teriak Kasih sambil menutupi dadanya


"Hey, ini kamarku."


"Cepat keluar!" Kasih mendorong Satria keluar dari kamar. Lalu dia menutup pintu dengan keras. "Brak...."


Kasih langsung mengunci pintu kamar. "Huft, untung saja!" Kasih mengusap dadanya.


"Kasih... Aku mau mandi!" teriak Satria yang berada di pintu luar.

__ADS_1


"Tunggu, aku pakai baju dulu," jawab Kasih.


Selang beberapa menit, Kasih pun keluar dari kamar Satria.


__ADS_2